PASURUAN lintasjatimnews – Upaya memperkuat pendidikan karakter anak usia dini melalui kepanduan mendapat apresiasi dari Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan (Kwarwil HW) Jawa Timur Fathurrahim Syuhadi. Ia mengapresiasi pelaksanaan Training of Facilitator (TOF) Tunas Athfal yang digelar Pimpinan Wilayah Ikatan Guru ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (PW IGABA) Jawa Timur.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di ‘Aisyiyah Training Center (ATC) Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur, 1–2 Oktober 2026. Sebanyak 73 peserta dari 34 kabupaten dan kota di Jawa Timur mengikuti kegiatan yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas guru sebagai fasilitator Tunas Athfal.
Fathurrahim Syuhadi mengatakan, TOF tidak semestinya dipandang hanya sebagai kegiatan pelatihan, tetapi juga sebagai proses menyiapkan kader fasilitator yang mampu mengembangkan kepanduan anak usia dini di wilayah masing-masing.
“Ilmu yang diperoleh jangan berhenti pada peserta, tetapi ditularkan kepada guru-guru lainnya dan diterapkan dalam kegiatan Tunas Athfal,” kata Fathurrahim Syuhadi
Menurutnya, semakin banyak fasilitator yang memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai, semakin terbuka peluang pengembangan Tunas Athfal secara lebih sistematis di berbagai PAUD ‘Aisyiyah.
Fathurrahim Syuhadi yang juga penulis buku Pandu Tunas Athfal Hizbul Wathan: Membentuk Karakter Sejak Dini menegaskan bahwa pendekatan kepanduan untuk anak usia dini tidak dapat disamakan dengan pola kegiatan untuk peserta didik yang lebih dewasa.
Kegiatan harus dekat dengan dunia anak, terutama melalui bermain, bergerak, bereksplorasi, dan mendapatkan pengalaman langsung.
“Anak-anak belajar melalui bermain. Karena itu, kegiatan Tunas Athfal harus menggembirakan, aman, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, melalui kegiatan yang sederhana dan menyenangkan, berbagai karakter positif dapat ditanamkan. Di antaranya kemandirian, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, keberanian, kepedulian, serta kecintaan terhadap lingkungan.
Pendekatan tersebut, lanjutnya, akan lebih efektif apabila guru mampu menjadi fasilitator sekaligus teladan bagi anak.
“Guru bukan sekadar menyampaikan materi. Guru adalah contoh. Apa yang dilakukan guru akan lebih mudah ditiru dan diingat oleh anak,” tutur Fathurrahim Syuhadi, yang juga menulis buku Guru Profesi Mulia.
Lebih lanjut, Fathurrahim Syuhadi melihat TOF Tunas Athfal sebagai momentum memperkuat kolaborasi antara IGABA dan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.
Sinergi tersebut dinilai penting karena pendidikan anak usia dini membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kebiasaan baik, kemandirian, dan kemampuan bersosialisasi.
“HW siap bersinergi dengan IGABA dalam mengembangkan Tunas Athfal. Kepanduan harus hadir dengan pendekatan yang sesuai dengan usia anak, menggembirakan, dan memberikan pengalaman yang bermakna,” ungkapnya.
Ia berharap peserta membawa hasil pelatihan ke lembaga masing-masing. Dari sana, pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dapat dikembangkan bersama guru lainnya.
Fathurrahim Syuhadi juga berharap lahir fasilitator-fasilitator baru yang mampu menghadirkan kegiatan kepanduan yang kreatif dan inspiratif.
“Semoga TOF ini melahirkan fasilitator Tunas Athfal yang kreatif, inspiratif, dan menjadi teladan bagi anak-anak. Dari kegiatan yang sederhana, kita menanamkan karakter untuk masa depan,” pungkasnya.
(Redaksi)









