LAMONGAN lintasjatimnews – Semangat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum penting untuk kembali meneguhkan arah pendidikan nasional. Tema “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” dinilai relevan dengan warisan pemikiran dua tokoh besar bangsa, yakni Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara, yang hingga kini menjadi fondasi dalam membangun sistem pendidikan Indonesia.
Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PDM Lamongan, M. Said, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan gerakan pembebasan dan pencerahan manusia.
“Dahlan dan Dewantara memberikan arah yang sama, meski berangkat dari latar berbeda. Keduanya menempatkan pendidikan sebagai jalan memanusiakan manusia,” ujar Said.
Menurutnya, Ahmad Dahlan membawa semangat pembaruan dengan menghapus dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Sementara Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya kemerdekaan batin, budaya, dan karakter bangsa melalui pendidikan.
“Sinergi nilai ini menjadi fondasi kuat bagi pendidikan nasional hari ini, yaitu perpaduan antara religiusitas, intelektualitas, dan humanisme kebangsaan,” tambah Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Lamongan ini
Lebih lanjut, Said menilai bahwa tema Hardiknas tahun ini mengandung pesan kuat tentang pentingnya keterlibatan semua pihak dalam pendidikan. Ia menyebut konsep “partisipasi semesta” sebagai bentuk tanggung jawab kolektif, bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat luas.
“Sejak awal, Muhammadiyah sudah mempraktikkan partisipasi semesta ini. Pendidikan tidak boleh bergantung pada satu pihak saja, melainkan menjadi gerakan bersama,” jelas Kepala SMP Negeri 1 Pucuk ini
Di Lamongan, implementasi konsep tersebut terlihat nyata. Said menyebutkan bahwa Muhammadiyah telah mengelola 213 satuan pendidikan yang tersebar di berbagai jenjang. Mulai dari pendidikan dasar hingga menengah, semua dikelola secara profesional sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Di Lamongan ada 105 MI dan 15 SD, kemudian 29 SMP, 29 MTs, 11 SMA, 11 MA, serta 13 SMK. Ini menunjukkan bahwa kekuatan pendidikan Muhammadiyah bertumpu pada keberagaman dan tata kelola yang baik,” ungkap mantan Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Lamongan ini.
Ia menambahkan, visi pendidikan Muhammadiyah saat ini berfokus pada pengembangan holistik-integratif. Artinya, pendidikan tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga pembentukan karakter dan spiritualitas.
“Pendidikan unggul bukan sekadar nilai akademik tinggi, tapi juga unggul dalam akhlak, inovasi, dan tata kelola,” tegas pria yang beberapa kali study tiru pendidikan di Malaysia, Singapura dan Tailand
Untuk mewujudkan pendidikan yang berdaya saing sekaligus berakar pada nilai Al-Islam, Said memaparkan sejumlah strategi praktis. Salah satunya adalah integrasi kurikulum yang menghapus sekat antara ilmu agama dan sains.
“Dalam pelajaran IPA, siswa bisa diajak memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Sebaliknya, dalam pelajaran agama, siswa juga diajak melakukan eksperimen. Ini menciptakan kesatuan ilmu,” jelas aktifis IPM era 1990 an ini
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penerapan nilai sosial melalui proyek nyata di masyarakat. Menurutnya, pembelajaran tidak cukup berhenti di ruang kelas, tetapi harus menyentuh realitas sosial.
“Nilai Al-Ma’un harus hidup. Siswa perlu terlibat dalam proyek sosial untuk menyelesaikan masalah di lingkungan mereka,” kata alumni pesantren Al Khoiriyah ini
Di era digital, Said juga menyoroti pentingnya tata kelola berbasis teknologi. Transparansi dan akuntabilitas, menurutnya, menjadi kunci dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan.
“Sekolah harus memanfaatkan sistem digital, mulai dari absensi, penilaian, hingga laporan keuangan. Ini bagian dari good governance,” ujar alumni IKIP Surabaya ini
Peran guru pun, lanjut Said, harus mengalami transformasi. Guru tidak lagi sekadar pengajar, tetapi menjadi pamong dan teladan sebagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara.
“Guru harus berkemajuan, menguasai teknologi, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat,” imbuhnya.
Tak kalah penting, pendidikan juga harus mampu mengakomodasi potensi unik setiap siswa. Ia mendorong penggunaan sistem portofolio sebagai bentuk penilaian yang lebih komprehensif.
“Keberhasilan siswa tidak hanya diukur dari angka rapor, tetapi dari karya dan potensi yang mereka kembangkan,” ungkap pria yang tinggal di kecamatan Maduran ini
Lulusan Magister Pendidikan ini juga menegaskan bahwa cita-cita pendidikan bermutu untuk semua hanya bisa terwujud jika seluruh elemen bangsa bersatu dalam semangat kolektif.
“K.H. Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara sudah meletakkan dasar. Tugas kita hari ini adalah memastikan pendidikan tetap inklusif, relevan, dan berkemajuan,” pungkasnya.
Dengan semangat tersebut, pendidikan tidak hanya melahirkan lulusan siap kerja, tetapi juga manusia seutuhnya—yang beriman, berilmu, dan mampu memberi manfaat bagi sesama.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









