LAMONGAN LintasJatimNews – Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) di Gedung Dakwah PDM Lamongan, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan strategis yang memetakan arah pengembangan mutu pendidikan ini dipandu langsung oleh Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Lamongan, Drs. Achmad El Hanif, M.M., serta diikuti oleh jajaran kepala sekolah dan madrasah (KS/KM) Muhammadiyah se-Kabupaten Lamongan.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Lamongan, Muhammad Said, S.Pd., M.Pd., dalam sambutan dan refleksinya menekankan pentingnya pergeseran pola pikir sekolah menuju Perencanaan Berbasis Data (PBD) yang bersumber dari Rapor Pendidikan. Menurutnya, pemetaaan data yang akurat menjadi kunci utama dalam meningkatkan nilai mutu satuan pendidikan.
“Jika tren nilai Rapor Pendidikan meningkat secara konsisten, satuan pendidikan berpotensi mendapatkan reward BOS Kinerja. Oleh karena itu, setelah menerima pencerahan hari ini, setiap kepala sekolah/madrasah wajib menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL), Rencana Kerja Tahunan (RKT), serta ARKAS yang dikoordinasikan dalam satu kesatuan RKAS,” tegas Muhammad Said.
Dalam kesempatan tersebut, Said menyampaikan beberapa poin krusial yang menjadi pedoman dan instruksi bagi seluruh sekolah/madrasah Muhammadiyah di Lamongan:
- Pedoman Keuangan: Pengelolaan keuangan sekolah wajib memedomani Peraturan Pedoman Pengelolaan Keuangan Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Jatim dalam menyusun RKAS maupun RAPBS/M.
- Monitoring Berkala: Majelis Dikdasmen tidak hanya akan melaksanakan monitoring saat momen Asesmen, melainkan secara berkelanjutan.
- Pembelajaran Deep Learning & KKA: Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan literasi dan numerasi harus dikawal ketat sesuai standar pedoman.
- Hari Belajar Guru: Program “Hari Belajar Guru” yang dicanangkan Kemendikdasmen hendaknya diimplementasikan sebagai wadah belajar bersama, berkolaborasi, dan berrefleksi—baik secara offline maupun online—guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
- Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat: Seluruh satuan pendidikan wajib mengawal implementasi gerakan karakter ini secara nyata.
- Tagline Sekolah Muhammadiyah: Slogan Sekolah/Muhammadiyah Hijau, Bersih, Unggul, dan Berkemajuan harus dijadikan acuan operasional sekolah.
- Sarasehan & Silaturahim Akbar Guru Muhammadiyah: Berencana digelar pada November 2026. Kegiatan ini menyertakan penganugerahan GTK Purnabakti per tahun 2025/2026. Seluruh sekolah serta guru penerima TPP wajib mendukung pendanaan dan keikutsertaan.
- Penjaminan Mutu & Kurikulum: Penggunaan buku MIPA & MIPAS Bilingual terbitan PP Muhammadiyah dipastikan terimplementasi di seluruh jenjang dan kelas, sedangkan buku ISMUBA wajib mengacu pada terbitan Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur. Selain itu, penguatan MEA dan MFS terus didorong.
- Keorganisasian Kepanduan HW dan Pramuka: Sekolah diminta berkoordinasi dengan baik pihak-pihak terkait dan mampu menjelaskan kedudukan Pandu Hizbul Wathan (HW) dan Pramuka di satuan pendidikan Muhammadiyah kepada pihak luar yang belum paham, termasuk dalam partisipasi kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama. Sepanjang diperkenankan menggunakan seragam HW, sekolah dan Madrasah Muhammadiyah harus berpartisipasi aktif. Tetapi dalam hal pembuatan KTA dan Iuran oraganisasi, murid dan GTK Muhammadiyah tidak terikat dengan kewajiban itu karena sudah mempunyai organisasi tersendiri, yaitu Pandu HW.
Sesi pencerahan utama mengenai Perencanaan Berbasis Data (PBD) Berdasarkan Rapor Pendidikan dan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) disampaikan oleh Jumaidi, S.Pd., M.Pd., Koordinator Pengawas (Korwas) SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan.
Dalam paparannya, Jumaidi mengajak para kepala sekolah mengubah pola pikir lama yang mengandalkan asumsi atau tebak-tebakan dalam menyusun program sekolah.
“Sekolah butuh solusi, bukan ramalan. Data Rapor Pendidikan harus dijadikan cermin refleksi untuk melihat kondisi nyata mutu pendidikan, bukan sekadar nilai akhir murid. Tantangan utama saat ini adalah data banyak tapi sulit dimanfaatkan. Dengan PBD, perencanaan didasarkan pada bukti nyata (evidence-based) untuk memperbaiki kualitas ekosistem secara menyeluruh mulai dari input, proses, hingga output,” jelas Jumaidi.
Jumaidi membedah siklus Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang meliputi 5 tahapan utama: Memetakan, Merencanakan, Melaksanakan, Mengevaluasi, dan Mengendalikan. Melalui instrumen Rapor Pendidikan, sekolah diajak menelusuri indikator prioritas (literasi, numerasi, karakter, iklim keamanan, dan iklim kebinekaan) hingga menemukan akar masalah utama di Level 1 dan Level 2.
Peserta Rakor tampak sangat antusias mengikuti setiap tahap paparan. Di akhir paparannnya peserta diberi tugas untuk Menyusun RTL menyusun instrumen identifikasi, refleksi (LK-1, LK-2), hingga Rencana Kerja Sekolah (LK-3/RKAS) yang terintegrasi dengan ARKAS.
Rakor ini diharapkan mampu mendorong seluruh sekolah/madrasah Muhammadiyah di Kabupaten Lamongan untuk membangun budaya mutu secara berkelanjutan dan bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang unggul dan berkemajuan.
Kontributor: M. Said









