Tradisi Kupatan di Bukit Larangan Panceng sebagai Simbol kearifan Lokal

Listen to this article

GRESIK lintasjatimnews – Indonesia terkenal dengan banyaknya keaneka ragaman budaya dan tradisi yang sangat mempengaruhi kohesi sosial dalam bentuk norma sosial, budaya, sejarah, ekonomi dan politik.

Salah satunya adalah tradisi kupatan yang dilakukan oleh warga sekitar Bukit Larangan, Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik (07/04/25)

Acara kupatan biasa digelar pada tanggal 8 Syawal (bulan Hijriyah) setiap tahunnya warga sekitar Bukit Larangan akan datang berbondong-bondong ke atas bukit yang di sana terdapat makam Mbah Yai Syafi’i.

Warga yang hadir diantaranya dari Dusun Larangan Prupuh Dusun Larangan Dalegan dan Dusun Sibero, mereka membawa kupat, Lepet dan sayur santan daging, ayam, Sapi ataupun telur.

Semua makanan dikumpulkan kemudian acara dipimpin oleh kyai haji Fauzi Dalegan untuk membaca doa bersama dan diakhiri dengan khotbah atau wejangan dari pemimpin acara.

Diantara susunan acara salah satunya adalah Udik-Udikan yaitu seseorang menaburkan uang receh atau lembaran ke semua jamaah yang hadir untuk direbutkan. Sahrul Mulia , warga yang hadir di acara tersebut merasa bahagia.

Dengan adanya tradisi kupatan ini bisa melestarikan budaya dan mengembangkan identitas unik dari suatu tempat yang akan berdampak kesadaran kepada masyarakat berupa kebersamaan dan kekompakan, jelas nya.

Anis Mazidah, salah satu warga dari Dusun Larangan Prupuh mengucapkan banyak terima kasih kepada penyelenggara acara, dengan terus berlangsungnya tradisi kupatan ini akan menjadi moment menarik dari budaya di desanya.

Tradisi seperti ini akan mengurangi konflik di lingkungan sosial karena adanya rasa kebersamaan yang saling menjaga sejarah dan budaya yang ada di sekitar kita, ungkap nya.

Acara di akhiri dengan pembagian Kupat Lepet ke warga yang hadir untuk di makan bersama ataupun di bawa pulang.

Reporter: Sri k