LAMONGAN lintasjatimnews – Pengajian JUMPA (Jumat Pagi) yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Babat kembali berlangsung dengan dihadiri ratusan peserta. Kegiatan bertempat di Masjid At-Taqwa Tanggulrejo, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jumat (24/9/2026).
Hadir sebagai penceramah Ustadz Agastya Harjunadhy, M.Pd., pengajar di MBS IIBS Kediri sekaligus konselor Mental Health & Parenting. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah untuk terlebih dahulu mensyukuri berbagai nikmat Allah Swt. yang telah diberikan dalam kehidupan.
Menurutnya, rasa syukur menjadi fondasi penting bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan. Dengan bersyukur, seseorang tidak hanya melihat apa yang belum dimiliki, tetapi juga mampu menyadari begitu banyak nikmat yang telah diterimanya.
Pengajian JUMPA kali ini mengangkat tema Maqashid Syariah, yakni tujuan-tujuan utama syariat Islam yang pada hakikatnya diarahkan untuk mewujudkan kemaslahatan dan menjaga kehidupan manusia.
Lima Maqashid Syariah
Dalam kajiannya, Ustadz Agastya menjelaskan lima prinsip utama Maqashid Syariah yang dikenal dalam kajian Islam, yaitu Hifzh ad-Din (menjaga agama), Hifzh an-Nafs (menjaga jiwa), Hifzh al-‘Aql (menjaga akal), Hifzh an-Nasl (menjaga keturunan), dan Hifzh al-Mal (menjaga harta).
Lima tujuan tersebut memberikan gambaran bahwa syariat Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt., tetapi juga memberikan perhatian terhadap keselamatan jiwa, kualitas akal, keberlangsungan keluarga dan keturunan, serta perlindungan terhadap harta.
Ustadz Agastya kemudian mengajak jamaah menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, memahami agama tidak cukup hanya pada tataran teori. Nilai agama harus hadir dalam cara seseorang mengelola diri, keluarga, pekerjaan, dan lingkungan sosial.
Ibadah Panjang: Memimpin Diri Sendiri
Salah satu pesan menarik yang disampaikan adalah tentang kepemimpinan. Menurut Ustadz Agastya, ibadah dan kehidupan seorang manusia memiliki proses yang panjang. Karena itu, salah satu bentuk kepemimpinan terpenting adalah memimpin diri sendiri.
Seseorang perlu mampu mengendalikan pikiran, emosi, keinginan, waktu, dan perilakunya. Kemampuan memimpin diri menjadi bekal sebelum seseorang menjalankan tanggung jawab yang lebih besar dalam keluarga maupun masyarakat.
Ia juga menyinggung berbagai aktivitas kehidupan manusia, termasuk menikah dan tidur, sebagai bagian dari perjalanan panjang kehidupan yang membutuhkan kesadaran, pengendalian diri, dan tanggung jawab.
“Pemimpin yang paling dekat dengan kita adalah diri kita sendiri. Sebelum memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri sendiri,” pesan Ustadz Agastya.
Kerusakan Bisa Berawal dari Rumah
Dalam perspektif Mental Health & Parenting, Ustadz Agastya juga mengajak jamaah memperhatikan kehidupan keluarga. Ia menyampaikan ungkapan reflektif bahwa berbagai persoalan kehidupan dapat bermula dari ruang-ruang sederhana di rumah.
“Kerusakan di bumi bisa dimulai dari kasur, meja makan, dan sumur,” ungkapnya.
Kasur dapat dimaknai sebagai ruang kehidupan keluarga dan relasi suami istri. Meja makan menjadi ruang komunikasi serta pendidikan keluarga, sedangkan sumur menggambarkan sumber kehidupan yang harus dijaga.
Pesan tersebut mengajak jamaah untuk tidak memandang persoalan keluarga sebagai sesuatu yang sederhana. Pendidikan anak, komunikasi antara pasangan, pola pengasuhan, hingga kebiasaan dalam rumah tangga memiliki pengaruh terhadap pembentukan karakter generasi.
Menjadi Pemimpin yang Bertanggung Jawab
Ustadz Agastya juga mengajak jamaah untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Setiap orang memiliki amanah yang harus dijalankan, baik sebagai individu, anggota keluarga, maupun bagian dari masyarakat.
Pengajian tersebut berlangsung dalam suasana penuh perhatian dan interaksi. Ratusan peserta mengikuti materi yang disampaikan dengan pendekatan yang menghubungkan nilai-nilai syariah dengan persoalan kehidupan sehari-hari.
Di akhir kegiatan, pengajian JUMPA ditutup dengan bakti sosial pengobatan gratis yang diselenggarakan RSU Muhammadiyah Babat. Kebersamaan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat silaturahmi warga Muhammadiyah dan masyarakat yang hadir di pengajian.
Reporter: Fathurrahim Syuhadi









