Sederhana dan Rendah Hati Lebih Mulia

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Kesederhanaan dan rendah hati adalah akhlak mulia yang dicintai Allah dan manusia. Rasulullah Saw meskipun beliau adalah manusia paling mulia, tetap hidup sederhana. Beliau tidur di atas tikar kasar, makan makanan seadanya, dan menolak hidup mewah.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’, sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri atas yang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat aniaya kepada yang lain (HR. Muslim).

Tawadhu’ bukan berarti lemah, tetapi sadar diri dan menempatkan diri sesuai dengan kadar kemanusiaan. Orang yang rendah hati tidak merasa lebih baik dari orang lain, sekalipun ia memiliki banyak kelebihan. Justru kerendahan hati menjadikannya semakin mulia di mata Allah dan disegani manusia.

Hidup ini tidak pernah statis. Orang kaya bisa jatuh miskin, orang sehat bisa sakit, orang kuat bisa lemah, dan orang berkuasa bisa tersingkir. Karena itu, jangan pernah merasa aman dengan keadaan yang sedang di atas.

Allah Swt berfirman “Dan Kami pergilirkan hari-hari (kejayaan dan kekalahan itu) di antara manusia.”
(QS. Ali Imran: 140).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia tidak selamanya berada di atas. Maka, sikap terbaik adalah bersyukur ketika berada di puncak, bersabar ketika di bawah, dan tidak pernah sombong dalam kondisi apapun.

Kesombongan adalah penyakit hati yang dapat menghalangi masuknya seseorang ke dalam surga. Betapapun kuat, kaya, dan bijak manusia, pada akhirnya ia akan lemah juga dan membutuhkan orang lain. Karena itu, tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.

Kita hanyalah hamba Allah yang lemah, sementara segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan sementara. Maka, sikap terbaik adalah hidup dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan selalu menyadari bahwa segala sesuatu kembali kepada Allah.

Rasulullah Saw bersabda “Barangsiapa yang bersikap tawadhu’ karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya. Dan barangsiapa yang sombong, maka Allah akan merendahkannya (HR. Ahmad).

Semoga kita dijauhkan dari sifat sombong dan dihiasi dengan sifat tawadhu’, sehingga kemuliaan sejati bisa kita raih, baik di dunia maupun di akhirat.

Reporter Fathurrahim Syuhadi