LAMONGAN lintasjatimnews – Momentum Hari Pendidikan Nasional merupakan refleksi atas perjalanan dan arah pendidikan ke depan. Hardiknas merupakan ruang perenungan : sudah sejauh mana kita menunaikan tanggung jawab bersama untuk menghadirkan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan bagi seluruh anak bangsa?
Hj Uswatun Hasanah, SE, SPd, MPd Kepala TK Media Cinta Ilmu Lamongan mengungkapkan kesadaran ini mengantarkan pemahaman kita bahwa, pendidikan bukan hanya sebagai urusan sekolah semata. Ia adalah ekosistem yang melibatkan keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dunia usaha, organisasi sosial, hingga pemerintah sebagai pengambil kebijakan.
“Ketika salah satu unsur berjalan sendiri, mutu pendidikan akan mudah timpang. Sebaliknya ketika semua bergerak dalam harmoni yang sama, pendidikan akan menjadi kekuatan pembentuk peradaban,” jelas aktifis perempuan kabupaten Lamongan ini
Wakil Ketua MPK SDI PDM Lamongan ini menegaskan bahwa fondasi pendidikan sesungguhnya dimulai sejak anak usia dini. Pada fase inilah karakter mulai terbentuk, penanaman nilai, dan pengenalan makna belajar dengan menyenagkan. Di usia emas inilah rasa ingin tahu tumbuh subur, kepercayaan diri dibangun, serta nilai-nilai keimanan dan akhlak mulai ditanamkan.
Lanjutnya, sering kali mutu pendidikan diukur dari angka dan capaian akademik. Padahal kualitas sejati terletak pada proses yang utuh: bagaimana anak merasa aman,dihargai, dan dicintai dalam belajar, bagaimana guru hadir sebagai pengajar dan teladan pembiasaan, bagaimana orang tua menjadi mitra yang aktif, bagi perkembangan anak.
Guru senior di Taman Kanak Kanak ini mengungkapkan bahwa menguatkan partisipasi semesta berarti membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. Lembaga pendidikan hendaknya terus belajar dan berbenah, orang tua hadir sebagai mitra aktif dalam proses pendidikan, dan masyarakat mengambil peran aktif dalam menciptakan lingkungan yang peduli serta para pemangku kebijakan menghadirkan regulasi yang berpihak pada pemerataan akses.
“Setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi: orang tua menanamkan nilai di rumah, guru merawat dan mengembangkan potensi di sekolah, masyarakat membangun lingkungan yang kondusif, sementara pemerintah memastikan keadilan serta keberlanjutan sistem pendidikan,” tegas Magister Pendidikan lulusan UMM ini
Lebih jauh jelasnya, pendidikan bermutu identik dengan keadilan, jangan sampai ada anak yang tertinggal hanya karena latar belakang ekonomi, geografis, atau sosial. Pendidikan yang bermutu untuk semua berarti memberi kesempatan pada setiap anak di kota maupun desa untuk tumbuh, belajar, dan merajut cita-cita.
Menurut Uswatun, kesadaran kolektif ini menjadi semakin relevan di tengah arus globalisasi, kita juga dihadapkan pada tantangan menjaga jati diri. Teknologi memberi banyak kemudahan sekaligus resiko. Tanpa pendampingan yang tepat, teknologi dapat menggerus nilai.
“Di sinilah pentingnya pendidikan karakter sejak dini : menanamkan integritas, tanggung jawab, empati, dan kecintaan pada ilmu, karena anak-anak hari ini adalah pemimpin masa depan, apa yang kita tanamkan hari ini akan menentukan wajah bangsa di masa mendatang,” ungkapnya
Perempuan energik penyadang gelar Sarjana Ekonomi dan Sarjana Pendidikan ini mengatakan bahwa Hardiknas menjadi momentum memperbarui komitmen bersama. Bukan berhenti pada slogan,tetapi dengan langkah nyata. Sekolah memperbaiki kualitas pembelajaran, guru terus mengembangkan kompetensi, orang tua meningkatkan keterlibatan, organisasi masyarakat menguatkan gerakan literasi serta advokasi pendidikan.
“Pemerintah menghadirkan kebijakan yang adil, pendanaan yang memadai, serta pengawasan yang memastikan setiap anak memperoleh layanan pendidikan yang bermutu tanpa terkecuali,” tegasnya
Tentu, tegas perempuan yang tinggal di kecamatan Sukodadi Lamongan ini mengungkapkan bahwa pendidikan yang bermutu adalah investasi jangka panjang yang mungkin tidak segera tampak. Namun setiap senyum anak yang percaya diri, setiap pertanyaan sederhana yang hadir dari rasa ingin tahu, adalah tanda bahwa benih harapan sedang tumbuh.
“Akhirnya, Hardiknas merupakan seruan hati bagi kita semua untuk melangkah bersama. Ketika partisipasi semesta benar-benar terwujud, kita bukan hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia Indonesia yang berkarakter, berdaya saing, dan berakar kuat pada nilai. Dari situlah masa depan bangsa akan bertumbuh dengan lebih kokoh dan bermartabat,” pungkasnya
Reporter Fathurrahim Syuhadi









