GRESIK lintasjatimnews – Profesi guru swasta dengan gaji yang sangat minim namun bukan menjadi halangan atau alasan lari dari profesi guru karena profesi guru menurut Tutik Zuliana adalah.
“Menjadi guru bukanlah profesi untuk hidup mewah tapi profesi dari panggilan hati dan rasa pengabdian untuk negeri”
Tutik Juliana bertahun-tahun bersama rekan-rekan seprofesinya mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Hasaniyah Panceng Gresik.(10/10/25).
Dalam kesehariannya di samping mengajar juga beternak menthok dari jenis Jumbo dan Rambon, Asal usul kata Ram-Bon itu sendiri berasal dari kata RAM diambil dari kata Indramayu dan kata BON (Cirebon) perkawinan antara menthok Indramayu dan Cirebon yang membuat Tutik Zuliana memilih jenis Rambon karena Rambon memiliki ciri spesifik berbadan besar bulat dengan bulu batik, berwarna abu-abu, biru, hijau atau hitam
Karena berbadan besar harga jual pun cukup lumayan mahal.
Bersama ibu-ibu yang lain yang terkumpul dalam Paguyuban Perempuan Hebat (P2H) yang mengelola tanah Djawatan Kehutanan (DK) Perhutani RPH Panceng BKPH Kranji KPH Tuban, di mana lahan tersebut digunakan untuk sosial sebagai bentuk Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) Perhutani kepada masyarakat desa hutan setempat.
Di situlah Tutik Zuliana dan rekan-rekannya beternak mentok karena lahan DK di tanami jenis sayuran yang menjadi pendukung pakan mentok sehingga biaya pakan bisa lebih sedikit.
Mentok yang siap reproduksi kisaran berumur 6 atau 7 bulan bisa bertelur antara 12 sampai 13 butir. Telur di erami sampai menetas selama 42 hari, jelas Tutik Zuliana.
Jika ingin cepat reproduksi kembali maka setelah menetas anakan mentok (minti) harus dipisah dari induknya, sambung nya.
Ida Ika salah satu anggota P2H juga menjelaskan seandainya tidak ada lahan sayur yang mendukung pakan mentok tentunya beternak mentok akan rugi pada harga pakan.
Reporter: Sri k









