LAMONGAN lintasjatimnews – Dr. Hj. Siti Amiroch, S.Si., M.Si. adalah seorang akademisi, peneliti, pendidik, dan wirausaha perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan, keluarga, dan pengabdian kepada masyarakat. Lahir di Lamongan pada 11 Februari 1973, ia membuktikan bahwa usia, tanggung jawab keluarga, dan tantangan kehidupan bukanlah penghalang untuk terus belajar, berkarya, dan meraih cita-cita. Sebagai Associate Professor di Universitas Islam Darul ‘Ulum (UNISDA) Lamongan, ia menekuni bidang Matematika Terapan, khususnya Bioinformatika, sekaligus aktif dalam pengembangan pendidikan, penelitian, kewirausahaan, dan pemberdayaan perempuan.
Berawal dari Lamongan, Bertumbuh Melalui Pendidikan
Siti Amiroch merupakan putri dari almarhum H. Asrep Prayono, seorang pegawai negeri sipil di Kodam V Brawijaya, dan Hj. Djamilah, seorang wiraswasta. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Deket Wetan I, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 2 Lamongan dan SMA Negeri 2 Lamongan.
Sejak remaja, jiwa kepemimpinan dan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan telah tumbuh. Saat SMP, ia dipercaya menjadi Ketua OSIS. Ketika SMA, ia menjabat sebagai Sekretaris II OSIS pada tahun pertama, kemudian menjadi Ketua Karya Ilmiah Remaja (KIR) pada kelas dua. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk karakter kepemimpinan, kedisiplinan, dan semangat intelektual yang terus berkembang sepanjang perjalanan hidupnya.
Pendidikan tinggi ditempuhnya di Departemen Matematika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, mulai jenjang sarjana, magister, hingga doktor. ITS menjadi tempat yang menempa dirinya untuk tumbuh sebagai pribadi mandiri, berilmu, berakhlak, dan berdedikasi. Baginya, pendidikan bukan sekadar jalan memperoleh gelar akademik, melainkan proses pembentukan karakter dan sarana untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Mengabdi sebagai Akademisi dan Peneliti
Sejak 1998, Siti Amiroch mengabdikan diri sebagai dosen di UNISDA Lamongan. Dalam perjalanan kariernya, ia dipercaya memimpin Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) selama tiga periode, yakni 2014–2025. Setelah FMIPA bergabung dengan Fakultas Teknik pada November 2025 menjadi Fakultas Sains dan Teknologi, ia mengemban amanah sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Manusia dan Keuangan.
Di bidang akademik, ia menekuni Matematika Terapan, terutama Bioinformatika, yang menghubungkan pendekatan matematis dengan persoalan biologis dan pengolahan informasi hayati. Ia aktif menghasilkan karya ilmiah melalui publikasi di jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus dan jurnal nasional terakreditasi SINTA, menulis buku, serta menjadi pemateri dalam berbagai konferensi ilmiah di dalam dan luar negeri.
Kompetensinya juga memperoleh pengakuan melalui partisipasinya sebagai salah satu dari 12 delegasi Indonesia dalam International Research Enhancement Workshop Indonesia–Taiwan pada 2017. Ia terpilih dari 225 pendaftar di seluruh Indonesia untuk mengikuti program selama dua minggu yang didanai pemerintah Tiongkok.
Dalam bidang penelitian, ia berhasil memperoleh hibah dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk berbagai skema pada 2016–2021. Ia juga mendapatkan hibah Riset Fundamental dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk periode 2026–2027 melalui kompetisi nasional.
Selain meneliti, Siti Amiroch dipercaya menjadi reviewer jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Elsevier di Amsterdam, Springer Nature di Jerman, dan Taylor & Francis di Inggris.
Ia beberapa kali diundang sebagai narasumber dalam lokakarya yang diselenggarakan oleh Indonesian Association of Pattern Recognition (INAPR) dan Professor Nidom Foundation. Kiprahnya memperlihatkan bahwa seorang akademisi dari daerah dapat berkontribusi dalam jejaring ilmu pengetahuan yang melampaui batas institusi dan wilayah.
Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat
Salah satu fase paling menantang dalam hidupnya adalah ketika menempuh pendidikan doktoral. Pada masa itu, ia tetap menjalankan tugas sebagai dekan FMIPA, aktif dalam organisasi, mendampingi suami yang bertugas di luar kota, serta membersamai keempat anaknya.
Di tengah kesibukan tersebut, ia memilih untuk terus melangkah. Setelah menyelesaikan pendidikan magister pada 2012–2014, ia melanjutkan studi doktoral sekitar lima tahun berikutnya, ketika berusia kurang lebih 47 tahun.
Keputusan itu menjadi bukti bahwa semangat belajar tidak dibatasi oleh usia. Menurutnya, rasa takut menghadapi tantangan akademik tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk berkembang. Ketekunan, disiplin, manajemen waktu, dan keyakinan menjadi modal penting untuk menyelesaikan perjalanan panjang tersebut.
Pengalaman ini sekaligus menjadi pesan bagi rekan sejawat, generasi muda, dan perempuan yang masih ragu melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Selama kesempatan dan kemauan masih ada, selalu terbuka ruang untuk bertumbuh.
Di balik kesibukan akademik dan organisasi, Siti Amiroch adalah seorang ibu dari empat anak. Putra pertamanya merupakan lulusan ITS dari Departemen Teknik Transportasi Laut dan bekerja di Indolacto Jakarta. Putra keduanya lulusan Departemen Teknik Informatika ITS dan bekerja sebagai konsultan teknologi informasi di Jakarta. Putri ketiganya menempuh pendidikan Teknik Industri di ITS, sedangkan putri keempat merupakan siswi kelas XII SMA Negeri 2 Lamongan dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum OSIS.
Dalam mendidik anak-anaknya, ia menekankan pentingnya kemandirian, disiplin, dan kerja keras. Namun, semua itu harus berlandaskan agama, akidah, dan akhlak. Baginya, keberhasilan orang tua bukan semata-mata dilihat dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari kemampuan mendampingi anak-anak agar tumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab dan berkarakter. Keluarga menjadi sumber kekuatan sekaligus ruang pengabdian yang tidak pernah ia abaikan.
Merintis Rumah Busana Amira: Menghidupkan Kecintaan pada Dunia Usaha
Selain menjadi dosen, Siti Amiroch memiliki jiwa kewirausahaan. Kecintaannya pada dunia mode yang tumbuh sejak SMA mendorongnya merintis Rumah Busana Amira pada 2005, sebuah butik busana muslim yang berkembang dan memiliki pelanggan loyal.
Usaha tersebut menjadi ruang aktualisasi kreativitas sekaligus bukti bahwa seorang akademisi dapat mengembangkan potensi di luar bidang keilmuannya. Ia mengelola bisnis itu dengan kesungguhan dan totalitas, sembari tetap menjalankan peran sebagai dosen dan ibu.
Pandemi COVID-19 menjadi ujian berat ketika Rumah Busana Amira harus tutup selama tiga tahun. Namun, pengalaman tersebut mengajarkan bahwa perjalanan usaha tidak selalu berjalan sesuai harapan. Baginya, kewirausahaan tidak hanya berbicara tentang keuntungan, tetapi juga keberanian mengambil keputusan, kreativitas, kemandirian, dan kemampuan bertahan menghadapi perubahan.
Aktif Berorganisasi dan Memberdayakan Perempuan
Siti Amiroch juga memiliki pengalaman panjang dalam organisasi. Ia pernah aktif sebagai pengurus inti Ikatan Wanita Bank Rakyat Indonesia (IWABRI) di sejumlah daerah, antara lain Pamekasan, Jombang, Lamongan, Blora, Rembang, dan Pati. Aktivitas tersebut mengikuti mobilitas penugasan suaminya sebagai salah satu Manager Bisnis Mikro di Bank Rakyat Indonesia.
Pengalaman berorganisasi itu memperluas jejaring sosialnya sekaligus memperkuat kemampuannya dalam mengelola kegiatan, membangun komunikasi, dan menjalankan tanggung jawab di tengah beragam tuntutan kehidupan.
Di lingkungan akademik, ia bergabung dengan sejumlah organisasi profesi, antara lain Indonesian Mathematical Society (IndoMS), Indonesian Biomathematical Society (IBMS), Asosiasi Dosen dan Ahli Republik Indonesia (ADRI), serta International Association of Engineers (IAENG).
Setelah suaminya purna tugas, ia semakin aktif mengembangkan kiprah kewirausahaan melalui Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Cabang Lamongan. Pada periode 2025–2030, ia mengemban amanah sebagai Ketua Komite Tetap Bidang Pendidikan dan Pelatihan. Pada 2026, ia terpilih menjadi Ketua IWAPI Ranting Lamongan untuk masa bakti 2026–2031.
Melalui organisasi tersebut, ia ingin mendorong perempuan agar memiliki keterampilan, wawasan, dan keberanian untuk mengembangkan usaha. Ia juga terlibat dalam kegiatan pembinaan dan motivasi kewirausahaan bagi ibu-ibu PKK Kelurahan Sukorejo, Lamongan.
Kiprahnya di bidang sosial juga tampak melalui keterlibatannya sebagai pengurus Ikatan Alumni SMA Negeri 2 Lamongan (IKASMADA) periode 2021–2026 dan berlanjut pada periode 2026–2031. Bersama para alumni, ia mendukung berbagai program, antara lain santunan Ramadan, Campus Expo, dan sosialisasi pemilihan jurusan perguruan tinggi bagi siswa.
Di lingkungan tempat tinggalnya, ia turut mengemban amanah sebagai bendahara kegiatan kurban, membantu mengelola tabungan warga untuk pengadaan sapi kurban. Baginya, pengabdian tidak selalu harus dimulai dari ruang besar; kontribusi kecil yang dilakukan dengan amanah juga memiliki arti penting bagi masyarakat.
Prife Wellness Gallery: Ikhtiar Pengabdian bagi Masyarakat
Pada fase berikutnya, Siti Amiroch mengembangkan pengabdian masyarakat melalui pendirian Prife Wellness Gallery (PWG) Lamongan, yang menurut keterangannya merupakan PWG pertama di Indonesia. Usaha ini berada di bawah lisensi PT Prife International dan berfokus pada layanan kebugaran serta terapi dengan memanfaatkan perangkat teknologi gelombang terahertz yang dipasarkan dengan nama IteraCare.
Melalui kegiatan tersebut, ia berupaya menghadirkan layanan yang lebih mudah dijangkau masyarakat. Program yang dijalankan antara lain kunjungan ke desa-desa untuk memberikan layanan terapi gratis, terutama bagi warga lanjut usia. Ia juga menyelenggarakan program Jumat Berkah berupa layanan gratis bagi tiga pendaftar pertama satu kali setiap bulan.
Kegiatan ini merupakan bentuk kepeduliannya terhadap masyarakat, khususnya warga Lamongan. Dalam pelaksanaannya, layanan kebugaran dan terapi berbasis perangkat tersebut perlu dipahami sebagai pendamping, bukan pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis yang terbukti secara ilmiah. Kepedulian terhadap kesehatan masyarakat harus selalu disertai informasi yang benar dan perhatian terhadap keselamatan penerima layanan.
Menjadi Perempuan Berdaya, Tangguh, dan Menginspirasi
Perjalanan hidup Dr. Hj. Siti Amiroch memperlihatkan bahwa pengabdian tidak harus dibatasi oleh satu profesi. Ia hadir sebagai dosen dan peneliti, pemimpin fakultas, ibu, pengusaha, aktivis organisasi, sekaligus bagian dari masyarakat yang ingin memberi manfaat nyata.
Berbagai tantangan yang dihadapinya—mulai dari pendidikan doktoral, tanggung jawab keluarga, tugas organisasi, hingga ujian dalam dunia usaha—mengajarkannya bahwa ketangguhan tidak berarti hidup tanpa kesulitan. Ketangguhan adalah kemampuan untuk tetap melangkah, belajar dari pengalaman, dan menemukan makna di balik setiap ujian.
Ia ingin menjadi inspirasi bagi generasi muda agar tidak berhenti belajar, bagi para akademisi agar berani melanjutkan pendidikan, serta bagi perempuan agar percaya pada kapasitas dirinya. Perempuan dapat berilmu tinggi, mandiri secara ekonomi, aktif dalam organisasi, dan berkontribusi bagi masyarakat tanpa mengabaikan nilai-nilai agama, keluarga, serta tanggung jawab yang diembannya.
Bagi Siti Amiroch, semangat adalah energi untuk terus bergerak. Ilmu pengetahuan harus diamalkan, keberhasilan harus dibagikan manfaatnya, dan setiap tantangan dapat menjadi sumber pembelajaran bagi orang lain.
Perjalanan hidupnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan bukan hanya tentang gelar, jabatan, atau usaha yang dibangun. Keberhasilan juga tercermin dari keluarga yang didampingi, ilmu yang dibagikan, perempuan yang dikuatkan, dan masyarakat yang memperoleh manfaat.
Menembus batas, menebar manfaat, dan menginspirasi sesama merupakan benang merah perjalanan seorang perempuan yang terus berupaya menjadikan ilmu, keluarga, dan pengabdian sebagai bagian yang saling menguatkan dalam kehidupannya.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









