Lamongan Masuk 3 Besar Nasional Pemanfaatan SIBI, Praktisi Pendidikan Dorong Percepatan Literasi Digital di Sekolah

Listen to this article

LAMONGAN LintasJatimNews – Kabupaten Lamongan kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Pemerintah Kabupaten Lamongan berhasil meraih penghargaan Terbaik III Nasional Praktik Baik Pemanfaatan Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Penghargaan tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan Lamongan dalam mengembangkan dan memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas akses literasi serta mendukung peningkatan mutu pendidikan. Capaian ini sekaligus menegaskan komitmen daerah dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) merupakan platform digital yang menyediakan berbagai buku teks, buku nonteks, dan sumber belajar yang dapat diakses secara mudah oleh guru maupun peserta didik. Melalui pemanfaatan SIBI, hambatan geografis maupun keterbatasan ketersediaan buku fisik dapat diminimalkan sehingga akses terhadap bahan bacaan berkualitas menjadi lebih merata.

Keberhasilan Lamongan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan pendidikan. Salah satunya disampaikan oleh Muhammad Said, Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Lamongan sekaligus Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan.

Menurutnya, penghargaan yang diraih bukan sekadar prestasi seremonial, melainkan indikator bahwa transformasi digital pendidikan di Lamongan berjalan ke arah yang tepat.

“Penghargaan ini menunjukkan bahwa komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat literasi digital telah membuahkan hasil yang nyata. Ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi digunakan untuk memperluas akses ilmu pengetahuan bagi seluruh peserta didik,” ujarnya.

Muhammad Said menilai, keberhasilan tersebut harus menjadi momentum untuk mempercepat penguatan budaya literasi digital di seluruh satuan pendidikan. Ia mengingatkan bahwa tantangan pendidikan masa kini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sarana belajar, tetapi juga kemampuan memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.

Menurutnya, sekolah-sekolah Muhammadiyah sebagai bagian penting dari sejarah pendidikan modern di Indonesia memiliki peran strategis dalam mengoptimalkan pemanfaatan platform SIBI. Karena itu, momentum penghargaan nasional ini perlu ditindaklanjuti dengan berbagai langkah konkret di tingkat sekolah.

Ia mendorong agar pemanfaatan SIBI tidak hanya menjadi pelengkap pembelajaran, melainkan terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Selain itu, peningkatan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi digital juga harus terus dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan berkelanjutan.

“Guru harus menjadi penggerak literasi digital. Mereka perlu dibekali kemampuan untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar digital sekaligus membimbing murid menggunakan teknologi secara bijak,” katanya.

Lebih lanjut, Muhammad Said juga mengusulkan penguatan budaya membaca digital melalui gerakan sederhana namun berkelanjutan, seperti program “Satu Hari Satu Bacaan Digital”. Program tersebut dinilai dapat membangun kebiasaan membaca sekaligus mengarahkan penggunaan gawai ke aktivitas yang lebih edukatif.

“Anak-anak saat ini hidup di era digital. Tantangannya bukan lagi bagaimana mengenalkan teknologi kepada mereka, tetapi bagaimana mengarahkan teknologi menjadi sarana belajar yang produktif dan bermanfaat,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa konsep pendidikan berkemajuan yang selama ini menjadi semangat berbagai lembaga pendidikan harus diwujudkan melalui kemampuan mengantisipasi perubahan dan kebutuhan masa depan. Literasi digital menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki generasi muda agar mampu bersaing di era global.

Dengan kemampuan literasi digital yang kuat, peserta didik tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi kreator pengetahuan, inovator, dan problem solver yang memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Keberhasilan Lamongan menembus posisi tiga besar nasional dalam pemanfaatan SIBI dinilai sebagai validasi bahwa arah pembangunan pendidikan daerah telah berada di jalur yang benar. Namun demikian, capaian tersebut juga menjadi tantangan untuk terus meningkatkan kualitas implementasi program literasi digital di seluruh sekolah.

Muhammad Said mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari pemerintah daerah, Dewan Pendidikan, organisasi kemasyarakatan pendidikan, sekolah, guru, hingga orang tua, untuk bersama-sama menjaga semangat literasi digital yang telah dibangun.

“Prestasi ini harus menjadi energi positif bagi kita semua untuk terus berinovasi. Mari jadikan SIBI sebagai motor penggerak lahirnya generasi Lamongan yang cerdas digital, kaya literasi, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya.

Dengan penghargaan nasional tersebut, Lamongan semakin menunjukkan kiprahnya sebagai daerah yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga konsisten membangun pendidikan yang inklusif, modern, dan berkemajuan demi mewujudkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.

(red)