Gerakan Jumat Berbagi

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Hari Jumat selalu memiliki suasana yang berbeda. Jalan menuju masjid lebih ramai, pakaian terbaik dikenakan, dan wajah-wajah jamaah tampak lebih cerah dari biasanya. Namun di balik keramaian itu, masih ada orang-orang yang memandang dari kejauhan dengan perut lapar dan hati penuh kesulitan.

Tukang becak yang belum mendapat penumpang, buruh harian yang upahnya belum cair, atau anak kecil yang menunggu ibunya pulang membawa makanan. Di sinilah Jumat seharusnya tidak hanya menjadi hari ibadah, tetapi juga hari berbagi.

Rasulullah Saw menyebut Jumat sebagai penghulu segala hari. Pada hari itu, pahala kebaikan dilipatgandakan dan doa-doa lebih mudah dikabulkan. Namun sering kali kemuliaan Jumat hanya terasa di dalam masjid, belum menjangkau kehidupan sosial di sekitarnya. Kita rajin datang lebih awal untuk mendengar khutbah, tetapi kadang lupa melihat siapa yang membutuhkan perhatian di luar sana.

Padahal Islam sangat menekankan kepedulian sosial. Allah berfirman “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Ayat ini mengajarkan bahwa iman harus melahirkan tindakan nyata. Rasulullah ﷺ juga dikenal sebagai pribadi yang paling dermawan, terutama pada waktu-waktu mulia. Sedekah bukan sekadar memberi uang, tetapi menghadirkan harapan bagi orang lain.

Gerakan Jumat Berbagi lahir dari semangat sederhana: menjadikan hari Jumat sebagai momentum berbagi kebahagiaan. Bentuknya bisa bermacam-macam. Ada yang membagikan nasi bungkus selepas salat Jumat, ada yang menyediakan air minum gratis, ada pula yang mengumpulkan infak untuk membantu warga sakit atau anak yatim.

Meski terlihat sederhana, dampaknya sering kali sangat besar. Banyak orang kecil yang merasa diperhatikan. Ada tukang parkir yang bisa makan siang dengan layak, ada pemulung yang pulang membawa senyum, bahkan ada orang yang kembali dekat dengan masjid karena merasakan kasih sayang dari jamaah.

Di sebuah masjid di Surabaya, para remaja masjid rutin mengadakan program “Jumat Nasi Berkah”. Mereka memasak bersama sejak pagi lalu membagikan ratusan paket makanan kepada pekerja jalanan.

Awalnya hanya belasan paket, tetapi karena banyak jamaah ikut mendukung, kini program itu terus berkembang. Yang menarik, kegiatan tersebut juga mengubah anak-anak muda yang sebelumnya pasif menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sosial.

Kisah lain datang dari sebuah masjid kecil. Setiap Jumat, jamaah membawa satu kantong beras dari rumah masing-masing. Beras itu kemudian dikumpulkan dan dibagikan kepada keluarga miskin di sekitar kampung. Tidak ada donatur besar, tetapi semangat gotong royong membuat banyak warga terbantu.

Gerakan Jumat Berbagi sebenarnya bukan hanya tentang makanan atau uang. Yang lebih penting adalah membangun budaya empati. Ketika masjid aktif berbagi, masyarakat akan merasakan bahwa agama hadir membawa kasih sayang, bukan sekadar seruan.

Prof BJ Habibie pernah berkata, “Kehebatan suatu bangsa bukan dilihat dari besarnya kekayaan, tetapi dari kepeduliannya terhadap yang lemah.” Kalimat ini juga berlaku bagi umat Islam. Kemuliaan sebuah komunitas terlihat dari cara mereka memperlakukan orang yang membutuhkan.

Karena itu, mari hidupkan Jumat dengan berbagi. Tidak perlu menunggu kaya untuk
memberi. Satu nasi bungkus, satu botol air, atau sedikit sedekah bisa menjadi sangat berarti bagi seseorang. Libatkan keluarga, anak-anak, dan remaja masjid agar semangat berbagi tumbuh menjadi budaya bersama.

Bayangkan jika setiap masjid memiliki gerakan berbagi setiap Jumat. Betapa banyak perut yang kenyang, air mata yang terhapus, dan hati yang kembali memiliki harapan. Dari langkah kecil itulah, masjid akan benar-benar menjadi rahmat bagi masyarakat di sekitarnya.

Penulis Fathurrahim Syuhadi