MALANG, LintasJatimNews – Program Pascasarjana Program Studi (Prodi) Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur serta Penerbit Erlangga sukses menggelar Seminar Nasional bertajuk “Inovasi Literasi Akademik bagi Pendidikan Inklusi Muhammadiyah di Era Digital”. Acara ini berlangsung khidmat di kampus UMM pada Sabtu (23/5/2026).
Seminar nasional ini dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari para akademisi, praktisi pendidikan, mahasiswa, serta jajaran Ketua dan Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Timur.
Para ahli pendidikan sebagai narasumber dalam seminar ini di antaranya:
- Moch. Abduh, MS.Ed., Ph.D., Staf Ahli Kemendikdasmen RI Bidang Teknologi Pendidikan, sebagai pembicara kunci, menggantikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, yang berhalangan hadir
- Prof. Dr. Khozin, M.Si. memaparkan Materi 1: Arah Kebijakan dan Program Penguatan Layanan Pendidikan Inklusif yang Berkualitas di Lingkungan Dikdasmen Wilayah Jatim
- Prof. Ni’matuzahroh. S.Psi., M.Si., Ph.D., memaparkan Materi 2: Sistem layanan digital berbasis ekosistem Muhammadiyah terpadu
- Dr. Suharsiwi, S.Pd., M.Pd., memaparkan Materi 3: Membangun Ekosistem Pendidikan Inklusi Melalui Kolaborasi Guru Dan Orang
Prof. Dr. Khozin, M.Si. selaku Direktur Pascasarjana UMM sekaligus Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim. Dalam paparannya, beliau membedah urgensi transformasi mutu pendidikan melalui materi berjudul “Cetak Biru Ekosistem Empati: Dikdasmen-PNF Jawa Timur”.
Pergeseran Paradigma: Inklusi Bukan Lagi Sekadar Formalitas
Dalam presentasinya, Prof. Khozin menegaskan bahwa gerakan pendidikan Muhammadiyah sejak awal membawa misi teologis pembebasan. Di era modern saat ini, tantangan tersebut bergeser pada penciptaan ekosistem belajar yang berkeadilan, aman, humanis, dan akomodatif terhadap diversitas.
“Inklusivitas dan anti-bullying bukan lagi sekadar program pelengkap atau formalitas administratif. Keduanya telah bermutasi menjadi Indikator Kinerja Utama yang bersifat multiplikatif, yang menentukan kelayakan mutlak sebuah sekolah untuk menyandang predikat Sekolah Unggul atau Muhammadiyah Future School (MFS),” ujar Prof. Khozin tegas.
Beliau memaparkan matriks transformasi paradigma MFS, di mana sekolah harus bermigrasi dari paradigma lama yang hanya fokus pada kelengkapan dokumen semata, memandang siswa difabel sebagai beban, dan menangani perundungan (bullying) secara reaktif.
Pada paradigma baru MFS, fokus utama dialihkan pada well-being dan ekosistem budaya sekolah, menempatkan inklusi sebagai hak asasi, menerapkan kebijakan zero-tolerance terhadap bullying, serta mengintegrasikan diferensiasi pedagogis secara penuh dalam kurikulum.
Tiga Pilar Kebijakan Inklusi MFS
Untuk mewujudkan ekosistem empati tersebut, Majelis Dikdasmen-PNF PWM Jatim bertumpu pada instrumen Muhammadiyah Future School (MFS) yang memiliki 95 indikator mutu, di mana 6 indikator di antaranya menjadi instrumen inti yang relevan dengan penguatan pendidikan inklusi.
Secara garis besar, implementasi ini dijabarkan ke dalam Tiga Pilar Kebijakan Inklusi MFS:
Pilar 1: Aksesibilitas Arsitektural & Fisik (Indikator MFS 11) Sekolah diwajibkan menyediakan sarana prasarana yang ramah difabel di semua ruang, seperti ramp (jalur landai) untuk mobilitas kursi roda, toilet khusus disabilitas yang memenuhi standar ruang gerak, serta penataan kelas yang ergonomis untuk seluruh siswa.
Pilar 2: Ekosistem Sekolah Ramah Anak (Indikator MFS 46, 49, 83)
Pilar ini menekankan inklusi administratif yang menjamin hak asasi anak untuk diterima tanpa diskriminasi, komitmen zero-tolerance terhadap perundungan dan pelecehan seksual yang didukung pengawasan (CCTV), serta manajemen konflik siswa yang ditangani secara profesional, tuntas, dan persuasif.
Pilar 3: Diferensiasi Pedagogis / Holistic Education (Indikator MFS 71 & 72) Optimalisasi potensi utuh siswa melalui identifikasi modalitas dan kecerdasan majemuk (deteksi minat bakat), metode pengajaran adaptif (pendekatan fasilitator dan tutorial), serta asesmen yang beragam seperti penilaian portofolio, produk, proyek, dan sikap.
Sistem Operasional “GembiraMu” dan Kolaborasi Multipihak
Sebagai langkah konkret di lapangan, diperkenalkan Gerakan GembiraMu (Gerakan Pendidikan Inklusi untuk Generasi Emas Muhammadiyah). Gerakan ini merupakan komitmen sistemik dan kolaboratif agar pendidikan di Jawa Timur berjalan secara menggembirakan, adil, dan responsif terhadap kebutuhan lapangan.
Sistem operasional GembiraMu berjalan secara siklikal dan berkelanjutan melalui empat tahapan utama:
- Pemetaan Data: Memetakan populasi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan ketersediaan layanan agar presisi.
- Adaptasi Kurikulum:
Menyusun modul pendidikan inklusi berjenjang (dasar, lanjut, mahir). - Penguatan Kapasitas (TOT): Pelatihan konsisten untuk guru, kepala sekolah, dan fasilitator.
- Platform Jejaring: Memanfaatkan media edukasi digital dan kolaborasi antar-sekolah.
Prof. Khozin juga menggarisbawahi bahwa ekosistem ini tidak dapat berdiri sendiri. Sekolah Muhammadiyah harus diperkuat oleh jaringan kolaborasi yang solid, mulai dari kebijakan Majelis Dikdasmen & PNF, dukungan komunitas ‘Aisyiyah & Organisasi Otonom, riset dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), keberlanjutan finansial dari orang tua & donatur, hingga kemitraan strategis internasional seperti INOVASI Australia-Indonesia.
Rekomendasi Kebijakan ke Depan
Menutup pemaparannya, Prof. Khozin memberikan tiga rekomendasi kebijakan strategis yang mendesak untuk segera diimplementasikan oleh seluruh PDM se-Jawa Timur:
- Pelatihan Asesor Internal:
Menyiapkan asesor internal di tingkat daerah untuk mengawal implementasi instrumen MFS secara konsisten. - Buku Pedoman Teknis:
Menerapkan pedoman teknis kurikulum inklusi khusus sebagai panduan operasional di lapangan. - Sinergi Lembaga Profesional: Membangun kemitraan dengan lembaga nirlaba dan psikolog profesional untuk mitigasi bullying serta penanganan ABK.
Melalui cetak biru ekosistem empati ini, Dikdasmen-PNF PWM Jatim optimis dapat melahirkan Generasi Emas Muhammadiyah yang memiliki empat karakteristik utama:
1. Tangguh (mental dan kemandirian),
2. Cerdas (menghargai kecerdasan majemuk),
3. Humanis (memiliki empati dan menghargai diversitas), serta 4. Berkemajuan (digerakkan oleh nilai Risalah Islam Berkemajuan).
“Instrumen MFS bukan sekadar alat ukur—ia adalah manifesto komitmen kita. Sekolah yang unggul secara akademis wajib berbanding lurus dengan keunggulan moralitas perlindungan anak dan keadilan aksesibilitas. Mari bersama membangun ekosistem pendidikan yang menggembirakan, mandiri, dan inklusi,” pungkas Prof. Khozin.
Kontributor: M. Said









