Tinggalkan Jejak yang Baik, Karena Jejak Itu Lebih Panjang Umurnya daripada Pemiliknya

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Setiap manusia memiliki batas waktu dalam perjalanan hidupnya. Kita datang ke dunia dengan membawa harapan, menjalani kehidupan dengan berbagai pengalaman, kemudian pada waktunya akan meninggalkan dunia. Namun, ada sesuatu yang dapat tetap hidup meskipun pemiliknya telah tiada, yaitu jejak kebaikan.

Jejak tidak selalu berbentuk nama besar, jabatan tinggi, atau prestasi yang tercatat dalam sejarah. Jejak dapat berupa ilmu yang pernah diajarkan, nasihat yang menguatkan, bantuan yang meringankan beban, senyum yang memberikan ketenangan, atau kebaikan kecil yang mengubah kehidupan seseorang. Sering kali kita tidak menyadari bahwa tindakan sederhana yang kita lakukan hari ini dapat dikenang dan memberikan manfaat jauh setelah kita tidak lagi berada di tempat tersebut.

Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak berhenti pada apa yang dimiliki, tetapi juga pada amal yang ditinggalkan. Allah Swt berfirman dalam QS. Yasin ayat 12 “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa apa yang kita lakukan dan jejak yang kita tinggalkan memiliki nilai di hadapan Allah SWT. Karena itu, setiap langkah seharusnya dipikirkan dengan baik. Jangan sampai kita meninggalkan luka ketika sebenarnya kita memiliki kesempatan untuk meninggalkan manfaat.

Rasulullah Saw juga bersabda “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”(HR. Muslim)

Hadis ini memberikan gambaran tentang bagaimana kebaikan dapat terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia. Sedekah jariyah tetap memberikan manfaat, ilmu yang diajarkan terus digunakan, dan anak saleh meneruskan doa serta kebaikan. Inilah bentuk jejak yang panjang umurnya daripada pemiliknya.

Karena itu, jangan terlalu sibuk bertanya apakah dunia akan mengingat nama kita. Lebih penting bertanya, apa yang akan kita tinggalkan untuk dunia? Apakah kita meninggalkan ilmu atau kebingungan? Kedamaian atau konflik? Harapan atau keputusasaan? Manfaat atau justru masalah?

Seorang guru meninggalkan jejak melalui murid-muridnya. Orang tua meninggalkan jejak melalui karakter anak-anaknya. Seorang pemimpin meninggalkan jejak melalui generasi yang dibinanya. Seorang sahabat meninggalkan jejak melalui kebaikan yang pernah diberikan. Bahkan seseorang yang merasa dirinya bukan siapa-siapa pun dapat meninggalkan jejak besar melalui ketulusan dalam melakukan kebaikan.

Tidak semua jejak harus terlihat oleh banyak orang. Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh Allah. Membantu seseorang secara diam-diam, memberikan sedekah tanpa diketahui, mendoakan orang lain, atau memaafkan kesalahan seseorang mungkin tidak pernah masuk dalam catatan manusia, tetapi semuanya memiliki nilai di sisi Allah.

Maka, selama masih diberikan kesempatan hidup, mari memilih jejak yang baik. Gunakan waktu untuk menebar manfaat, gunakan ilmu untuk mencerdaskan, gunakan harta untuk berbagi, dan gunakan kedudukan untuk melayani.

“Hidup boleh singkat, tetapi kebaikan dapat berumur panjang. Jangan hanya mengejar bagaimana dikenang, tetapi berusahalah meninggalkan sesuatu yang layak dikenang.”

Pada akhirnya, manusia mungkin akan pergi, jabatan akan berganti, dan usia akan berakhir. Namun, jejak kebaikan dapat terus berjalan dari satu hati ke hati yang lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tinggalkan jejak yang baik, karena jejak itu lebih panjang umurnya daripada pemiliknya.

Penulis Fathurrahim Syuhadi,