Ketika Usia Mengajarkan Kita untuk Menunduk

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Tidak terasa, perjalanan hidup telah membawa kita hingga pada usia yang semakin matang. Tahun demi tahun berlalu begitu cepat. Wajah mulai menyimpan jejak waktu, rambut perlahan memutih, langkah tak lagi secepat dahulu, dan tubuh mulai akrab dengan berbagai keluhan. Semua itu bukan sekadar proses alamiah, melainkan pesan lembut dari Allah bahwa kehidupan dunia memiliki batas.

Pada usia seperti ini, mungkin kita tidak lagi membutuhkan tepuk tangan manusia. Kita tidak lagi sibuk membuktikan siapa diri kita. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa Allah ridha kepada kita. Sebab pada akhirnya, bukan penghargaan manusia yang akan menyelamatkan, melainkan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba yang beriman dan bertakwa.

Usia yang terus bertambah seharusnya membuat hati semakin merunduk. Kesombongan tidak lagi memiliki tempat. Keangkuhan tidak lagi pantas dipelihara. Yang ada hanyalah keinginan untuk memperbaiki diri, memohon ampun atas segala dosa, dan mengisi sisa umur dengan amal yang bernilai di sisi-Nya.

Betapa banyak waktu yang telah kita habiskan untuk urusan dunia. Kita bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, mengejar cita-cita, dan memenuhi berbagai tanggung jawab. Semua itu adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar. Namun, jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lupa mempersiapkan perjalanan yang jauh lebih panjang, yaitu kehidupan akhirat.

Kini saatnya memperbanyak langkah menuju masjid. Jadikan azan sebagai panggilan yang selalu dirindukan. Duduklah di saf-saf salat bersama saudara seiman, karena di rumah Allah itulah hati menemukan ketenangan yang tidak mampu diberikan oleh kemewahan dunia.

Dekatkan diri dengan Al-Qur’an. Biarkan ayat-ayatnya menjadi penawar bagi hati yang gelisah, penyejuk bagi jiwa yang lelah, dan petunjuk bagi langkah yang mulai kehilangan arah. Jangan biarkan sehari berlalu tanpa menyapa kalam Allah, karena setiap huruf yang dibaca adalah cahaya yang akan menerangi perjalanan menuju akhirat.

Pilihlah lingkungan yang mendekatkan kepada Allah. Bersahabatlah dengan orang-orang saleh yang mengingatkan ketika kita lalai dan menguatkan ketika iman melemah. Sebaliknya, tinggalkan segala kebiasaan yang dapat menyeret kepada dosa dan maksiat. Tidak ada kenikmatan maksiat yang sebanding dengan penyesalan yang panjang.

Selama pintu taubat masih terbuka, jangan pernah merasa terlambat untuk kembali. Mintalah maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. Lunasilah hutang yang masih menjadi tanggungan. Tunaikan amanah yang belum diselesaikan. Perbanyak sedekah, perbanyak istighfar, dan jangan bosan menebarkan kebaikan, meskipun hanya melalui senyum, doa, atau nasihat yang tulus.

Allah Swt. berfirman “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99).

Ayat ini mengingatkan bahwa pengabdian kepada Allah tidak mengenal kata pensiun. Selama napas masih berhembus, selama jantung masih berdetak, selama itu pula kita diperintahkan untuk terus beribadah dan berbuat baik.

Akhirnya, setiap perjalanan pasti memiliki tujuan. Setiap kehidupan pasti memiliki penghujung. Tidak seorang pun mengetahui kapan lembar terakhir kehidupannya akan ditutup. Karena itu, jangan menunggu esok untuk berubah. Jadikan hari ini sebagai awal memperbaiki diri, memperbanyak amal, memperkuat iman, dan memperindah akhlak.

Semoga ketika saat itu tiba, kita dipanggil bukan dalam keadaan lalai, melainkan sedang bersujud, sedang membaca Al-Qur’an, sedang menolong sesama, atau sedang mengingat nama-Nya. Dan semoga Allah Yang Maha Pengasih menutup seluruh perjalanan hidup kita dengan penutup yang paling indah : husnul khatimah.

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr : 27–30).

Penulis Fathurrahim Syuhadi