Mendidik Anak Cinta Masjid Sejak Dini

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Ada pemandangan yang selalu menghadirkan harapan di dalam masjid: langkah kecil anak-anak yang berlari membawa peci, suara lirih mereka menirukan bacaan shalat, atau wajah polos yang duduk mendengarkan kajian meski belum sepenuhnya memahami isi ceramah. Di balik semua itu, tersimpan satu pesan penting bahwa masa depan umat sedang dipersiapkan.

Mendidik anak mencintai masjid bukan sekadar mengajarkan mereka tempat shalat. Lebih dari itu, ini adalah usaha menanamkan cinta kepada Allah sejak usia dini. Anak yang tumbuh dekat dengan masjid biasanya memiliki hati yang lebih lembut, lebih mudah menerima nasihat, dan lebih kuat menghadapi pengaruh buruk lingkungan.

Namun realitas hari ini cukup memprihatinkan. Banyak anak lebih mengenal pusat hiburan dibanding rumah Allah. Mereka hafal permainan di gawai, tetapi asing dengan suara adzan. Sebagian orang tua sibuk memenuhi kebutuhan dunia anak, tetapi lupa memenuhi kebutuhan ruhani mereka.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan teladan luar biasa dalam memperlakukan anak-anak di masjid. Beliau tidak marah ketika cucunya naik ke punggung beliau saat shalat. Bahkan beliau memperpanjang sujud agar cucunya puas bermain. Ini menunjukkan bahwa masjid harus menjadi tempat yang ramah bagi anak-anak.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini menunjukkan bahwa pendidikan ibadah harus dimulai sejak dini. Dan salah satu langkah pentingnya adalah mengenalkan anak kepada masjid.

Banyak orang tua khawatir anak-anak akan ribut di masjid. Akibatnya, mereka lebih memilih meninggalkan anak di rumah. Padahal, jika anak tidak dibiasakan datang ke masjid sejak kecil, mereka akan merasa asing ketika dewasa nanti. Tentu anak perlu diarahkan dengan lembut tentang adab di masjid, tetapi jangan sampai ketegasan membuat mereka kehilangan rasa cinta terhadap rumah Allah.

Masjid seharusnya menjadi tempat yang menghadirkan kenangan indah bagi anak-anak. Tempat mereka merasa nyaman, disambut dengan senyum, dan diperlakukan dengan kasih sayang. Anak-anak yang bahagia di masjid akan tumbuh dengan kenangan spiritual yang kuat dalam hidupnya.

Di sebuah daerah, ada seorang ayah yang setiap waktu Maghrib selalu mengajak anak kecilnya ke masjid. Awalnya sang anak sering bermain dan belum bisa tenang saat shalat. Sebagian jamaah pernah merasa terganggu, tetapi sang ayah terus sabar membimbingnya. Bertahun-tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi pemuda yang aktif mengajar Al-Qur’an di masjid yang sama. Semua bermula dari langkah kecil yang istiqamah.

Kisah seperti ini mengajarkan bahwa membangun generasi saleh membutuhkan proses panjang dan kesabaran. Jangan berharap anak langsung sempurna. Yang terpenting adalah menanamkan cinta terlebih dahulu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)

Ayat ini menegaskan bahwa mendidik keluarga dalam ibadah membutuhkan kesabaran. Orang tua tidak hanya dituntut memberi perintah, tetapi juga menjadi teladan nyata.

Anak-anak belajar bukan hanya dari ucapan, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika ayah bersemangat ke masjid ketika adzan berkumandang, anak akan meniru. Jika ibu menunjukkan kecintaan kepada Al-Qur’an dan majelis ilmu, anak akan menyerap nilai itu secara alami.

Selain itu, masjid juga perlu menghadirkan program yang ramah anak. Taman pendidikan Al-Qur’an, kegiatan islami kreatif, lomba anak saleh, atau kajian keluarga dapat membuat anak merasa masjid adalah tempat yang menyenangkan.

Kita harus menyadari bahwa anak-anak hari ini hidup di zaman yang penuh tantangan. Arus media sosial, pergaulan bebas, dan krisis moral semakin mudah memengaruhi mereka. Karena itu, hati mereka perlu dipenuhi cahaya iman sejak dini. Dan masjid adalah tempat terbaik untuk menanamkan cahaya tersebut.

Jangan tunggu anak dewasa untuk mengenal masjid. Karena hati yang dibiasakan dekat dengan rumah Allah sejak kecil akan lebih mudah terjaga ketika besar nanti.

Mulailah dari hal sederhana. Ajak anak ke masjid meski hanya beberapa menit. Kenalkan mereka pada imam dan jamaah yang ramah. Ceritakan kisah-kisah indah tentang masjid dan para nabi. Jadikan masjid sebagai tempat yang mereka rindukan, bukan tempat yang mereka takuti.

Sebab ketika anak-anak mencintai masjid, sesungguhnya kita sedang membangun masa depan umat yang lebih kuat.

Penulis Fathurrahim Syuhadi