Ratusan Kepala Sekolah dan Guru SMP Lamongan Antusias Ikuti Diklat Hybrid “Social Emotional Learning”, Wujudkan Pendidikan Sadar Kesehatan Mental

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan sukses menggelar “Applied Workshop & Diklat Hybrid 64 JP” yang mengusung tema besar “Social Emotional Learning & Mental Health for Brilliant Students” Senin (21/09/2026). Kegiatan inovatif ini dirancang khusus untuk merumuskan strategi Bimbingan dan Konseling (BK) dalam membangun suasana belajar yang sehat secara emosional guna mendukung kesehatan mental siswa.

Diklat yang memadukan moda luring (offline) dan daring (online) ini menyedot perhatian luar biasa dengan total pendaftar mencapai 520 orang yang terdiri dari Kepala Sekolah (KS) dan Guru SMP se-Kabupaten Lamongan. Guna menjaga efektivitas jalannya acara, panitia membagi pelaksanaan luring menjadi dua sesi (batch). Sesi pertama berlangsung pada pukul 08.00 s.d. 11.30 WIB, dilanjutkan sesi kedua pada pukul 13.00 s.d. 16.00 WIB yang bertempat di Gedung KPRI Handayani Dinas Pendidikan Kab. Lamongan.

Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Dr. H. Shodikin, M.Pd., yang bertindak sebagai Keynote Speaker. Kehadiran sosok birokrat baru, yakni Kepala Bidang SMP yang baru saja dilantik beberapa hari sebelumnya, Bapak Abdullah Taufiq, S.Pd., M.Pd., turut memberikan semangat tersendiri bagi para peserta pendidik yang hadir.

Workshop yang diselenggarakan atas kerja sama dengan UNIRA Malang dan VIEC ini menghadirkan narasumber-narasumber ahli di bidang pendidikan dan psikologi. Selain Prof. Dr. Hj. Muslihati, S.Ag., M.Pd. (Guru Besar Prodi BK Univ. Negeri Malang) dan Naajihah Mafruudloh, S.Pd., M.Pd. (Dosen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Lamongan), salah satu sorotan utama adalah paparan komprehensif dari Dr. Hj. Istiqomah, S.Pd., M.Pd., Instruktur Nasional sekaligus Widyaiswara Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Timur.

Dalam paparannya, Dr. Istiqomah membeberkan realitas mengejutkan berdasarkan data kesehatan mental bahwa 1 dari 3 remaja usia 10-17 tahun di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Mengingat urgensi tersebut, ia menekankan bahwa sekolah tidak boleh menjadi sumber tekanan akademik, melainkan harus menjadi ruang kedua yang memanusiakan anak.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Dr. Istiqomah membedah “5 Pilar Kesejahteraan Siswa” untuk membangun ekosistem sekolah yang ceria:
 Pilar 1: Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE). Mengajarkan 5 kompetensi utama: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Ia mencontohkan praktik sederhana seperti Check-in Emosi di pagi hari agar siswa bisa memvalidasi perasaan mereka.
 Pilar 2: Sinergi Sekolah dan Orang Tua. Kesehatan mental remaja adalah tanggung jawab bersama sehingga diperlukan jaring pengaman lintas sektor antara rumah dan sekolah.
 Pilar 3: Lingkungan Anti-Perundungan. Mengubah budaya kelas dari yang sering berkonflik menjadi ekosistem yang aman, inklusif, dan saling menghargai melalui keadilan restoratif.
 Pilar 4: Transformasi Bimbingan Konseling. Dr. Istiqomah menganalogikan masalah siswa seperti “Gunung Es”. Layanan BK tidak boleh hanya reaktif menghukum pelanggaran disiplin yang terlihat di puncak gunung es, tetapi harus proaktif menyelami kebutuhan tersembunyi siswa di bawahnya, seperti krisis karakter atau trauma.
 Pilar 5: Membangun Lingkungan Inklusif. Menyediakan sarana ramah anak seperti Sudut Tenang (Calm Corner) di kelas, yakni ruang aman bagi siswa untuk meregulasi emosinya saat merasa kewalahan, bukan sebagai tempat hukuman.

“Kesehatan mental anak berperan besar dalam mewujudkan keberhasilan belajar,” papar Dr. Istiqomah di penghujung materinya. Namun, ia juga memberikan catatan penting yang disambut hangat oleh para peserta, “Yang tak kalah penting adalah memastikan guru-guru juga terjamin kesehatan raga dan mentalnya!”.

Kegiatan yang berlangsung interaktif ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai wacana, melainkan dapat segera diimplementasikan oleh para Kepala Sekolah dan Guru di masing-masing satuan pendidikan untuk menciptakan generasi pelajar Lamongan yang tangguh secara mental dan cemerlang secara akademik

Kontributor: M. Said