LAMONGAN lintasjatimnews – Masa bakti dalam sebuah organisasi pada akhirnya akan sampai pada titik pergantian. Demikian pula perjalanan Fadhilatur Rosyidah sebagai Bendahara Umum Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Lamongan periode 2024–2026.
Menutup masa bakti bukan semata-mata tentang berakhirnya sebuah jabatan. Lebih dari itu, terdapat perjalanan panjang yang di dalamnya ada proses belajar, bekerja bersama, menghadapi berbagai tantangan, serta tumbuh bersama dengan kader-kader lainnya.
Amanah sebagai bendahara bukan sekadar berkaitan dengan pencatatan pemasukan dan pengeluaran. Di dalamnya terdapat pembelajaran tentang tanggung jawab, ketelitian, keterbukaan, kedisiplinan, serta bagaimana menjaga kepercayaan yang diberikan organisasi.
Melalui tulisan reflektif yang dibagikannya, Fadhilatur memaknai berakhirnya masa bakti bukan sebagai akhir dari sebuah perjalanan, melainkan kesempatan untuk membawa pelajaran menuju langkah berikutnya.
“Bukan tentang siapa yang paling banyak memberi, atau siapa yang paling lama bertahan, tetapi tentang bagaimana kita pernah berjalan dan tumbuh bersama di dalamnya.”
Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa setiap periode organisasi memiliki cerita dan prosesnya sendiri. Perjalanan dalam sebuah kepengurusan tidak selalu harus diukur dari seberapa besar kontribusi seseorang atau berapa lama ia berada dalam sebuah organisasi.
Ada nilai yang jauh lebih penting, yakni pengalaman yang diperoleh, proses pendewasaan, serta hubungan baik yang terbangun selama menjalankan amanah.
Bagi seorang kader, masa bakti merupakan ruang pembelajaran. Di dalamnya seseorang belajar mengelola program, berkomunikasi, bekerja dalam tim, menyelesaikan persoalan, menerima perbedaan pendapat, sekaligus belajar bertanggung jawab terhadap amanah yang dipercayakan.
Fadhilatur juga menyampaikan bahwa setelah masa bakti berakhir, saatnya meletakkan apa yang sudah selesai, membawa pelajarannya, dan melanjutkan langkah ke arah yang baru.
Pergantian periode dalam organisasi merupakan bagian dari proses kaderisasi. Satu generasi menyelesaikan amanah, kemudian estafet perjuangan dilanjutkan oleh kader berikutnya dengan tantangan dan kreativitas yang baru.
Apa yang telah selesai tidak harus dilupakan. Sebaliknya, pengalaman masa lalu dapat menjadi bekal untuk menghadapi perjalanan berikutnya.
“Terima kasih untuk setiap proses yang pernah ada. Satu periode selesai, semoga kebaikannya tetap tinggal.” ungkap mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik ini
Pesan tersebut menjadi refleksi atas perjalanan yang telah dilalui sekaligus ungkapan syukur terhadap seluruh proses yang pernah dijalani.
Perjalanan Fadhilatur Rosyidah di PD IPM Lamongan menunjukkan bahwa sebuah jabatan pada akhirnya memiliki batas waktu. Namun, pengalaman, persahabatan, pembelajaran, dan kebaikan yang lahir selama menjalankan amanah dapat terus dibawa dalam perjalanan kehidupan.
Bagi kader IPM, berakhirnya masa jabatan bukan berarti berhenti berbuat. Amanah boleh berganti, posisi boleh berpindah, tetapi semangat untuk terus belajar, berkontribusi, dan memberikan manfaat dapat tetap dilanjutkan.
Satu periode boleh selesai. Namun, pelajaran dari perjalanan dan kebaikan yang ditanamkan semoga tetap tumbuh dan menjadi bekal untuk melanjutkan langkah ke arah yang lebih baik.
Pada akhirnya, hidup adalah tentang tumbuh. Tumbuh berarti membuka diri terhadap perubahan, belajar dari pengalaman, dan terus berkembang. Dalam proses tersebut, seseorang belajar menjadi lebih bijaksana dan lebih penuh kasih.
Kita tidak harus terjebak dalam pencarian kesempurnaan. Yang lebih penting adalah menikmati perjalanan, memperbaiki diri, dan menghargai setiap langkah kecil yang membawa kita lebih dekat kepada versi terbaik dari diri kita.
Masa bakti boleh berakhir. Tetapi perjalanan untuk terus tumbuh, belajar, dan memberikan manfaat masih panjang.
Reporter: Fathurrahim Syuhadi









