Ketua Majelis Dikdasmen PNF PD Muhammadiyah Lamongan, Bertindak Sebagai Khotib Idul Fitri

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews.com – Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PD Muhammadiyah Lamongan Muhammad Said, S.Pd. M.Pd. bertindak sebagai imam dan Khotib shalat Idul Fitri yang diselenggarakan Pimpinan Ranting Muhammdiyah Kedyung, Laren di halaman SMP Muhammadiyah 27 Kefuyung, Rabu (10/04/2024)

Sekitar uga ratusan jamaah yang hadir dalam pelaksanaan shalat idul fitri di halaman SMP Muhammadiyah 17 yang bersebelahan dengan Masjid At-Taqwa, Keduyung.

Mengawali paparan khutbahnya, Khatib menyapa jamaah dan mengucapkan tahniah, doa dan permohonan maaf. Dalam kesempatan ini Khotib menyampaikan ucapan Sealamat haru raya Idul Fitri, Taqobballahu minnaa wa minkum minal aaidin wal faizin, kullu aamin wa antum bi khoirin. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua, semoga kita kembali menjadi fitrah dan meraih kesuksesan, dan semoga setiap tahun kita selalu dalam kebaikan.

Selanjutnya, Khotib menyitir Quran Surat Albaqoroh ayat 183, dan menguraikan makna taqwa. Takwa adalah menjalankan segenap perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya dan hasilnya akan dijauhkan dari siksa neraka. Seluruh sifat dan hal yang baik harus dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa sebagai buah berpuasa. Sifat-sifat baik itu antara lain sifat jujur, amanah, adil, berbuat baik dengan tetangga, santun dalam bertutur, sopan dalam bertindak, serta segala kebaikan yang membawa kemaslahatan hidup.

Dalam bermuamalah, Orang bertakwa itu selalu melakukan dengan cara halal dan baik termasuk dalam berniaga, berpolitik, maupun berwirausaha.

Orang bertakwa bahkan harus baik pada sesama manusia, meskipun orang itu berbeda agama, suku, ras, dan golongan. Hal tersebut sebagai wujud ihsan dalam bermuamalah duniayawiyah

Takwa yang sebenar-benarnya takwa adalah bertakwa dalam jiwa, pikiran, dan tindakan. Bukan bertakwa dalam batas-batas retorika atau kata-kata saja.

Insan bertaqwa selalu bertaqarrub kepada Allah dan menjalani kehidupan dengan benar, baik, dan patut sesuai syariat (tuntunan ajaran) Islam. Ketaatan dalam beribadah harus membuahkan ihsan, termasuk dalam menahan marah, berujar dengan kata-kata yang baik dan santun.
Insan muttaqin itu senantiasa beriman, berilmu, dan beramal shalih dengan sepenuh hati untuk meraih kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.

Orang bertakwa itu hidupnya bersih lahir batin, disiplin, tanggung jawab, taat aturan, suka bekerja keras, berani dalam kebenaran, malu bila bersalah, serta memiliki kehormatan dan martabat yang tinggi.

Orang bertakwa itu pandai bersyukur atas segala nikmat Allah sekaligus tetap bersabar bila menerima ujian, musibah, atau hal-hal yang tidak menyenangkan.

Lebih lanjut Khotib memaparkan perwujudan rasa syukur. Sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah, kita perlu mengaplikasikannya dengan tiga rukun syukur sebagai berikut:

Syukur bil janan (bil qolbi), syukur dengan hati. Merasa berterima kasih atas beragam nikmat besar yang telah kita terima dari Allah ta’ala.

Syukur bil lisan, syukur dengan lisan, kita ungkapkan kegembiraan kita dengan mengucap hamdalah tahmid, takbir, tasbih, dan perkataan-perkataan baik yang lain.

Syukur bil arkan, syukur dengan anggota badan, kita tunaikan shalat Idul Fitri, kita buat ibadah badaniyah yang lain, silaturahim, bersedekah dan lain sebagainya.

Jangan kita artikan, untuk mengungkapkan rasa syukur di hari raya harus dengan bentuk menyajikan makanan yang serba lezat, pakaian dan kendaraan yang baru dan mewah. Demikian paparan khotib tentang perwujudan rasa syukur.

Lebih lanjut khotib juga memaparkan keterkaitan puasa, taqwa, dan ihsan. Jika setiap muslim mampu menahan diri dari nafsu makan, minum, dan pemenuhan biologis sebagai representasi sangkar besi dunia maka dia akan menjadi insan yang ihsan, yakni manusia yang mampu berbuat kebajikan utama karena dirinya terkendali dan memahami sesuatu yang luhur dalam kehidupannya.

Pondasi ihsan adalah keyakinan bahwa Tuhan senantiasa menyaksikan dan menyertai diri setiap muslim yang berbuat kebajikan laksana ibadah yang disaksikan Allah SWT.

Pasca-Ramadhan dan Idul Fitri ini, pesan berbuat ihsan harus hadir dalam kehidupan setiap insan beriman di negeri ini. Karena kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan di negeri kita saat ini membutuhkan nilai-nilai mulia ihsan.

Khotib menyitir Firman Allah dalam Al Quran Surat An-Nahl ayat 9, yang artinya “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

Sebagai bagian dari umat Islam, sesuai kapasitas, peran, dan kemampuan kita masing-masing, marilah kita ikut serta menyebarkan nilai-nilai ihsan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagai cermin risalah Islam Rahmatan lil alamin. Menyebarkan pesan-pesan positif yang ma’ruf dan membawa kegembiraan agar umat dan bangsa semakin optimis dan damai dalam berperikehidupan sehari-hari secara bersama-sama. Dan ketika harus menyuarakan peringatan atas hal-hal yang buruk atau munkar, kita gelorakan dengan cara yang ma’ruf pula dalam bingkai yang adil dan ihsan, demikian pesan-pesan positif yang disampaikan khatib dalam khutbahnya.

Sebelum menutup khutbahnya dengan doa, khatib juga menyitir Sabda Nabi Saw yang sangat populer di kalangan umat Islam yang berbunyi “Innama bu’istu li utammima makaarimal akhlak”, Sesungguhnya sku diutus (Allah) tiada lain untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
Khutbah berlangsung lebih kurang setengah jam, khotib menyampaikannya dengan penuh semangt, jamaah tak ada yang beranjak daru duduknya hingga khutbah usai.

Reporter M. Said