Dr. Mariman Darto, S.E, M.Si Launching Buku Guru Bukan Beban Negara Karya Fathurrahim Syuhadi

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si. Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Talenta di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia berkesempatan melaunching buku Guru Bukan Beban Negara Karya Fathurrahim Syuhadi, Sabtu (9/5/2026)

Launching buku Guru Bukan Beban Negara dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Purna Siswa ke 52 SMA Muhammadiyah 1 Babat. Launching buku ini disaksikan para siswa dan wali murid, dewan guru, Kepala SMP/MTs sekecamatan Babat, Muspika Babat, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Babat, Majelis Dikdasmen & PNF, tokoh masyarakat dan para aktifis

Mariman Darto saat melaunching buku Guru Bukan Beban Negara menyampaikan apresiasi kepada Fathurrahim Syuhadi yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua PDM Lamongan dan Anggota Dewan Pendidikan Lamongan. Ia dikenal sebagai penulis produktif.

“Saya salut dan bangga dengan mas Fathurrahim Syuhadi yang terus menulis dan memberikan inspirasi dan kemanfaatan untuk dunia pendidikan,” ujar pria yang lama berkarir di Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI

Lanjut Mariman Darto, saya memberitahu kepada Pak Menteri Prof Abdul Mu’ti kalau hari ini ada launching buku Guru Bukan Beban Negara yang ditulis mas Fathurrahim Syuhadi kader dari Lamongan. Dan Pak Menteri memberikan apresiasi

“Pak Menteri Prof Abdul Mu’ti mmeberikan apresiasi atas buku yang ditulis Fathurrahim Syuhadi kader dari Lamongan,” jelas Doktor Ilmu Manajemen dari Universitas Mulawarman, di mana ia lulus dengan predikat Cum Laude

Buku “Guru Bukan Beban Negara” hadir di tengah perdebatan yang tak pernah benar-benar usai: apakah guru hanya menjadi beban anggaran negara?

Melalui 50 tulisan reflektif, Fathurrahim Syuhadi justru membalik cara pandang itu. Baginya, guru bukan beban, melainkan investasi strategis.

“Guru adalah penggerak utama transformasi pendidikan. Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembentuk karakter generasi masa depan,” tulisnya.

Di era digital, ketika informasi bisa diakses dalam hitungan detik, peran guru justru semakin kompleks. Buku ini menggarisbawahi satu hal penting: teknologi tidak pernah bisa menggantikan sentuhan manusia.

Guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga inspirator, teladan, dan penjaga nilai. Mereka hadir bukan sekadar di ruang kelas, melainkan di ruang kehidupan—membentuk cara berpikir, sikap, dan masa depan peserta didik.

Tanpa guru yang berkualitas dan sejahtera, cita-cita besar bangsa hanya akan menjadi wacana.

Lebih dalam lagi, buku ini mengangkat perspektif peradaban. Dalam pandangan Fathurrahim, tidak ada bangsa besar tanpa guru yang dimuliakan.

Guru adalah warasatul anbiya—pewaris para nabi—yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan akhlak. Dari tangan merekalah lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.

Bahwa ketika negara memandang guru sebagai investasi sumber daya manusia, pendidikan akan menjadi kekuatan utama kemajuan bangsa. Karena sejatinya, guru bukan beban negara. Guru adalah pilar peradaban.

Pesan ini terasa semakin kuat ketika diluncurkan di tengah acara kelulusan. Para siswa yang hari itu resmi menyandang status alumni, seakan diingatkan : di balik capaian mereka, ada peran guru yang tak ternilai.

(Redaksi)