SURABAYA lintasjatimnews – Dalam perjalanan hidup, tidak ada seorang pun yang terbebas dari ujian. Ada yang diuji dengan kesulitan ekonomi, kehilangan orang yang dicintai, kegagalan dalam pekerjaan, sakit, maupun persoalan hati yang tidak mudah diselesaikan.
Semua itu merupakan bagian dari sunatullah yang berlaku bagi setiap manusia. Bagi seorang mukmin, ujian bukanlah tanda bahwa Allah membencinya, melainkan salah satu bentuk kasih sayang Allah untuk menguatkan iman dan mengangkat derajat hamba-Nya.
Rasulullah saw. bersabda “Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka baginya keridaan Allah. Dan barang siapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.”(HR. At-Tirmidzi no. 2396)
Hadis ini mengajarkan bahwa ujian adalah bagian dari pendidikan ilahi. Allah tidak menguji hamba-Nya tanpa tujuan. Di balik setiap kesulitan terdapat hikmah, pelajaran, dan kesempatan untuk semakin mendekat kepada-Nya.
Sering kali Allah menguji kita pada saat yang tidak kita duga dan dalam keadaan yang tidak pernah kita rencanakan. Bahkan, yang diuji sering kali adalah titik terlemah dalam diri kita. Ada yang diuji melalui perasaan yang tidak pada tempatnya, sehingga harus belajar mengendalikan hati.
Ada yang diuji dengan pekerjaan yang tidak kunjung membaik, usaha yang mengalami kegagalan, atau kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Ada pula yang diuji dengan kesehatan, fitnah, atau berbagai kesulitan lainnya. Semua ujian itu berbeda-beda karena Allah lebih mengetahui kemampuan setiap hamba-Nya.
Tidak ada dua orang yang memiliki ujian yang sama. Setiap manusia memiliki kadar ujian sesuai dengan kekuatan iman dan kesanggupannya. Allah Yang Maha Adil tidak akan membebani seseorang melebihi batas kemampuannya. Karena itu, seorang mukmin tidak perlu membandingkan ujian dirinya dengan orang lain, melainkan berusaha mengambil hikmah dan memperbaiki hubungannya dengan Allah.
Perbedaan antara orang yang beriman dan orang yang tidak beriman tampak dari cara mereka menyikapi ujian. Orang yang beriman menjadikan musibah sebagai jalan untuk memperbanyak doa, memperbaiki ibadah, bersabar, dan bertawakal kepada Allah.
Sebaliknya, orang yang jauh dari Allah cenderung mengeluh, menyalahkan keadaan, bahkan mempertanyakan keadilan-Nya. Padahal, setiap ujian dapat menjadi jalan menuju kemuliaan apabila dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan.
Kesabaran bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan tetap berusaha sambil meyakini bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktu yang terbaik. Demikian pula rasa syukur tidak hanya diwujudkan ketika memperoleh nikmat, tetapi juga ketika menyadari bahwa setiap ujian mengandung kebaikan yang mungkin belum tampak saat ini.
Oleh karena itu, ketika ujian datang, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai akhir dari segalanya. Bisa jadi itulah cara Allah membersihkan dosa, meninggikan derajat, dan mengembalikan hati kita agar lebih dekat kepada-Nya.
Sebagaimana firman Allah Swt.”Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang memperoleh keberkahan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155–157).
Penulis Fathurrahim Syuhadi









