Bd. Hj. Nanik, SST., M.MKes.: Mengabdi dengan Hati, Berinovasi Tanpa Henti demi Kesehatan Perempuan Lamongan

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Di balik meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan perempuan, terdapat sosok perempuan yang terus bergerak melalui pengabdian, inovasi, dan kepedulian sosial. Sosok itu adalah Bd. Hj. Nanik, SST., M.MKes., seorang bidan sekaligus pemimpin organisasi profesi yang mendedikasikan dirinya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Lamongan.

Lahir di Lamongan pada 4 Oktober 1973, Nanik menapaki perjalanan pengabdian dengan keyakinan bahwa pelayanan kesehatan tidak cukup hanya dilakukan melalui tindakan medis. Edukasi, pendampingan, pemberdayaan, dan kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang lebih sehat.

Sebagai Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Lamongan, ia menjalankan peran strategis dalam memperkuat profesionalisme bidan sekaligus mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya bagi perempuan, ibu, dan anak.

Ketan Puti dan Jare Puti: Inovasi untuk Remaja Putri

Salah satu kiprah yang menonjol dari Nanik adalah gagasannya dalam mengembangkan inovasi kesehatan bagi remaja putri melalui program Ketan Puti (Kesehatan Remaja Putri) dan Jare Puti (Jagong Remaja Putri).
Kedua inovasi tersebut berangkat dari kepedulian terhadap pentingnya pendidikan kesehatan sejak usia remaja. Masa remaja merupakan fase penting dalam kehidupan perempuan yang membutuhkan pengetahuan memadai tentang kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, pencegahan anemia, dan kebiasaan hidup sehat.

Melalui edukasi dan pendampingan, remaja putri didorong untuk lebih memahami kondisi tubuhnya, mengenali risiko kesehatan, serta berani mencari informasi dan layanan kesehatan yang tepat.
Ketan Puti dan Jare Puti menjadi bentuk pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan remaja. Kesehatan tidak hanya dibicarakan melalui bahasa medis, tetapi juga disampaikan melalui edukasi dan komunikasi yang dekat dengan kehidupan mereka.

Atas inovasi tersebut, Nanik berhasil meraih Juara II Lomba Inovasi Daerah Kabupaten Lamongan dalam ajang MEGNOTEC Awards.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upayanya menghadirkan gagasan yang berorientasi pada peningkatan kesehatan masyarakat.

Memimpin Organisasi, Meningkatkan Kompetensi Bidan

Bagi Nanik, pengabdian di bidang kesehatan juga berarti menyiapkan tenaga kesehatan yang kompeten dan profesional. Karena itu, ia aktif dalam kegiatan pelatihan dan peningkatan kapasitas bidan.

Pengalaman dan kiprahnya memperoleh sejumlah pengakuan, di antaranya Bidan Teladan Kabupaten Lamongan, Juara I Bidel dan UPBD, serta Penggerak Nomor 1 Kelas Ibu Hamil Tingkat Provinsi Jawa Timur.

Ia juga aktif menjadi pelatih dan fasilitator dalam berbagai pelatihan kompetensi kebidanan, meliputi Contraceptive Technology Update (CTU), Komunikasi Interpersonal dan Konseling (KIPK) serta ABPK, Midwifery Update, Updating KIA, hingga penanganan bayi dengan ber)at badan lahir rendah (BBLR).

Melalui kegiatan tersebut, ia turut berkontribusi dalam pengembangan kompetensi tenaga kebidanan. Baginya, kualitas pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh kemampuan tenaga kesehatan untuk terus belajar, memperbarui pengetahuan, dan meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan masyarakat.

Kepemimpinan dalam organisasi profesi pun bukan semata-mata tentang menjalankan program kerja. Lebih dari itu, kepemimpinan menjadi kesempatan untuk membangun kebersamaan, menguatkan solidaritas, dan mendorong para bidan agar terus memberikan pelayanan terbaik.

Ketika Pengabdian Menembus Genangan Banjir

Ada sisi lain dari perjalanan Nanik yang memperlihatkan makna pengabdian secara lebih nyata, yakni kepeduliannya terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Di sela-sela kesibukan memimpin organisasi dan menjalankan aktivitas profesional, ia tetap menyempatkan diri menyalurkan bantuan sosial kepada warga kurang mampu serta masyarakat yang terdampak bencana.

Dalam situasi tertentu, genangan air dan banjir tidak menyurutkan langkahnya untuk menjangkau masyarakat. Baginya, bantuan dan pelayanan kesehatan harus diupayakan agar sampai kepada mereka yang membutuhkan, terutama ketika kondisi darurat membuat kehidupan warga semakin sulit.

Kepedulian semacam ini menunjukkan bahwa profesi bidan memiliki dimensi kemanusiaan yang luas. Kehadiran tenaga kesehatan bukan hanya dibutuhkan di ruang pelayanan, tetapi juga ketika masyarakat menghadapi kesulitan dan membutuhkan dukungan.

Pengabdian menjadi lebih bermakna ketika ilmu dan kemampuan yang dimiliki digunakan untuk membantu sesama tanpa memandang latar belakang maupun keadaan.

Perempuan yang Menghadirkan Manfaat

Perjalanan Bd. Hj. Nanik, SST., M.MKes. memberikan pelajaran bahwa menjadi perempuan inspiratif tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Perubahan dapat tumbuh dari kepedulian terhadap persoalan di sekitar, keberanian melahirkan inovasi, kesungguhan meningkatkan kompetensi, serta kemauan untuk terus hadir bagi masyarakat.

Melalui Ketan Puti dan Jare Puti, ia memberikan perhatian kepada kesehatan remaja putri. Melalui organisasi profesi dan pelatihan, ia turut memperkuat kualitas tenaga kebidanan. Melalui kegiatan sosial, ia menunjukkan bahwa pengabdian tidak berhenti ketika tugas profesional selesai.

Ketiga bidang tersebut memperlihatkan benang merah perjalanan pengabdiannya: kesehatan, pemberdayaan, dan kemanusiaan. Bagi Nanik, keberhasilan bukan semata-mata tentang jabatan, penghargaan, atau prestasi yang diraih. Keberhasilan juga tercermin dari pengetahuan yang semakin luas, tenaga kesehatan yang semakin kompeten, remaja putri yang semakin memahami kesehatannya, serta masyarakat yang merasakan manfaat dari kehadiran seorang pengabdi.

Mengabdi dengan hati berarti menjadikan kepedulian sebagai landasan. Berinovasi tanpa henti berarti tidak berhenti mencari jalan untuk memperbaiki keadaan. Melalui profesi, kepemimpinan, dan kegiatan sosial, Bd. Hj. Nanik menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi penggerak perubahan yang menghadirkan manfaat nyata bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Lamongan.

Reporter Fathurrahim Syuhadi