SURABAYA lintasjatimnews – Masjid sejak awal merupakan pusat pembinaan umat yang tidak hanya membentuk kedisiplinan ibadah, tetapi juga melahirkan generasi yang berkarakter Qurani. Generasi Qurani adalah generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, akhlak sebagai identitas, dan masjid sebagai pusat pembinaan diri.
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh tantangan moral dan spiritual, membangun generasi Qurani dari masjid menjadi kebutuhan yang sangat mendesak agar umat memiliki arah yang jelas dalam kehidupan.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus…” (QS. Al-Isra: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah sumber utama petunjuk hidup manusia. Maka, membangun generasi Qurani berarti membentuk generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Masjid sebagai pusat pembelajaran Islam memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an sejak dini kepada umat, khususnya generasi muda.
Nabi Muhammad Saw. bersabda “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang muslim sangat terkait dengan interaksinya terhadap Al-Qur’an, baik dalam belajar maupun mengajarkannya. Masjid menjadi tempat terbaik untuk mewujudkan hadis ini, karena di dalamnya berlangsung proses pembelajaran, pengajaran, dan pembiasaan nilai-nilai Al-Qur’an secara berkelanjutan.
Membangun generasi Qurani dari masjid berarti menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan Al-Qur’an yang hidup dan dinamis. Masjid tidak hanya menjadi tempat salat berjamaah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran Al-Qur’an yang menyenangkan bagi anak-anak, remaja, dan orang dewasa.
Kegiatan seperti tahsin, tahfidz, tafsir, dan kajian nilai-nilai Al-Qur’an perlu dihidupkan secara konsisten di lingkungan masjid.
Pertama, masjid harus menjadi pusat pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini. Anak-anak perlu dikenalkan dengan Al-Qur’an melalui metode yang lembut, menyenangkan, dan sesuai dengan perkembangan usia mereka. Dengan pendekatan ini, kecintaan terhadap Al-Qur’an akan tumbuh secara alami dalam diri mereka.
Kedua, masjid perlu membangun sistem pembinaan berjenjang bagi generasi muda. Remaja masjid dapat diarahkan untuk mengikuti program tahfidz, kajian tafsir tematik, serta pelatihan pemahaman nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan membentuk generasi yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan mengamalkannya.
Ketiga, masjid harus menjadi lingkungan yang mendukung internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial. Nilai kejujuran, amanah, kepedulian, disiplin, dan kasih sayang harus menjadi budaya yang hidup di lingkungan masjid dan jamaahnya.
Keempat, peran guru ngaji, takmir, dan orang tua sangat penting dalam membangun ekosistem Qurani di masjid. Sinergi antara keluarga dan masjid akan memperkuat proses pembentukan karakter generasi Qurani secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Masjid harus menjadi ruang yang menenangkan, mendidik, dan menguatkan generasi muda agar tidak terjerumus dalam krisis nilai. “Generasi Qurani lahir dari masjid yang hidup dengan Al-Qur’an, dan dari generasi itulah masa depan umat akan bersinar dengan cahaya petunjuk Allah Swt.”
Penulis Fathurrahim Syuhadi









