LAMONGAN lintasjatimnews – Dalam dunia pendidikan, guru menempati posisi sentral sebagai aktor utama dalam proses membentuk manusia. Perannya bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi mendidik jiwa dan membangun karakter.
Oleh karena itu, guru tidak cukup hanya berperan sebagai pengajar (teacher), melainkan harus hadir sebagai pendidik (educator) dan teladan (role model) bagi peserta didik.
Guru sejati bukan hanya soal nilai ujian atau capaian akademik, melainkan bagaimana membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks ini, keberadaan guru sangat menentukan kualitas dan arah perjalanan pendidikan sebuah bangsa.
Pendidikan sejati bukan hanya soal nilai ujian atau capaian akademik, melainkan bagaimana membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks ini, keberadaan guru sangat menentukan kualitas dan arah perjalanan pendidikan sebuah bangsa.
Dalam dunia pendidikan, guru menempati posisi sentral sebagai aktor utama dalam proses membentuk manusia. Perannya bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi mendidik jiwa dan membangun karakter.
Oleh karena itu, guru tidak cukup hanya berperan sebagai pengajar (teacher), melainkan harus hadir sebagai pendidik (educator) dan teladan (role model) bagi peserta didik.
Pendidik yang Membentuk Jiwa
Dalam bahasa Indonesia, kata “guru” mengandung makna luhur. Guru adalah sosok yang mengarahkan, membimbing, dan mendidik. Dalam Islam, peran guru identik dengan seorang murabbi—yakni seseorang yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan, adab, dan spiritualitas.
Menjadi pendidik berarti menyentuh bukan hanya pikiran murid, tetapi juga hati dan karakternya. Seorang guru sejati akan selalu bertanya:
Apakah siswa saya menjadi pribadi yang lebih baik ? Apakah mereka tumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia ?
Jika guru mengajarkan kejujuran, maka ia harus jujur dalam bersikap. Jika guru mengajarkan disiplin, maka ia harus menunjukkan kedisiplinan dalam hadir, dalam menilai, dan dalam berkomitmen.
Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kepedulian, kesederhanaan, dan kerja keras akan lebih mudah masuk ke dalam diri siswa ketika mereka menyaksikannya langsung dari pribadi gurunya.
Proses mendidik seperti ini memerlukan ketelatenan, kasih sayang, dan ketulusan. Guru tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi pendamping yang membimbing siswa melewati masa-masa penting dalam hidupnya.
Salah satu metode paling efektif dalam pendidikan adalah keteladanan. Siswa belajar tidak hanya dari buku atau ceramah, tetapi terutama dari sikap dan perilaku guru mereka. Guru adalah cermin yang dilihat setiap hari oleh muridnya.
Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kepedulian, kesederhanaan, dan kerja keras akan lebih mudah masuk ke dalam diri siswa ketika mereka menyaksikannya langsung dari pribadi gurunya.
Di sinilah makna mendalam dari pepatah “guru digugu dan ditiru.” Guru dipercaya (digugu) karena ilmunya, dan diteladani (ditiru) karena akhlaknya. Ketika guru kehilangan keteladanan, maka kehilangan pula wibawa dan pengaruhnya dalam membentuk karakter siswa.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









