Kuliah S3 Program Doktor Membuka Cakrawala Dunia, Menjadi Penerang dan Cahaya Berpikir Kaum Perempuan

Listen to this article

JAYAPURA lintasjatimnews – Semangat menuntut ilmu tanpa mengenal batas usia dan wilayah ditunjukkan oleh Ratih Amalia Lestari, S.Pd., M.Pd. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) di tanah kelahirannya, Papua, dan melanjutkan studi magister (S2) di Semarang, kini ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) pada Program Doktor Pendidikan Agama Islam Kelas A di Universitas Islam Sultan Agung.

Bagi Ratih Amalia Lestari, perjalanan akademik yang ditempuh bukanlah semata-mata untuk meraih gelar akademik tertinggi. Lebih dari itu, pendidikan doktor merupakan sarana untuk memperluas cakrawala berpikir, meningkatkan kapasitas diri, serta memperkuat kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Pendidikan doktor membuka wawasan yang lebih luas tentang dunia ilmu pengetahuan. Melalui proses ini, seseorang dilatih untuk berpikir kritis, sistematis, dan mampu menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat. Gelar doktor bukan sekadar kebanggaan pribadi, tetapi amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan,” ujar Ratih Amalia Lestari.

Sebagai pendidik, ustadzah, dosen, sekaligus tokoh muda perempuan di Jayapura, Ratih menyadari bahwa kaum perempuan memiliki peran strategis dalam membangun peradaban. Menurutnya, perempuan yang berpendidikan tinggi dapat menjadi penerang bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas.
“Perempuan yang memiliki keluasan ilmu akan mampu menjadi cahaya bagi generasi. Pendidikan tidak hanya mengangkat derajat pribadi, tetapi juga menjadi jalan untuk memajukan umat, bangsa, dan negara. Karena itu, perempuan tidak boleh berhenti belajar dan berkarya,” tuturnya.

Ratih menambahkan bahwa keputusannya melanjutkan studi doktoral dilandasi keinginan untuk terus meningkatkan kemampuan berpikir, meneliti, dan menghasilkan karya-karya ilmiah yang bermanfaat. Ia berharap ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan doktor dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam, khususnya di Papua dan Indonesia secara umum.

Menurutnya, tantangan pendidikan di era modern menuntut hadirnya sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral dan kepedulian sosial. Oleh karena itu, pendidikan tinggi harus diarahkan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin intelektual yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

“Ilmu yang saya peroleh nantinya harus kembali kepada masyarakat. Saya ingin menjadi bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, memperkuat pendidikan Islam, serta mendorong lahirnya generasi muda yang berakhlak, berilmu, dan berdaya saing,” ungkapnya.

Ratih juga berharap kehadirannya di jenjang doktoral dapat menjadi motivasi bagi perempuan-perempuan muda Papua untuk terus melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Menurutnya, keterbatasan geografis tidak boleh menjadi penghalang untuk meraih cita-cita dan mengembangkan potensi diri.

“Anak-anak muda Papua, khususnya perempuan, harus berani bermimpi besar. Pendidikan adalah jembatan untuk mengubah masa depan. Dengan ilmu pengetahuan, kita dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan daerah tempat kita berasal,” katanya.

Perjalanan akademik Ratih Amalia Lestari menjadi bukti bahwa semangat belajar sepanjang hayat merupakan kunci kemajuan. Melalui pendidikan doktoral yang sedang ditempuhnya, ia berharap dapat menjadi penerang dan cahaya berpikir bagi kaum perempuan, sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.

Reporter Fathurrahim Syuhadi