Keshalihan yang Harus Diteruskan : Dari Diri Sendiri hingga Generasi Penerus

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Jangan pernah biarkan keshalihan kita menyendiri tanpa berbagi. Dan jangan pula pernah merasa percaya diri seolah-olah kita mampu membesarkan agama Allah dengan tangan sendiri.

Di usia yang telah tergolong uzur ini, mungkin terasa terlambat jika harus mewakafkan seluruh hidup untuk perjuangan Islam. Namun sejatinya, tak pernah ada kata terlambat bagi siapa pun untuk meniti jejak mulia para Sahabat Nabi Saw mereka yang mengorbankan harta, tenaga, bahkan jiwa, demi tegaknya risalah kenabian.

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk mempersiapkan generasi penerus agar mapan secara ekonomi, berprestise secara sosial, dan gemilang secara akademik. Semua itu tentu baik dan perlu. Namun, pernahkah kita bersungguh-sungguh mempersiapkan mereka sebagai pejuang Islam yang tangguh? Sebagai generasi yang mampu memikul estafet perjuangan yang telah dirintis para pendahulu dengan iman, akhlak, dan keberanian?

Allah Swt telah mengingatkan dengan sangat jelas tentang “perdagangan” yang sejati—perniagaan yang tidak pernah merugi “Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Ash-Shaff: 10–11)

Kesadaran ini seharusnya melahirkan tanggung jawab lintas generasi. Jangan sampai kita meninggalkan keturunan yang rapuh—lemah iman, lemah akhlak, dan rapuh orientasi hidupnya “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan keadaannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berkata dengan perkataan yang benar.”

Betapa indahnya janji Allah bagi mereka yang tidak hanya beriman seorang diri, tetapi juga menuntun anak cucunya dalam jalan keimanan “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan tidak Kami kurangi sedikit pun pahala amal mereka.”(QS. Ath-Thūr: 21)

Maka keshalihan sejati bukanlah keshalihan yang berhenti pada diri sendiri, melainkan yang diwariskan, diteladankan, dan diperjuangkan—hingga menjadi cahaya yang menyambung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Fathurrahim Syuhadi