SURABAYA lintasjatimnews – Kehidupan ini selalu berjalan beriringan antara suka dan duka, kemudahan dan kesulitan, pujian dan celaan. Tidak ada manusia yang hidup tanpa ujian, sebagaimana tidak ada malam tanpa gelap. Namun yang membedakan seseorang dengan yang lainnya adalah cara memandang setiap peristiwa dalam hidupnya.
Ada orang yang selalu mampu melihat hikmah di balik musibah. Ia tetap tersenyum walau keadaan belum sempurna. Hatinya penuh syukur, lisannya dipenuhi doa, dan pikirannya dipenuhi harapan baik. Sebaliknya, ada pula yang selalu melihat kekurangan, kesalahan, dan keburukan dalam segala hal. Hidup terasa berat, hati mudah gelisah, dan kebahagiaan terasa jauh.
Sesungguhnya, cara kita memandang hidup sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa kita. Jiwa yang sehat akan memancarkan pikiran yang sehat. Orang yang hatinya bersih akan lebih mudah melihat kebaikan, menghargai nikmat kecil, dan mensyukuri apa yang dimiliki. Dari sanalah ketenangan hidup tumbuh.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua yang tampak buruk benar-benar buruk. Kadang kegagalan justru menjadi jalan menuju keberhasilan. Kesedihan bisa menjadi penguat iman. Kehilangan dapat mendekatkan seseorang kepada Allah Swt
Rasulullah Saw juga bersabda “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu juga baik baginya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin selalu memiliki alasan untuk tetap kuat. Dalam kebahagiaan ia bersyukur, dalam kesedihan ia bersabar. Keduanya sama-sama bernilai ibadah di sisi Allah Swt
Karena itu, ketika kita mulai merasa hidup dipenuhi keburukan, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan dunia di sekitar kita, melainkan hati dan jiwa kita sendiri. Perbanyak istighfar, dekatkan diri kepada Allah, dan latih diri untuk melihat nikmat-nikmat kecil yang sering terlupakan.
Orang-orang yang paling bahagia bukanlah mereka yang selalu memiliki segala yang terbaik. Mereka hanyalah orang-orang yang mampu menjadikan yang terbaik dari setiap keadaan yang Allah hadirkan dalam hidupnya. Mereka belajar menerima, bersyukur, dan terus melangkah dengan hati yang lapang.
Hidup akan terasa indah bukan karena semuanya sempurna, tetapi karena hati mampu menemukan hikmah dan kebaikan dalam setiap keadaan
Penulis Fathurrahim Syuhadi









