Mimpi Anak Petani : Kisah Perjalanan dari Dukuh Pengasinan ke Puncak Akademik

Listen to this article

BOGOR lintasjatimnews – Di sebuah pedukuhan kecil bernama Dukuh Pengasinan, Desa Maribaya, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, kehidupan berjalan sederhana di tengah hamparan sawah yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Di tempat itulah pasangan Sugri dan Siyuningsih membangun keluarga dengan penuh kesabaran dan ketulusan.

Sebagai keluarga petani, kehidupan mereka jauh dari kemewahan. Penghasilan yang bergantung pada musim membuat mereka harus hidup hemat dan penuh perjuangan. Namun, di balik keterbatasan itu, keduanya memiliki kekayaan nilai yang sangat berharga: kerja keras, kejujuran, tanggung jawab, dan keikhlasan.

Nilai-nilai tersebut ditanamkan kepada delapan anak mereka, yaitu Mochammad Riyanto, Reni Yuliana, Edi Sumarno, Ari Sartika, Nur Octaviana, Nur Octaviani, M. Alim Akbar Saputra, dan Hani Indri Alisha. Dari keluarga sederhana itu lahir seorang sosok inspiratif bernama Mochammad Riyanto, atau yang akrab dipanggil Mas Toto.

Sejak kecil, Mas Toto telah terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Masa kecilnya tidak dipenuhi mainan mahal atau fasilitas mewah seperti anak-anak kota. Kehidupan desa mengajarkannya arti tanggung jawab sejak dini. Sepulang sekolah, ia tidak langsung bermain bersama teman-temannya. Ia justru membantu orang tua mencari rumput untuk pakan kambing.

Dengan sabit di tangan, Mas Toto berjalan menyusuri pematang sawah dan kebun di bawah panas matahari. Aktivitas “ngarit” itu menjadi rutinitas sehari-hari hingga masyarakat sekitar mengenalnya dengan julukan “kang ngarit”. Julukan tersebut tidak pernah membuatnya malu. Baginya, membantu orang tua adalah bentuk pengabdian dan tanggung jawab sebagai anak sulung.

Tangan yang kasar karena bekerja dan kulit yang menggelap akibat sengatan matahari menjadi saksi perjuangan seorang anak desa yang menyimpan mimpi besar. Di balik kesederhanaannya, Mas Toto memiliki keyakinan kuat bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan. Ia sadar bahwa keluarganya tidak memiliki banyak harta, tetapi ia percaya ilmu pengetahuan dapat menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih baik.

Dalam kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, Mas Toto tetap menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Ia memahami bahwa keberhasilan tidak datang begitu saja. Semua harus diperjuangkan dengan ketekunan dan pengorbanan. Karena itu, setiap kesempatan belajar selalu ia manfaatkan dengan sungguh-sungguh.

Kerja kerasnya mulai menunjukkan hasil ketika ia diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pada bidang perikanan. Kabar tersebut menjadi kebanggaan besar bagi keluarga di Dukuh Pengasinan. Anak petani yang sehari-hari mencari rumput kini berhasil melangkah ke salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Bagi Sugri dan Siyuningsih, pencapaian itu terasa seperti mimpi. Mereka mungkin tidak pernah membayangkan anaknya bisa duduk di bangku kuliah ternama. Namun, Mas Toto membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.

Meski telah menjadi mahasiswa, Mas Toto tetap hidup sederhana. Ia tidak pernah melupakan asal-usulnya sebagai anak desa. Kehidupan kampus dijalaninya dengan penuh tanggung jawab dan kedisiplinan. Baginya, kuliah bukan sekadar mengejar gelar, tetapi amanah untuk membahagiakan orang tua dan membuka jalan masa depan bagi adik-adiknya.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, semangat akademiknya tidak surut. Ia melanjutkan studi magister di kampus yang sama. Ketekunan dan konsistensinya dalam belajar membuat langkahnya semakin mantap di dunia akademik. Setiap proses dijalani dengan penuh kesabaran dan kesungguhan.

Perjalanan panjang itu kemudian membawanya pada kesempatan besar yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan oleh keluarga petani dari Dukuh Pengasinan. Mas Toto memperoleh kesempatan melanjutkan studi doktoral melalui beasiswa ke Jepang.

Kabar tersebut menjadi sumber kebanggaan sekaligus haru bagi keluarga. Anak yang dulu berjalan menyusuri sawah untuk mencari rumput kini akan menempuh pendidikan hingga ke luar negeri. Perjalanan hidupnya seakan menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang sederhana.

Namun, menempuh pendidikan di Jepang bukanlah hal mudah. Ia harus menghadapi bahasa yang berbeda, budaya baru, serta sistem akademik yang jauh lebih ketat. Selain itu, jarak dengan keluarga menjadi tantangan emosional tersendiri. Di negeri orang, Mas Toto belajar bertahan dalam kesendirian sambil terus mengejar cita-cita.

Meski begitu, ia tidak menyerah. Ia menjadikan setiap kesulitan sebagai bagian dari proses belajar. Dalam setiap perjuangan, ia selalu mengingat wajah kedua orang tuanya yang bekerja keras di kampung halaman. Kenangan masa kecil sebagai “kang ngarit” justru menjadi sumber kekuatan yang membuatnya terus melangkah.

Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil yang sangat membanggakan. Sosok sederhana dari Dukuh Pengasinan itu kini resmi menyandang gelar profesor dan dikenal sebagai Prof. Dr. Ir. Mochammad Riyanto, M.Si. Momen ketika namanya disebut dengan gelar akademik tertinggi menjadi bukti nyata bahwa kerja keras, ketekunan, dan doa mampu mengubah jalan hidup seseorang.

Kini, Prof. Mochammad Riyanto menjalani hari-harinya sebagai Guru Besar di IPB. Dari seorang anak petani yang akrab dengan lumpur sawah dan rumput pakan ternak, ia berhasil berdiri di puncak akademik dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Bagi keluarga, Mas Toto bukan hanya seorang akademisi, tetapi simbol perjuangan dan harapan. Ia membuktikan bahwa latar belakang desa dan keterbatasan ekonomi tidak pernah menjadi penghalang untuk bermimpi tinggi. Kisah hidupnya menjadi pelajaran bahwa keberhasilan lahir dari proses panjang yang dijalani dengan kesabaran, kerja keras, dan ketulusan.

Perjalanan Mas Toto juga memberikan pesan kuat kepada generasi muda bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah masa depan. Dari Dukuh Pengasinan, ia telah membuktikan bahwa seorang anak petani pun mampu menembus dunia akademik internasional dan membawa nama keluarga menjadi kebanggaan.

Reporter: Fathurrahim Syuhadi