ARTSUBS Besar, Menjawab Tantangan Kota Surabaya yang Juga Besar

Listen to this article

LSURABAYA lintajatimnews – Pameran seni rupa kontemporer ARTSUBS kali ini memang besar, karena ingin menjawab tantangan kota Surabaya yang juga besar.

Sekitar 500 karya dari 113 seniman, termasuk tujuh peserta kolektif, hadir dalam perhelatan ini. Skala tersebut bukan sekadar untuk menunjukkan besarnya sebuah pameran, melainkan mencerminkan kebutuhan sebuah kota besar terhadap ruang kebudayaan yang mampu mempertemukan seni, masyarakat, dan berbagai bidang kehidupan.

Salah satu kurator, Nirwan Dewanto mengatakan hal itu dalam pembukaan ARTSUBS di halaman Balai Pemuda, Sabtu sore (19/9). Acara ini dilaksanakan selama 7 minggu, mulai 19 September hingga 8 November mendatang.

Menurut kurator kelahiran kampung Gubeng ini, Surabaya merupakan kota dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di Indonesia. Di dalamnya terdapat banyak potensi ekonomi sekaligus potensi budaya yang masih perlu terus dikembangkan.

Karena itu, penyelenggaraan ARTSUBS bukan sekadar menghadirkan tontonan seni, tetapi juga memberikan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat kota besar: yaitu ruang untuk mengalami, menikmati, sekaligus memikirkan kembali kehidupan melalui kebudayaan.

Dikatakan, kota sebesar Surabaya membutuhkan museum dan ruang kebudayaan yang memadai. Di tengah derasnya budaya massa, perkembangan teknologi informasi, dan dinamika politik yang begitu cepat, masyarakat membutuhkan ruang publik yang dapat menjadi tempat untuk berhenti sejenak, melakukan refleksi, dan memperoleh keseimbangan. Masyarakat yang beradab membutuhkan ruang semacam itu.

Terkait dengan museum, ARTSUBS juga menghadirkan museum alternatif yang digagas oleh kelompok seniman yang menamakan diri Kantor Bersama Urusan Seni Rupa (KBUSR), yang merupakan ruang bersama bagi para seniman untuk mengembangkan praktik seni, mengarsipkan karya dan gagasan, serta memperluas hubungan antara seniman, karya seni, dan publik.

Kehadiran KBUSR di ARTSUBS menunjukkan bahwa museum tidak selalu harus hadir dalam bentuk institusi formal, tetapi dapat tumbuh dari inisiatif komunitas seni dan menjadi ruang alternatif bagi publik untuk mengenal, mengalami, dan memahami perkembangan seni rupa.

Kita juga membutuhkan hiburan yang baik, kata alumnus ITB yang besar di Banyuwangi dan Jember ini, yakni hiburan yang tidak hanya menyenangkan, tetapi sekaligus memberikan asupan emosional dan intelektual. Seni kontemporer dalam konteks ini bukanlah kesenian yang asing atau harus selalu dipahami sebagai sesuatu yang rumit. Seni kontemporer pada dasarnya dapat menjadi pengalaman yang menghibur, sekaligus membantu menjaga kepekaan pancaindra dan daya pikir kita di tengah kehidupan digital dan era informasi yang semakin deras.

ARTSUBS menghadirkan karya-karya eksperimental, tetapi tidak berarti seluruh karya yang ditampilkan harus berada di luar batas-batas konvensional. Ada karya yang sangat eksperimental, tetapi ada pula karya yang secara bentuk masih dekat dengan pemahaman seni yang umum. Justru keberagaman itulah yang penting, karena publik diberikan kesempatan untuk berhadapan dengan berbagai cara seniman melihat dan menerjemahkan dunia.

Yang dipamerkan di ARTSUBS juga bukan semata-mata lukisan atau karya seni rupa dalam pengertian konvensional. Di dalamnya terdapat berbagai unsur dan pendekatan lain. Ada karya yang bersifat interaktif, ada instalasi, bahkan ada arsitek yang menghadirkan gagasan melalui karya instalasi. Dengan demikian, yang dibangun bukan hanya jejaring seni rupa, melainkan jejaring kebudayaan yang lebih luas.

Ditambahkan oleh Asmujo, kurator lainnya, salah satu persoalan penting yang perlu kita pikirkan bersama adalah bagaimana sebuah kota besar memanfaatkan bangunan dan ruang yang dimilikinya untuk kepentingan kebudayaan. Di banyak negara maju, gedung-gedung yang baik tidak semata-mata dipandang sebagai bangunan fisik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai museum dan ruang kebudayaan.

Surabaya memiliki perguruan tinggi dan lembaga pendidikan seni seperti STKW dan Unesa, tetapi ekosistem seni itu membutuhkan rumah kebudayaan yang lebih memadai agar kehidupan seni tidak berhenti di ruang akademik.

Direktur Artsubs, Rambat, menyampaikan terimasih kepada Pemkot Surabaya atas dukungannya, terutama pemanfaatan Balai Pemuda sebagai ruang pameran. Juga terima kasih kepada semua seniman yang mendukung acara ini.

Sedangkan Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Walikota Surabaya: Sukma Kurniawati, atas nama Pemkot memberi apresiasi atas penyelengaraan pameran ini. Diharapkan masyarakat Surabaya dapat menikmati dan menghayati karya-kara yang disajikan. Tidak cukup sehari untuk menyaksikan semuanya.

”Mari beramai-ramai menikmatinya, semoga tahun berikutnya bisa lebih bagus lagi,” ujarnya.

Pembukaan Artsubs lantas dilakukan dengan pengguntingan pita yang dilakukan secara bersama-sama oleh Asmujo Irianto, Nirwan Dewanto, Rambat, Sukma Kurniawati, Aris Utama (board advisory Artsubs) dan istrinya, selebritas Olga Lydia.

Reporter: ahmadh