Santri Berdaya di Tengah Kuasa Algoritma

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini menegaskan bahwa santri memiliki peran strategis sebagai pelaku perubahan yang tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga menguasai pengetahuan, menjaga integritas, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Hal tersebut disampaikan Dr. Siti Amiroch, M.Si., dosen Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Darul Ulum (UNISDA), dalam refleksinya memperingati Hari Santri Nasional 2026.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia pesantren. Karena itu, pesantren perlu memperbarui metode pembelajaran tanpa meninggalkan tradisi keilmuan dan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi fondasinya.

“Kehidupan pesantren sesungguhnya menyimpan modal pendidikan yang kuat. Mengaji selepas subuh, menyetorkan hafalan, menyimak pengajian, serta membahas persoalan melalui musyawarah membentuk ketekunan dan kebersamaan,” ujar Wakil Dekan bidang SDM, Umum dan Keuangan

Kedekatan antara ustaz dan santri juga menjadi kekuatan pendidikan pesantren karena proses pembelajaran berlangsung tidak hanya melalui penyampaian materi, tetapi juga melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Santri Harus Kritis Menghadapi Kecerdasan Buatan

Dr. Siti Amiroch menilai, salah satu tantangan utama pendidikan santri pada era digital adalah menjaga kedalaman belajar ketika berbagai jawaban dapat diperoleh secara instan melalui teknologi.

Kecerdasan buatan memang dapat membantu menjelaskan konsep, mencari informasi, dan menyusun tulisan. Namun, teknologi tersebut tidak selalu memberikan jawaban yang benar. Santri perlu memiliki kemampuan memeriksa informasi, membandingkan sumber, serta mempertanggungjawabkan kesimpulan yang dibuat.

“Jika santri langsung menyalin jawaban dari kecerdasan buatan, kesempatan bernalar akan menyusut. Karena itu, pembelajaran perlu meminta santri menjelaskan proses, membandingkan sumber, dan mempertahankan kesimpulan melalui dialog,” ungkap Ketua IWAPI Ranting Lamongan 2026-2031

Sebagai dosen Matematika, ia menekankan pentingnya kemampuan menguji alasan dan memahami proses berpikir. Santri tidak cukup hanya mengetahui hasil akhir, tetapi juga perlu memahami mengapa suatu jawaban benar, bagaimana data diperoleh, dan sejauh mana kesimpulan dapat dipercaya.

Pembelajaran tersebut dapat diterapkan melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan pesantren, seperti menghitung kebutuhan air asrama, membaca pencatatan koperasi, hingga mengukur jumlah sampah harian.

Dengan demikian, matematika tidak hanya dipelajari sebagai kumpulan rumus, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami dan menyelesaikan persoalan kehidupan.

Literasi Digital Harus Berjalan Bersama Adab

Tantangan berikutnya adalah kesenjangan akses teknologi dan kesiapan tenaga pendidik. Menurutnya, penyediaan perangkat digital harus disertai peningkatan kapasitas pengajar agar teknologi benar-benar mendukung proses belajar.

Pesantren dapat membangun laboratorium bersama, menyediakan bahan pembelajaran yang dapat diakses tanpa internet, serta menjalin kerja sama berkelanjutan dengan perguruan tinggi.

Pelatihan bagi pengajar juga perlu diarahkan pada hasil nyata, seperti tersedianya perangkat ajar yang dapat diterapkan dan dievaluasi, bukan sekadar mengejar sertifikat.

Di sisi lain, ruang digital menghadirkan persoalan yang berkaitan dengan etika dan keamanan, mulai dari penyebaran informasi keliru, perundungan, penipuan, hingga kebocoran data pribadi.

Tradisi tabayun atau memeriksa kebenaran informasi perlu diterjemahkan menjadi keterampilan digital. Santri harus terbiasa memeriksa sumber, tanggal, konteks, dan bukti sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi.

Aturan penggunaan gawai di pesantren pun perlu disertai penjelasan, jadwal yang proporsional, serta pendampingan. Santri juga perlu memahami cara melindungi akun digital dan mengetahui langkah yang harus diambil ketika menghadapi persoalan di dunia maya.

Selain penguasaan teknologi, Dr. Siti Amiroch menyoroti pentingnya membangun keberanian santri untuk bertanya dan menyampaikan pendapat.

Penghormatan kepada guru, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan ruang dialog yang sehat. Santri perlu merasa aman ketika belum memahami pelajaran, mengemukakan alasan yang berbeda, atau melaporkan perlakuan yang merugikan.

Karena itu, Pengurus IWAPI Cabang Lamongan 2025-2030 menegaskan pengasuh pesantren perlu menyediakan saluran pengaduan yang jelas dan menindaklanjuti setiap persoalan secara adil.

Lingkungan pendidikan yang aman akan membantu santri tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, kritis, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting agar santri tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya secara bijaksana

Ilmu Santri Harus Memberi Manfaat

Lebih jauh, Pengurus IKASMADA periode 2021–2026 yang berlanjut pada periode 2026–2031. menegaskan bahwa penguasaan ilmu dan teknologi harus bermuara pada pengabdian kepada masyarakat.

Santri dapat mengambil peran melalui kegiatan sederhana, seperti membantu pedagang menyusun pembukuan, mendampingi anak-anak belajar numerasi, atau mengembangkan pemasaran produk pesantren melalui platform digital.

Kegiatan semacam itu mempertemukan pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Keberhasilannya dapat diukur dari manfaat yang dirasakan, seperti pencatatan usaha yang lebih tertib, meningkatnya pemahaman belajar, dan pekerjaan yang menjadi lebih mudah.

Ia juga mengingatkan bahwa pembaruan pesantren tidak harus dilakukan dengan cara yang seragam. Setiap pesantren memiliki kemampuan, kebutuhan, dan karakteristik berbeda sehingga program pengembangan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Kiai, pengajar, orang tua, alumni, perguruan tinggi, dan pemerintah perlu berbagi tanggung jawab untuk memperluas kesempatan belajar santri. Pendampingan yang konsisten akan membantu pesantren mengubah keterbatasan menjadi peluang untuk berkembang.

“Indonesia Emas memerlukan manusia yang mampu berpikir mandiri dan menggunakan ilmunya dengan tanggung jawab. Warisan pesantren akan terus hidup melalui kemampuan menjawab persoalan zaman,” ungkapnya

Ia berharap Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pesantren dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, melek teknologi, dan memiliki kepedulian sosial.

“Ketika santri mampu menguji informasi, menciptakan manfaat, dan menjaga martabat sesama, mereka tidak hanya sedang mempersiapkan masa depan pribadi, tetapi juga mengambil bagian dalam menguatkan negeri menuju Indonesia Emas,” pungkasnya

Reporter: Fathurrahim Syuhadi