LAMONGAN lintasjatimnews – Pembinaan Mubaligh Muhammadiyah Babat digelar di Gedung Dakwah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Babat, Ahad (6/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas bagi para mubaligh muda, baik dalam bidang keilmuan agama maupun kemandirian ekonomi.
Kegiatan yang diikuti sekitar 30 mubaligh muda se-Kecamatan Babat itu menghadirkan dua pemateri, yakni Drs H Nur Khozin SAg seorang Dai dengan materi Ulumul Hadits serta H Ahmad Arif Rahman Saidi SE MH seorang pengusaha sukses yang menyampaikan materi tentang Entrepreneur.
Dalam penyampaian materi Ulumul Hadits, Drs H Nur Khozin menekankan bahwa seorang dai pada zaman sekarang tidak cukup hanya memiliki kekuatan dalam bidang keilmuan agama. Mubaligh juga dituntut memiliki kemandirian dalam kehidupan, termasuk dalam aspek finansial.
“Di zaman sekarang dai tidak hanya kuat dalam keilmuannya saja, tetapi juga harus kuat secara finansial. Dengan demikian, dirinya akan lebih mudah dalam menggandeng masyarakat menuju agama yang lurus,” ungkapnya.
Menurutnya, dakwah membutuhkan daya dan keberdayaan. Salah satu bentuk keberdayaan tersebut dapat dimulai dari kemandirian seorang mubaligh. Dengan kondisi ekonomi yang mandiri, seorang dai diharapkan lebih leluasa menjalankan aktivitas dakwah dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Sementara itu, H Ahmad Arif Rahman Saidi SE MH yang juga menjabat sebagai Ketua PCM Babat menyampaikan materi bertema “Dai Berdaya, Dakwah Berjaya”. Ia mengajak para mubaligh muda untuk meneladani tradisi berdagang yang pernah dilakukan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
Menurutnya, Muhammadiyah memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dilepaskan dari tradisi kemandirian ekonomi. Gerakan Muhammadiyah lahir dari lingkungan para pedagang dan saudagar Kauman. KH Ahmad Dahlan sendiri dikenal sebagai pedagang kain yang memiliki kemandirian secara finansial.
“Kemandirian ekonomi ini menjadi fondasi kekuatan jamaah,” ujarnya.
Sebagai seorang pengusaha, Ahmad Arif Rahman Saidi mendorong para dai agar tidak hanya aktif menyampaikan dakwah secara lisan, tetapi juga mampu membangun usaha. Menurutnya, kewirausahaan dapat menjadi jalan menuju kemandirian finansial sekaligus sarana memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
Ia menyebut setidaknya ada beberapa alasan mengapa dai perlu berwirausaha, antara lain untuk membangun kemandirian finansial, memberikan manfaat kepada orang lain, membuka lapangan pekerjaan, serta menjalankan dakwah melalui perbuatan atau dakwah bil hal.
Di tengah perkembangan teknologi, para mubaligh muda juga didorong untuk mampu membaca peluang usaha di era digital. Perkembangan media sosial dan e-commerce dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk berdakwah, tetapi juga untuk mengembangkan usaha dan memperluas jangkauan manfaat.
“Dai harus mampu melihat tren media sosial dan e-commerce sehingga jangkauan dakwah dan usaha bisa semakin luas,” jelasnya.
Pembinaan tersebut diharapkan mampu melahirkan mubaligh muda Muhammadiyah yang memiliki keseimbangan antara kekuatan ilmu, kemampuan berdakwah, dan kemandirian ekonomi. Dengan demikian, para dai tidak hanya menjadi penyampai pesan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh antusiasme. Para peserta mendapatkan wawasan keagamaan sekaligus motivasi kewirausahaan sebagai bekal untuk menghadapi tantangan dakwah di tengah perubahan zaman.
Reporter: Fathurrahim Syuhadi









