PRM Blimbing Gelar Pengajian Umum, Hadirkan Sekretaris PWM Jatim

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Blimbing menggelar Pengajian Umum yang dihadiri ratusan warga Muhammadiyah maupun masyarakat umum, Ahad (6/9/2026) di Aula Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 04 Blimbing. Hadir sebagai pemateri utama, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Prof. Dr. Biyanto.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua PRM Blimbing, Ahmad Fu’ad Walid, M.Pd.I. Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapan utama kegiatan ini adalah untuk meneguhkan kembali komitmen seluruh warga Muhammadiyah, khususnya di lingkungan amal usaha, agar semakin kokoh dalam bermuhammadiyah.

“Saya mengibaratkan Muhammadiyah seperti sebuah tim sepak bola. Dalam satu tim, ada kiper, bek, gelandang, penyerang — masing-masing memegang peran dan tugasnya masing-masing. Tidak ada yang lebih penting dan tidak ada yang tidak penting. Semua harus bersinergi satu sama lain untuk mencetak kemenangan. Begitu pula amal usaha Muhammadiyah — setiap warga adalah pilar pokok kemajuan organisasi. Bagi yang berada di luar amal usaha pun, tetap bisa dan diharapkan memberikan kontribusi bagi kemajuan ‘tim’ kita bersama,” urai Ahmad Fu’ad Walid.

Muhammadiyah: Gerakan Berkemajuan yang Beramal dan Memberi

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Biyanto menegaskan tiga karakter utama Muhammadiyah yang harus selalu dipegang teguh oleh seluruh warganya:

Pertama, Muhammadiyah adalah Islamic Movement — gerakan berkemajuan. Bukan sekadar wadah ibadah pribadi, melainkan gerakan yang bergerak aktif memajukan umat dan bangsa.

Kedua, Muhammadiyah adalah Islam yang suka memberi, tidak suka meminta. Prinsip ini menjadi ciri khas yang membedakan Muhammadiyah — mandiri, tidak bergantung pada bantuan pihak lain, dan senantiasa berbagi kepada yang membutuhkan.

Ketiga, Muhammadiyah adalah organisasi yang suka beramal, tidak suka mengeluh. Keteladanan ini diambil dari pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk amal-amal nyata, bukan sekadar keluhan dan omongan.

“Kyai Dahlan mengajarkan kita: beramal yang kongkret. Bicara sedikit, bekerja banyak. Itulah wajah Muhammadiyah yang sesungguhnya,” tegas Prof. Biyanto.

Jantung Pendidikan adalah Guru

Menyentuh bidang pendidikan yang menjadi salah satu pilar utama Muhammadiyah, Prof. Biyanto menegaskan bahwa jantung dari pendidikan yang berkualitas adalah guru. Oleh karena itu, Muhammadiyah terus berupaya merancang sistem agar guru yang mengabdi di amal usahanya benar-benar berasal dari fakultas keguruan yang kompeten.

Ia juga menyampaikan tiga prinsip utama bagi seluruh pegawai dan pengelola di Amal Usaha Muhammadiyah:

1. Menata niat — Bekerja di amal usaha bukan sekadar mencari nafkah, melainkan ibadah dan investasi akhirat. Niat yang baik akan mengubah setiap pekerjaan menjadi pahala yang berlipat ganda.
2. Semangat meningkatkan kualitas — Selalu belajar dan mengembangkan wawasan. Jangan pernah merasa cukup. Kemajuan dimulai dari diri sendiri.
3. Menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah — Di mana pun berada, berikan kontribusi positif. Jangan menjadi beban yang memberatkan organisasi.

Pesan Inspirasi dari Surat Yusuf: Diaspora dan Hijrah yang Memberi Berkah

Prof. Biyanto kemudian mengangkat pesan mendalam dari Surat Yusuf ayat 67, di mana Nabi Ya’qub berpesan kepada anak-anaknya untuk masuk dari pintu-pintu yang berbeda, bukan dari satu pintu.

“Inilah makna diaspora dan hijrah yang sesungguhnya. Bertebaranlah ke berbagai tempat, berkarya di mana pun berada, dan berikan manfaat seluas-luasnya. Namun ingat — penentuan segala sesuatu hanyalah dari Allah SWT. Kepada-Nya kita bertawakal,” paparnya.

Milad ke-114 Muhammadiyah Akan Dipusatkan di Palu, Sulteng

Di akhir pemaparan, Prof. Biyanto menginformasikan peristiwa bersejarah yang akan datang — pada bulan November 2026, Muhammadiyah akan genap berusia 114 tahun, melampaui satu abad perjuangan. Puncak peringatan Milad ke-114 sekaligus Sidang Tanwir Muhammadiyah akan dilaksanakan di Palu, Sulawesi Tengah.

“Kita memilih Palu bukan tanpa alasan. Di daerah yang minoritas muslim ini, Muhammadiyah justru tumbuh luar biasa besar dan kuat. Semangat berkemajuan di tanah perantauan itulah yang ingin kita rayakan bersama,” ungkapnya disambut tepuk tangan hadirin.

Kegiatan berjalan lancar dan penuh hikmah, ditutup dengan doa bersama agar Muhammadiyah senantiasa menjadi gerakan yang berkah, bermanfaat, dan diridhoi Allah SWT.

Reporter: Alfain Jalaluddin Ramadlan