Pengajian Jumpa Hadirkan Syeikh Choiri Abdussatar dari Mesir, Ajak Jamaah Kembali kepada Sunnah Rasulullah Saw

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Pengajian Jumat Pagi (JUMPA) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Babat di Masjid At-Taqwa Tanggul, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, kembali berlangsung dengan suasana penuh khidmat. Kajian kali ini menghadirkan Syeikh Choiri Abdussatar, yang berasal dari Mesir dan saat ini mengabdikan diri di Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Paciran. Pengabdian ini atas kerjasama antara Kemenag dan Universitas Al Azhar Mesir, Jumat (18/9/2026)

Dalam pengajian tersebut, Syeikh Choiri mengajak jamaah untuk senantiasa mengawali kehidupan dengan menyampaikan rasa syukur kepada Allah Swt. Menurutnya, nikmat yang diberikan Allah harus menjadi landasan bagi seorang Muslim untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya dan menjalankan ajaran Rasulullah Muhammad Saw.

Materi pengajian kemudian diarahkan pada pembahasan mengenai sunnah Rasulullah, khususnya yang berkaitan dengan akhlak.

“Sunnah yang kita laksanakan hendaknya bersumber dari ajaran Rasulullah. Sumber ajaran Islam antara lain Al-Qur’an dan hadis, serta dalam pengembangan hukum dikenal ijma dan qiyas,” jelas pria yang sudah setahun menetap di Ponpes Al Ishlah ini

Ia menerangkan, sunnah memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim karena menjadi pedoman untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara benar. Rasulullah saw. bukan hanya menyampaikan ajaran melalui perkataan, tetapi juga memberikan teladan melalui perbuatan dan akhlaknya.

Syeikh Choiri mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam melakukan amalan keagamaan. Menurutnya, semangat beribadah harus disertai dengan pemahaman terhadap tuntunan Rasulullah Saw

Ia juga menyampaikan bahwa dalam hadis terdapat peringatan tentang umat Rasulullah yang akan mengalami perpecahan menjadi beberapa golongan. Karena itu, umat Islam diperintahkan untuk berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

“Marilah kita mengikuti sunnah Nabi agar mendapatkan keselamatan dan surga. Jangan sampai kita melakukan amalan yang justru menyebabkan kita mendapatkan siksa,” pesan ayah dari tiga anak ini

Sebagai contoh, Syeikh Choiri menyampaikan hadis tentang tiga orang yang datang kepada Nabi Muhammad Saw. untuk menanyakan ibadah beliau. Setelah mengetahui ibadah Rasulullah, mereka menganggap ibadah mereka masih sedikit. Salah seorang bertekad akan salat sepanjang malam, yang lain akan berpuasa sepanjang waktu, sedangkan yang ketiga tidak akan menikah.

Nabi Saw. kemudian meluruskan sikap tersebut dengan menjelaskan bahwa beliau juga berpuasa dan berbuka, salat dan tidur, serta menikah. “Barang siapa tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut menunjukkan bahwa beribadah kepada Allah harus mengikuti tuntunan Rasulullah saw. dan tidak dilakukan secara berlebihan hingga meninggalkan keseimbangan kehidupan.

Nabi Muhammad Saw. tidak membenarkan sikap berlebihan tersebut. Rasulullah memberikan teladan bahwa kehidupan seorang Muslim harus mengikuti sunnahnya secara seimbang, tidak berlebih-lebihan dan tidak pula meremehkan ibadah.

Selain itu, dalam hadis tentang telaga Nabi (Al-Haudh) juga terdapat peringatan mengenai orang-orang yang akan dihalangi dari telaga beliau karena telah mengubah ajaran setelah Rasulullah saw. wafat. Peringatan tersebut menjadi pelajaran bagi umat Islam agar senantiasa berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta tidak mengambil jalan yang bertentangan dengan tuntunan Rasulullah saw. “Barang siapa mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syeikh Choiri mengajak jamaah JUMPA untuk terus belajar agama dan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw.

“Marilah kita bersama-sama melaksanakan ajaran yang bersumber dari tuntunan Rasulullah. Jangan hanya merasa cukup dengan semangat beribadah, tetapi kita juga harus mengetahui dasar dan tuntunan ibadah tersebut,” ungkapnya.

Pengajian Jumat Pagi (JUMPA) Masjid At-Taqwa Tanggul diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, serta menambah pemahaman keislaman jamaah. Dengan memahami Al-Qur’an dan Sunnah, umat diharapkan mampu menjalani kehidupan beragama dengan ilmu, keteladanan, dan keseimbangan.

Reporter: Fathurrahim Syuhadi