LAMONGAN lintasjatimnews — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 diprediksi berlangsung meriah di berbagai sekolah di Indonesia. Mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, beragam kegiatan seperti upacara, lomba guru dan siswa, hingga pentas seni digelar untuk menyemarakkan momentum tahunan tersebut.
Kepala SMA Muhammadiyah 1 Babat, Agus Al Chusairi, M.Pd., mengingatkan bahwa kemeriahan seremonial tidak boleh mengaburkan substansi. Menurutnya, Hardiknas seharusnya menjadi titik awal gerakan bersama, bukan sekadar agenda tahunan.
“Setelah 2 Mei berlalu, pertanyaannya sederhana: siapa yang benar-benar bergerak untuk pendidikan?” ujar lulusan Magister Pendidikan UMM ini
Agus menilai, konsep partisipasi semesta selama ini kerap disalahpahami. Banyak pihak menganggapnya sebatas kontribusi finansial seperti iuran komite atau program CSR. Padahal, jauh sebelumnya, Ki Hajar Dewantara telah menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dengan prinsip “setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”
“Ini bukan sekadar slogan. Ini mandat moral bahwa pendidikan tidak bisa diserahkan hanya kepada sekolah,” tegas pengurus MKKS SMA Swasta Lamongan ini
Ia juga menyoroti capaian pendidikan nasional yang menunjukkan tren positif, namun belum merata. Berdasarkan Rapor Pendidikan 2025, kompetensi literasi mencapai 70,03 persen dan numerasi 67,94 persen pada 2024. Meski demikian, data Programme for International Student Assessment 2022 menunjukkan bahwa skor literasi membaca Indonesia masih mengalami penurunan dibandingkan 2018.
“Artinya, sistem kita cukup tangguh menghadapi krisis seperti pandemi, tetapi belum mampu memastikan pemerataan kualitas pendidikan,” jelas Pengurus Foskam Jawa Timur ini
Ketimpangan tersebut, lanjut Agus, masih sangat terasa terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) yang menghadapi keterbatasan guru, sarana, dan akses pembelajaran. Kondisi ini membuat cita-cita “pendidikan bermutu untuk semua” belum sepenuhnya terwujud.
Untuk itu, ia menegaskan bahwa partisipasi semesta harus diwujudkan dalam langkah konkret.
Pertama, dari sisi anggaran. Pemerintah telah mengalokasikan 20 persen APBN untuk pendidikan, dengan total Rp724,3 triliun pada 2025. Namun, Agus menekankan pentingnya pengawasan dan transparansi dalam penggunaan anggaran tersebut.
“Anggaran besar tidak berarti apa-apa jika tidak tepat sasaran. Semua pihak harus ikut mengawal, agar benar-benar menyentuh kebutuhan sekolah,” kata lelaki kelahiran 1979 ini
Ia juga menyinggung pentingnya peningkatan kualitas di sekolah swasta. Menurutnya, yayasan tidak boleh hanya berorientasi pada jumlah siswa, tetapi juga harus serius membangun mutu pendidikan.
Kedua, peran industri dan masyarakat. Agus menilai dunia usaha perlu terlibat lebih aktif, tidak hanya melalui program magang, tetapi juga menghadirkan praktisi sebagai guru tamu dan mendukung inovasi pembelajaran.
“Orang tua juga tidak boleh lepas tangan. Rumah harus menjadi ruang belajar yang hidup,” ujar anggota MPK SDI PDM Lamongan ini
Ia bahkan mendorong pemanfaatan ruang publik seperti tempat ibadah, balai desa, dan fasilitas umum lainnya sebagai pusat pembelajaran komunitas. Menurutnya, konsep ini sejalan dengan gagasan pendidikan berbasis masyarakat yang inklusif.
Ketiga, keberanian untuk terbuka dan mengukur. Agus mengapresiasi program Bulan Pendidikan Nasional, namun menilai transparansi menjadi kunci utama keberhasilan partisipasi semesta.
“Daerah harus berani membuka rapor pendidikan secara jujur. Dari situ, semua pihak bisa duduk bersama mencari solusi,” ungkap pria yang tinggal di kabupaten Bojonegoro ini
Lebih lanjut, Agus berharap Hardiknas 2026 tidak berhenti pada seremoni. Ia menginginkan adanya tindak lanjut nyata dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat.
“Hardiknas harus menjadi titik awal. Setelah itu harus ada aksi nyata, bukan sekadar wacana,” tegasnya.
Ia menutup dengan mengingatkan kembali tujuan utama pendidikan sebagaimana diajarkan Ki Hajar Dewantara, yakni memerdekakan manusia.
Menurutnya, tujuan tersebut hanya bisa tercapai jika seluruh elemen bangsa benar-benar terlibat aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Pertanyaannya sekarang, kita sudah ikut mendidik atau baru sekadar ikut upacara?” pungkasnya.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









