LAMONGAN lintasjatimnews – Setiap tanggal 28 April, nama Chairil Anwar kembali mengemuka dalam berbagai forum akademik. Diskusi sastra, pembacaan puisi, hingga kajian kritis ramai digelar di lingkungan kampus, khususnya di fakultas bahasa dan sastra. Namun, gaung peringatan tersebut kerap terasa terbatas dan kurang menyentuh lingkungan sekolah dasar maupun menengah.
Menurut M. Said, M.Pd., Peminat Sastra Indonesia dan alumni Fakultas Bahasa dan Sastra IKIP Negeri Surabaya (Unesa), fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam cara sastra diposisikan di dunia pendidikan. “Peringatan Chairil Anwar seolah menjadi milik kalangan akademisi saja, padahal nilai-nilai yang dibawanya sangat relevan untuk semua jenjang pendidikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan peringatan tokoh sastra seperti Chairil Anwar terjebak dalam lingkar kampus. Salah satunya adalah persepsi bahwa sastra merupakan bidang yang berat dan eksklusif.
“Sastra sering dianggap penuh analisis dan hanya cocok untuk kalangan tertentu. Akibatnya, siswa tidak melihat Chairil sebagai sosok inspiratif, melainkan sekadar objek kajian,” jelas Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Lamongan ini
Selain itu, pendekatan pembelajaran di sekolah yang masih cenderung normatif juga menjadi kendala. Karya-karya Chairil Anwar lebih sering diajarkan sebagai materi ujian, bukan sebagai pengalaman batin yang hidup.
“Siswa hanya diminta memahami tema atau gaya bahasa, tanpa diajak merasakan kegelisahan dan keberanian yang menjadi ruh puisinya,” tambah pengagum karya Chairil Anwar ini
Minimnya budaya literasi yang aktif di sekolah turut memperparah kondisi tersebut. Literasi sering kali masih bersifat administratif, belum menjadi gerakan kultural yang mendorong siswa untuk membaca, menulis, dan berekspresi secara alami.
Padahal, menurut M. Said, justru di jenjang pendidikan dasar dan menengah, semangat Chairil Anwar sangat penting ditanamkan. Nilai-nilai seperti keberanian berpikir mandiri, kejujuran dalam berekspresi, serta semangat berkarya dalam keterbatasan dinilai sangat relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.
“Jika siswa dikenalkan pada semangat itu sejak dini, literasi tidak lagi menjadi kewajiban, tetapi menjadi cara hidup,” tegas Kepala Sekolah di SMP Negeri 1 Pucuk ini
Ia juga menekankan bahwa peringatan Chairil Anwar di sekolah tidak harus dilakukan secara seremonial. Pendekatan yang kontekstual dan kreatif justru lebih efektif. Misalnya dengan membumikan puisi melalui pembacaan yang reflektif, menyediakan ruang ekspresi kreatif seperti lomba puisi atau musikalisasi, serta mengintegrasikannya dalam program literasi sekolah.
Di era digital, pemanfaatan teknologi juga menjadi peluang besar. Siswa dapat mengekspresikan karya mereka melalui media sosial, blog, atau platform digital lainnya. “Teknologi bukan ancaman, tetapi sarana untuk memperluas jangkauan literasi,” ungkap Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Lamongan ini
Lebih jauh, ia menilai bahwa semangat Chairil Anwar adalah semangat “api” yang harus terus dinyalakan. Api keberanian, kebebasan, dan kejujuran itu tidak boleh hanya hidup di ruang akademik, tetapi harus hadir di ruang-ruang kelas.
Dengan demikian, peringatan Chairil Anwar di sekolah bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari gerakan literasi yang lebih luas—membentuk generasi yang kritis, jujur, dan berani menulis masa depan mereka sendiri.
“Kalau sekolah mampu menghidupkan peringatan ini secara bermakna, maka kita tidak hanya mengenang seorang penyair, tetapi juga menanam benih keberanian intelektual pada generasi muda,” pungkasnya.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









