Suku Dayak Lundayeh dan Desa Pulau Sapi -
Suku Dayak Lundayeh dan Desa Pulau Sapi

Suku Dayak Lundayeh dan Desa Pulau Sapi

MALINAU lintasjatimnews – Suku Dayak merupakan salah satu kelompok suku asli terbesar dan tertua yang mendiami Pulau Kalimantan. Suku yang tersebar di berbagai daerah ini masih bisa dijumpai oleh wisatawan, seperti halnya Suku Dayak yang ada di desa wisata satu ini.

Ialah Desa Pulau Sapi, desa wisata yang terletak di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, ini dikenal dengan adat dan budayanya yang sangat kental.

Desa wisata berbasis budaya ini mengedepankan potensi seni yang dimiliki, seiring dengan diadakannya festival budaya setiap tahunnya.

Tak hanya itu, hal menarik lainnya adalah desa wisata ini juga menjadi rumah dari Suku Dayak Lundayeh.

Suku Dayak Lundayeh adalah suku yang mendiami dataran tinggi di perbatasan timur Indonesia, tepatnya kawasan Pegunngan Apo Duat yang berada di ketinggian 1.000 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Suku tersebut diperkirakan memilik populasi sekitar 24.000 jiwa.

Selain kekayaan budayanya, Desa Pulau Sapi juga memiliki kekayaan alam lain, seperti Sungai Gita Merengang yang berada di bawah kaki pegunungan Mentarang Baru.

Jika ingin menyusuri sungai yang arus airnya deras ini sebaiknya menggunakan perahu long boat. Di sini, wisatawan dapat menikmati pertunjukan Tari Riberu Bulan, salah satu tari etnik yang biasa diperlihatkan saat menerima tamu besar.

Kemudian ada Tari Arang Farisenang Arang Sisid yang menggambarkan suka cita, dan rasa syukur atas berkah yang berlimpah.

Tak hanya itu, hal menarik lainnya adalah desa wisata ini juga menjadi rumah dari Suku Dayak Lundayeh.

Suku Dayak Lundayeh adalah suku yang mendiami dataran tinggi di perbatasan timur Indonesia, tepatnya kawasan Pegunngan Apo Duat yang berada di ketinggian 1.000 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Suku tersebut diperkirakan memilik populasi sekitar 24.000 jiwa.

Jika ingin menyusuri sungai yang arus airnya deras ini sebaiknya menggunakan perahu long boat. Di sini, wisatawan dapat menikmati pertunjukan Tari Riberu Bulan, salah satu tari etnik yang biasa diperlihatkan saat menerima tamu besar.

Kemudian ada Tari Arang Farisenang Arang Sisid yang menggambarkan suka cita, dan rasa syukur atas berkah yang berlimpah.

Tak hanya itu, Desa Wisata Pulau Sapi juga memiliki potensi ekonomi kreatif yang menarik bagi wisatawan. Hal itu dibuktikan dengan buah tangan atau oleh-oleh yang bisa dibawa pulang wisatawan.

Beberapa pilihan buah tangan yang bisa dibawa pulang di antaranya kain batik motif etnik, tas rotan, topi kulit kayu, kalung dan gelang manik. Sedangkan kulinernya adalah Luba Laya (Nasi Lemak), Luba Tara (nasi keras), Biter (sup), None (Lemang), Teluk Lawid (ikan di fregmentasi), Ruti (kue tradisional), dan Kikid (sayuran).

Untuk menuju Desa Wisata Pulau Sapi harus menempuh jarak 16,8 kilometer atau 30 menit dari Bandara Robert Atty Bessing, Malinau.

Direktur Tata Kelola Destinasi Kemenparekraf, Indra Ni Tua, mengatakan Desa Pulau Sapi merupakan salah satu dari 50 desa wisata terbaik ADWI 2022. Sebagai salah satu desa wisata terbaik, Desa Pulo Sapi seharusnya dikunjungi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno. Namun, Sandiaga berhalangan hadir.

Dalam kunjungannya ke desa tersebut, Indra Ni Tua, beserta rombongan bertemu dengan tetua adat dan mengikuti prosesi penyambutan secara adat di dekat patung Buaya.

Selanjutnya, rombongan menyaksikan tari sambutan, yaitu Tari Riberu Bulan. Dilanjut bertemu jajaran pemerintahan setempat untuk mendengarkan bersama paparan tentang potensi desa wisata tersebut.

Indra menjelaskan, hingga 2019 pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar kedua di Indonesia, sebelum akhirnya jatuh sampai paling bawah akibat pandemi.

Untuk menaikkan peran pariwisata terhadap kesejahteraan masyarakat, dibuatlah program ADWI. Program ini berbasis komunitas, di mana yang melakukan masyarakat dan yang merasakan manfaatnya juga masyarakat.

Tidak hanya manfaat ekonomi, tapi juga mempertahankan sosial budaya dan alamnya juga tetap terjaga. Karena itu, partisipasi semua penggerak desa wisata diperlukan, agar ADWI semakin besar tahun depan,” jelas Indra.

Sementara itu, Wakil Bupati Malinau, Jakaria, menyatakan berbangga memiliki wilayah yang luas dan kebanggaan Indonesia, karena paru-paru dunia ada di Malinau, dan memiliki hutan konservasi yang asri, serta pohon terbesar di Malinau.

“Kami mengapresiasi Kemenparekraf yang sudah jauh-jauh ke perbatasan dan pedalaman ini,” kata Jakaria.

Reporter Belly Sabara

Spread the love