MIM 14 Sumuran Paciran Gelar Pembagian Rapor, Inilah Pesan Kamad

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – MI Muhammadiyah 17 (MIM 17) Sumuran, Paciran, Lamongan menggelar kegiatan Silaturrahim dalam rangka Pembagian rapor Tahun Ajaran 2025-2026. Acara digelar hari Senin (29/6/2026) bertempat di musala madrasah setempat.

Kegiatan silaturrahim dihadiri wali murid kelas I sampai dengan kelas IV, Kepala MIM 17 Sumuran (Ahmad Hafidz, S.Pd.), Sesepuh madrasah (Drs. Kunjali), Sulaiman, M.Pd.I. Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sumuran, Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), serta pembicara Ali Efendi, M.Pd. (Kepala SMPM Jipat Karangasem).

Acara dikemas dengan sederhana yang dipandu MC (Master of Ceremony); dimulai pembukaan, sambutan Kepala MIM 17 Sumuran, motivasi dan pencerahan Ali Efendi, M.Pd. (Kepala SMPM Jipat Karangasem), pembacaraan murid yang berprestasi, serta diakhiri dengan pembagian rapor kepada wali murid di kelasnya masing-masing.

Ahmad Hafidz, S.Pd., Kepala MIM 17 Sumuran, menyampaikan, “Saya menyempaikan terima kasih kepada seluruh wali murid yang hadir dalam memenuhi undangan dari madrasah. Juga kepada bapak dan ibu GTK yang telah bekerjasama dan menyiapkan kegiatan pagi ini dengan baik,” jelasnya.

“Penerimaan rapor merupakan proses belajar murid selama satu tahun (Tahun Ajaran 2025-2026). Nilai-nilai yang tertera dalam lembaran hasil belajar sebagai cerminan kecerdasan akademik. Sesuai dengan petunjuk bahwa ranking dalam rapor tidak boleh ditulis, tetapi madrasah memiliki dokumen nilai,” pungkasnya.

Selanjutnya, Pak hafidz, panggilan akrabnya, “Saya berpesan kepada ibu-ibu wali murid, jangan sampai memarahi, mencubit atau membentak karena hasil nilai mata pelajaran kurang baik. Setiap murid memiliki kemampuan dan kecerdasan yang berbeda-beda, perlu disyukuri bahwa putra-putrinya berakhlak baik,” pesannya.

Sementara itu, Ali Efendi, M.Pd., menyampaikan, “Sebenarnya orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik putra-putrinya, kemudian orang tua mempercayakan kepada lembaga pendidikan untuk mendidiknnya. Maka selama 5 jam putra-putri belajar di madrasah, sedangkan bersama orang tuanya lebih lama,” jelasnya.

“Perlu diingat bapak/ibu wali murid bahwa setiap kecerdasan dan kemampuan murid perlu terwadahi dalam kegiatan ekstrakurikuler. Maka bakat dan minatnya anak berkembang dengan baik sehingga saat masuk perguruan tinggi tidak hanya mengandalkan nilai akademik, tetapi kemampuan lain menjadi pewrtimbangan utama,” pungkasnya.

Di akhir paparannya, Ali Efendi, M.Pd., mengutip ayat Alquran dalam surat An-Nisa’: 9, ayat ini sebagai bahan renungan dan evaluasi yang mendalam. Jangan sampai kita memiliki keturunan (anak dan cucuk) yang lemah dalam bidang iman, akidah, keilmuan, ekonomi dan sebagainya. Generasi kita harus kuat dan tangguh sehingga mampu menghadapi tantangan zaman.

Reporter: Efendy