Pengajian Subuh Bersama KH Muntholib Sukandar di Masjid Muhyidin Babat

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Pengajian Subuh yang berlangsung di Masjid Muhyidin Babat menghadirkan KH Muntholib Sukandar sebagai penceramah. Kegiatan yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan tersebut berlangsung khidmat dan penuh perhatian, terutama karena materi yang disampaikan berkaitan dengan makna Tahun Baru Hijriyah serta pelajaran sejarah perjuangan umat Islam, Sabtu (13/6/2026)

Dalam ceramahnya, KH Muntholib Sukandar ini mengawali pengajian dengan mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa mengucapkan syukur kepada Allah Swt atas segala rahmat, nikmat, kesehatan, dan kesempatan yang diberikan hingga dapat menunaikan ibadah dan menghadiri majelis ilmu. Beliau kemudian mengutip ayat suci Al-Qur’an sebagai pengingat agar umat Islam senantiasa meningkatkan ketakwaan dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan di dunia maupun akhirat.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan ini menjelaskan tentang sejarah penetapan kalender Hijriyah. Menurut beliau, awal penanggalan Hijriyah ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, berbagai sistem kalender seperti kalender Masehi, Hindu, dan Buddha telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat di berbagai wilayah.

Beliau menjelaskan bahwa penetapan tahun Hijriyah tidak dimulai dari kelahiran maupun wafatnya Nabi Muhammad Saw, melainkan dari peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah dipilih karena menjadi tonggak penting perjuangan umat Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi merupakan simbol perubahan, pengorbanan, dan perjuangan dalam menegakkan ajaran Islam.

“Manusia akan dikenang dari amal dan perjuangannya,” ujar KH Muntholib Sukandar. Oleh karena itu, peristiwa hijrah dipandang sebagai momentum besar yang membawa perubahan bagi perkembangan dakwah Islam dan menjadi penanda kebangkitan umat.

Lebih lanjut, beliau menguraikan berbagai lika-liku perjuangan Khalifah Umar bin Khattab dalam mengembangkan dan memperluas syiar Islam ke berbagai wilayah. Dari sejarah tersebut, umat Islam diajak untuk mengambil hikmah dan meneladani semangat para tokoh terdahulu yang berjuang dengan penuh keikhlasan dan keberanian.

Menurut beliau, mempelajari sejarah sangat penting agar generasi sekarang memahami perjuangan para pendahulu serta tidak melupakan nilai-nilai kejujuran dan keadilan yang mereka perjuangkan. Dalam tausiyahnya, beliau juga mengingatkan bahwa kedzaliman dan kebohongan sering berjalan beriringan dan dapat merusak kehidupan masyarakat.

Menutup pengajian, KH Muntholib Sukandar menyinggung kondisi perekonomian saat ini yang dinilai penuh tantangan. Beliau mengajak jamaah untuk tetap bersabar, bekerja keras, menjaga kejujuran, serta memperkuat keimanan agar mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan bijaksana dan penuh optimisme.

Reporter Fathurrahim Syuhadi