SURABAYA lintasjatimnews – Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur, Fathurrahim Syuhadi, menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki peran penting dalam proses lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Menurutnya, kontribusi Muhammadiyah tidak hanya terlihat dalam bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan, tetapi juga dalam perjuangan kebangsaan yang mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan, Senin (1/6/2026).
Fathurrahim Syuhadi menjelaskan bahwa sejak berdiri, Muhammadiyah telah menanamkan nilai-nilai Islam berkemajuan yang menjunjung tinggi toleransi, persatuan, serta tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut selaras dengan semangat Pancasila yang mengedepankan Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.
“Peran Muhammadiyah dalam sejarah bangsa tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan dasar negara. Para tokoh Muhammadiyah telah memberikan pemikiran, gagasan, dan keteladanan yang menjadi bagian penting dalam lahirnya Pancasila sebagai konsensus nasional,” ujar Penulis buku Jejak Sejarah Hizbul Wathan Jawa Timur 2000-2025 ini
Ia menyoroti peran Ki Bagus Hadikusumo sebagai salah satu tokoh Muhammadiyah yang paling berpengaruh dalam perumusan dasar negara. Sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Ki Bagus dikenal konsisten memperjuangkan nilai-nilai Islam. Namun, ia juga menunjukkan jiwa kenegarawanan dengan mengutamakan persatuan bangsa dalam proses penyempurnaan Piagam Jakarta demi menjaga keutuhan Indonesia.
Selain itu, Fathurrahim menyebut nama KH. Mas Mansur yang turut memberikan kontribusi besar melalui pemikiran dan perjuangannya dalam mempersiapkan Indonesia merdeka. Sebagai anggota Empat Serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara, Mas Mansur mendorong lahirnya negara yang berlandaskan moralitas, keadilan, dan persatuan.
Kontribusi intelektual juga diberikan oleh Abdul Kahar Muzakir. Menurut Fathurrahim, Abdul Kahar Muzakir berperan penting dalam memastikan keseimbangan antara nilai keagamaan dan kebangsaan sehingga Indonesia dapat berdiri di atas fondasi moral yang kuat sekaligus menghargai keberagaman masyarakat.
Tokoh Muhammadiyah lainnya, Kasman Singodimedjo, juga memiliki andil besar dalam menjembatani berbagai perbedaan pandangan yang muncul selama proses perumusan dasar negara. Sikap moderat dan komitmennya terhadap musyawarah menjadi salah satu faktor penting dalam tercapainya kesepakatan nasional yang melahirkan Pancasila.
Fathurrahim Syuhadi menambahkan bahwa peran sentral Soekarno dalam memperkenalkan konsep Pancasila melalui pidatonya pada 1 Juni 1945 tidak terlepas dari dialog dan kerja sama dengan berbagai elemen bangsa, termasuk para tokoh Muhammadiyah. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi lahirnya Pancasila sebagai dasar negara yang mampu mempersatukan seluruh rakyat Indonesia.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kontribusi Muhammadiyah terus berlanjut setelah kemerdekaan. Melalui jaringan pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai amal usaha yang dimiliki, Muhammadiyah secara konsisten menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan pengamalan Pancasila dalam kehidupan masyarakat.
“Warisan perjuangan para tokoh Muhammadiyah dalam proses lahirnya Pancasila harus terus dikenang dan diteladani. Mereka telah menunjukkan bahwa persatuan, toleransi, dan kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas segala perbedaan. Semangat inilah yang perlu diwariskan kepada generasi muda Indonesia,” pungkas anggota tim penulis buku Membangun Tradisi Baru : Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 2000-2025,
(Redaksi)









