LAMONGAN lintasjatimnews – Keteguhan Nabi Nuh AS dalam menjalankan dakwah selama ratusan tahun menjadi pelajaran penting bagi umat Islam. Pesan tersebut disampaikan Ustadz Amrozi Mufida, Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Babat, dalam Pengajian Subuh di Masjid Muhyidin Babat, Sabtu (5/9/2026).
Pengajian yang mengangkat kajian Sirah Nabawi tersebut diikuti jamaah dengan penuh khidmat. Ustadz Amrozi mengawali tausiyah dengan mengajak jamaah senantiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan.
Ia juga mendoakan agar seluruh amal ibadah jamaah diterima Allah SWT serta ilmu yang diperoleh dari pengajian menjadi ilmu yang bermanfaat dan membawa keberkahan dalam kehidupan.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Amrozi kemudian mengisahkan perjalanan dakwah Nabi Nuh AS berdasarkan keterangan Al-Qur’an. Nabi Nuh AS dikenal sebagai salah satu rasul yang memiliki kesabaran dan keteguhan luar biasa dalam menghadapi kaumnya.
“Bayangkan, Nabi Nuh AS berdakwah selama 950 tahun. Namun, pengikutnya hanya sekitar 70 orang,” terang Ustadz Amrozi.
Menurutnya, panjangnya masa dakwah dan sedikitnya jumlah pengikut tidak membuat Nabi Nuh AS berhenti atau menyerah. Beliau tetap menjalankan amanah Allah SWT dengan penuh kesabaran dan istiqamah.
Nabi Nuh AS juga termasuk salah satu rasul yang masuk dalam kelompok Ulul Azmi, yaitu para rasul yang memiliki keteguhan luar biasa dalam menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan tugas kenabian.
Istighfar Membuka Pintu Rahmat Allah
Salah satu pesan Nabi Nuh AS kepada kaumnya yang sangat relevan untuk diamalkan umat Islam hingga sekarang adalah memperbanyak istighfar. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam QS. Nuh ayat 10–12 “Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10–12).
Ustadz Amrozi menjelaskan, istighfar bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan. Istighfar merupakan bentuk kesadaran seorang hamba atas dosa, kekurangan, kelemahan, sekaligus pengakuan bahwa manusia senantiasa membutuhkan ampunan dan pertolongan Allah SWT.
Karena itu, jamaah diajak membiasakan diri memperbanyak istighfar dalam kehidupan sehari-hari. Istighfar dapat diamalkan setelah melaksanakan ibadah maupun ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Dakwah Tidak Selalu Diukur dari Jumlah Pengikut
Dari kisah Nabi Nuh AS, Ustadz Amrozi mengajak jamaah memahami bahwa keberhasilan dalam berdakwah dan berbuat kebaikan tidak selalu dapat diukur dari banyaknya orang yang mengikuti.
Yang lebih utama adalah kesetiaan dalam menjalankan amanah, keikhlasan, kesabaran, dan istiqamah dalam kebaikan.
“Jangan mudah menyerah ketika kebaikan yang kita lakukan belum mendapatkan hasil seperti yang kita harapkan. Nabi Nuh AS telah memberikan teladan tentang kesabaran dan istiqamah,” pesannya.
Menurutnya, kehidupan manusia juga tidak lepas dari berbagai ujian. Karena itu, seorang Muslim harus terus berusaha, berdoa, memperbaiki diri, dan tidak berhenti memohon ampun kepada Allah SWT.
Pengajian Subuh di Masjid Muhyidin Babat tersebut menjadi momentum bagi jamaah untuk mengambil hikmah dari perjalanan dakwah Nabi Nuh AS. Keteguhan dalam menjalankan kebaikan, memperkuat kesabaran, serta memperbanyak istighfar diharapkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Reporter: Fathurrahim Syuhadi









