Tim Ekspedisi Patriot Kelompok 8 “Prafita” Petakan Akses Air Aman di Kampung Bowi Subur, Manokwari

Listen to this article

MANOKWARI lintasjatimnews – Upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap air aman di kawasan transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, terus dilakukan melalui pendekatan berbasis data dan partisipasi masyarakat.

Salah satu langkah awal yang telah dilaksanakan adalah survei dan pemetaan wilayah Satuan Permukiman 6 (SP.6) Kampung Bowi Subur, oleh Kelompok 8 Tim Ekspedisi Patriot “Prafita”.

Kegiatan pemetaan dimulai pada 7 Agustus 2026 dan dirancang berlangsung secara bertahap hingga akhir Agustus 2026.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperbarui sekaligus meningkatkan akurasi data mengenai kondisi lingkungan dan layanan dasar masyarakat.

Data hasil pemetaan diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan intervensi, khususnya terkait akses air bersih dan air aman, potensi sumber air, serta kondisi sanitasi berbasis masyarakat.

Pemetaan dilakukan secara mandiri oleh tim dengan memanfaatkan sejumlah perangkat lunak open-source. GPS Essentials digunakan untuk penandaan titik koordinat, KoboToolbox untuk pengumpulan data secara multi-device, sedangkan CalTopo digunakan untuk memasukkan dan mengolah data spasial/GIS.

Kombinasi perangkat tersebut dipilih untuk mendukung akurasi, efisiensi, dan dokumentasi data lapangan.

Dalam pelaksanaan awal, sebanyak 42 rumah dari tiga jalur telah terpetakan. Informasi yang dihimpun mencakup akses air bersih, potensi sumber air, serta kondisi lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

STBM yang dimaksud meliputi: Stop Buang Air Besar Sembarangan; Cuci Tangan Pakai Sabun; Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga; Pengamanan Sampah Rumah Tangga; dan Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga.

Dengan demikian, kegiatan pemetaan tidak hanya menghasilkan data spasial, tetapi juga memberikan gambaran awal kondisi kesehatan lingkungan masyarakat di wilayah sasaran.

Kegiatan pemetaan di Bowi Subur – SP.6 memiliki keterkaitan erat dengan rencana program “Optimalisasi Akses Air Aman bagi Masyarakat di Kawasan Transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat” yang diketuai oleh Sudarmaji, dari Universitas Airlangga, yang beranggotakan lima personil.

Lima personil yang tersebut adalah: Muhammad Rafi Mufti, Titin Noerhalimah, Muhammad Nurriyanto, Zulfa Azzahra Mulia Putri, dan Leonardo Sayuna. Program tersebut dirancang sebagai tindak lanjut implementatif atas kajian dan rekomendasi Transmigrasi Patriot tahun sebelumnya (Tahun 2025).

Persoalan air aman menjadi salah satu prioritas karena sebagian masyarakat di kawasan transmigrasi masih menghadapi keterbatasan layanan air, termasuk ketergantungan pada sumber air permukaan dan sumur dangkal, distribusi perpipaan yang belum merata, serta potensi fluktuasi kuantitas dan kualitas air, terutama pada musim kemarau.

Pendekatan program menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan melalui prinsip Community-Based Development. Masyarakat dilibatkan sejak identifikasi kebutuhan, penentuan lokasi prioritas, pelaksanaan, pengelolaan dan pemeliharaan sarana, hingga monitoring dan evaluasi.

Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat rasa memiliki masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan sarana yang dikembangkan.

Dalam konteks tersebut, hasil pemetaan di Bowi Subur menjadi penting karena menyediakan data lapangan yang lebih aktual mengenai kondisi akses air dan sanitasi.

Data tersebut dapat membantu menentukan prioritas lokasi, mengidentifikasi potensi sumber air, serta menyusun intervensi yang sesuai dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat.

Menariknya, data hasil pemetaan juga memiliki keterkaitan dengan Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT).

Informasi mengenai akses air dan kondisi STBM yang dikumpulkan di tingkat rumah tangga dapat menjadi bagian dari basis informasi kesehatan lingkungan masyarakat Bowi Subur.

Integrasi antara pemetaan spasial, data akses air, sanitasi, dan informasi kesehatan lingkungan membuka peluang terbentuknya basis data yang lebih komprehensif.

Basis data semacam ini penting untuk melihat persoalan secara holistik, bukan hanya dari sisi ketersediaan sumber air, tetapi juga dari aspek kualitas lingkungan dan perilaku sanitasi masyarakat.

Program Optimalisasi Akses Air Aman menempatkan ketersediaan air sebagai bagian penting dari pembangunan kawasan transmigrasi.

Akses air aman tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan domestik, tetapi juga berhubungan dengan kesehatan lingkungan, produktivitas rumah tangga, dan ketahanan pangan.

Terkait ketahanan pangan, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kelompok 8 ini sedang membudidayakan tanaman kelor. Kelorisasi atau pemanfaatan tanaman kelor (Moringa oleifera) mendukung konsep Rumah Pangan Lestari (RPL) melalui penyediaan gizi keluarga dan kemandirian ekologis.

Selain daunnya yang kaya nutrisi, biji kelor berfungsi sebagai koagulan alami untuk menjernihkan air keruh secara mandiri dan ramah lingkungan. Biji kelor mengandung protein bermuatan positif yang bekerja seperti magnet untuk menggumpalkan lumpur, logam berat, dan partikel kotoran di dalam air.

Langkah pemetaan yang telah berlangsung di Bowi Subur SP.6, menunjukkan bahwa pembangunan layanan dasar dapat dimulai dari satu fondasi penting: yakni data yang akurat.

Ketika kondisi akses air, potensi sumber air, dan sanitasi masyarakat telah dipetakan secara sistematis, program pembangunan dapat diarahkan lebih tepat sasaran, efisien, dan sesuai kebutuhan lokal.

Melalui sinergi perguruan tinggi, pemerintah daerah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, pengembangan akses air aman di Kawasan Transmigrasi Prafi, khususnya di SP. 6, diharapkan tidak sekedar menghadirkan infrastruktur, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat untuk mengelola sumber daya air secara mandiri.

Pada akhirnya, upaya tersebut diarahkan untuk mendukung terwujudnya kawasan transmigrasi yang sehat, mandiri, produktif, dan berkelanjutan.

Reporter: winarto