Dr. Maftuhah : Deep Learning Berbasis Cinta Menanam Ilmu, Menumbuhkan Peradaban

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Transformasi pendidikan di era modern tidak cukup hanya menghadirkan inovasi metode pembelajaran maupun pemanfaatan teknologi. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu memanusiakan manusia melalui proses belajar yang menghadirkan makna, membangun karakter, dan menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai kehidupan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam materi “Deep Learning Berbasis Cinta” yang disampaikan Dr. Maftuhah, M.Pd., Wakil Ketua I STIT Muhammadiyah Paciran, Jumat (31/7/2026)

Dalam pemaparannya, Dr. Maftuhah menegaskan bahwa pembelajaran mendalam (deep learning) bukan sekadar strategi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan transformatif. Konsep tersebut harus dipahami sebagai proses pendidikan yang melibatkan akal, hati, dan tindakan secara utuh sehingga ilmu yang diperoleh mampu melahirkan kebermanfaatan bagi kehidupan.

“Pendidikan tidak boleh berhenti pada proses transfer pengetahuan. Pendidikan harus menjadi ruang kemanusiaan yang menumbuhkan karakter, membangun kesadaran, dan melahirkan manusia yang mampu menghadirkan kemaslahatan bagi sesama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, paradigma tersebut memiliki landasan yang kokoh dalam ajaran Islam. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW melalui Surah Al-‘Alaq ayat 1-5 menunjukkan bahwa proses membaca, berpikir, dan menuntut ilmu selalu diawali dengan kesadaran kepada Allah SWT. Karena itu, aktivitas intelektual tidak dapat dipisahkan dari dimensi spiritual.

Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa pembelajaran sejati tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan keimanan dan akhlak. Di situlah deep learning menemukan maknanya sebagai proses yang menghubungkan ilmu, iman, dan amal dalam satu kesatuan.

Dr. Maftuhah juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menyatakan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Ayat itu, katanya, menunjukkan bahwa ilmu merupakan jalan menuju kemuliaan manusia. Namun, kemuliaan tersebut hanya akan bermakna apabila ilmu melahirkan akhlak, kebijaksanaan, serta kebermanfaatan bagi masyarakat.

Salah satu poin penting yang ditekankan adalah makna cinta dalam pendidikan. Menurutnya, cinta bukan sekadar ungkapan emosional, melainkan etika pedagogis yang menghargai martabat setiap peserta didik.

“Guru yang mengajar dengan cinta akan melihat setiap anak sebagai pribadi yang memiliki potensi untuk berkembang. Ruang kelas tidak lagi menjadi tempat yang menakutkan, tetapi berubah menjadi taman yang menumbuhkan harapan, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk belajar,” jelasnya.

Pandangan tersebut, lanjutnya, selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 159 yang mengajarkan pentingnya kelembutan dalam memimpin dan mendidik. Sikap penuh kasih sayang akan membangun kepercayaan antara guru dan peserta didik sehingga proses belajar berlangsung lebih efektif dan bermakna.

Secara akademik, Dr. Maftuhah menilai konsep deep learning berbasis cinta juga sejalan dengan paradigma pendidikan abad ke-21 yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam membangun pengetahuan. Pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah. Namun, seluruh kompetensi tersebut harus dibingkai oleh nilai empati, integritas, tanggung jawab sosial, dan kasih sayang agar ilmu pengetahuan benar-benar membawa kemaslahatan.

Dalam perspektif pendidikan Islam, lanjutnya, tujuan akhir pendidikan bukan hanya menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga melahirkan insan kamil, yakni manusia yang utuh dalam dimensi spiritual, intelektual, emosional, dan sosial. Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi semesta alam sehingga setiap proses pendidikan semestinya menghadirkan nilai-nilai rahmat dalam setiap interaksi pembelajaran.

Mengakhiri pemaparannya, Dr. Maftuhah mengajak seluruh pendidik untuk terus menumbuhkan semangat belajar yang berlandaskan cinta. Ia mengutip doa dalam Surah Taha ayat 114, “Rabbi zidni ‘ilma” (Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan), sebagai pengingat bahwa ilmu sejati akan melahirkan kerendahan hati untuk terus belajar dan mencintai kebenaran.

“Ketika cinta menjadi fondasi pembelajaran, ilmu tidak hanya memenuhi ruang pikiran, tetapi juga menerangi ruang batin. Dari perpaduan keduanya akan lahir generasi yang cerdas, berakhlak, dan mampu membangun peradaban yang lebih baik,” pungkasnya.

Reporter Fathurrahim Syuhadi