RIAU lintasjatimnews – Setiap perjalanan menuntut ilmu memiliki cerita. Ada perjuangan yang ditempuh dengan kesabaran, pengorbanan yang tidak selalu terlihat, serta doa-doa yang dipanjatkan dalam diam. Sebab, hakikat menuntut ilmu bukan sekadar mengejar ijazah atau gelar akademik, melainkan perjalanan untuk memperluas cakrawala, menajamkan cara berpikir, membentuk kematangan diri, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.
Semangat itulah yang terus tumbuh dalam perjalanan H. Rizki Abdullah, Lc., M.Pd., Al-Hafizh, seorang pendidik, ustaz, pendakwah, dosen, penerjemah, dan akademisi yang hingga kini masih menapaki jalan panjang keilmuan.
Perjalanan akademiknya dimulai dengan menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) di Jāmi‘atul Imām Muḥammad bin Sa‘ūd, Arab Saudi, Program Studi Bahasa Arab, dan memperoleh gelar Lc. (License). Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Magister (S2) Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di STAI Sabili Bandung dan meraih gelar M.Pd.
Perjalanan tersebut belum berhenti. Saat ini, Rizki Abdullah melanjutkan pendidikan pada Program Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.
Bagi Rizki, perjalanan dari Bahasa Arab menuju Pendidikan Agama Islam bukan sekadar perpindahan bidang studi. Lebih dari itu, perjalanan tersebut merupakan proses membangun keterhubungan antara bahasa, ilmu agama, pendidikan, dakwah, dan pengabdian.
Bahasa Arab menjadi salah satu fondasi penting dalam memahami Al-Qur’an, Sunnah, dan khazanah keislaman, sementara Pendidikan Agama Islam menjadi ruang untuk mengembangkan ilmu tersebut agar dapat diterapkan dalam proses pendidikan dan kehidupan masyarakat.
Rangkaian pendidikan tersebut bukan sekadar deretan gelar Lc. dan M.Pd., melainkan perjalanan panjang untuk membentuk cara berpikir sekaligus memperbesar tanggung jawab dalam mengamalkan ilmu.
Ilmu Bukan untuk Berhenti di Diri Sendiri
Bagi Rizki, melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral bukan semata-mata untuk mengejar prestise akademik atau menambah gelar di belakang nama. Lebih dari itu, ada amanah yang ingin dipikul: bagaimana ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
“Bagi saya, pendidikan bukan tentang seberapa banyak gelar yang dapat diraih, tetapi tentang seberapa besar ilmu itu mampu mengubah cara kita berpikir, memperbaiki kualitas diri, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Semakin tinggi seseorang menuntut ilmu, semestinya semakin besar pula tanggung jawab yang dipikulnya,” ujar Rizki Abdullah.
Menurutnya, pendidikan doktoral merupakan fase yang menuntut seseorang semakin dewasa dalam berpikir. Pada jenjang ini, seseorang tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga dituntut mampu membaca persoalan secara mendalam, melakukan penelitian secara sistematis, menguji berbagai gagasan, serta menghadirkan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Proses tersebut membutuhkan ketekunan. Membaca, menelaah, berdiskusi, menulis, melakukan penelitian, menerima kritik, memperbaiki kesalahan, dan kembali belajar merupakan bagian dari perjalanan akademik yang harus dijalani dengan kesabaran.
Namun, justru melalui proses itulah karakter seorang ilmuwan ditempa.
“Ilmu adalah cahaya. Tetapi cahaya akan semakin bermakna ketika mampu menerangi jalan orang lain. Karena itu, saya tidak ingin ilmu yang saya pelajari berhenti sebagai pengetahuan pribadi. Saya ingin ilmu tersebut hadir dalam pendidikan, dakwah, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.
Menyatukan Pendidikan, Dakwah, dan Pengabdian
Dalam perjalanan pengabdiannya, Rizki menjalani berbagai peran sebagai pendidik, ustaz, pendakwah, dosen, penerjemah, dan akademisi. Baginya, setiap peran memiliki ruang pengabdian masing-masing.
Sebagai pendidik, ia berusaha menanamkan ilmu sekaligus membangun karakter. Sebagai ustaz dan pendakwah, ia berupaya menyampaikan pesan-pesan keislaman dengan pendekatan yang mencerahkan. Sebagai dosen dan akademisi, ia terus mengembangkan tradisi berpikir ilmiah dan penelitian. Sementara sebagai penerjemah, ia menjadikan kemampuan bahasa sebagai jembatan agar ilmu dapat menjangkau lebih banyak orang.
Baginya, ilmu tidak seharusnya membuat seseorang semakin jauh dari masyarakat. Sebaliknya, semakin luas ilmu yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk turun memberikan manfaat.
Latar belakang Bahasa Arab yang kemudian dipadukan dengan Pendidikan Agama Islam membuatnya melihat bahwa pendidikan tidak boleh hanya mengejar kecerdasan intelektual. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang memiliki akhlak, adab, integritas, spiritualitas, dan kepedulian sosial.
“Kita tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi generasi yang memiliki akhlak. Kecerdasan tanpa moral dapat kehilangan arah. Sebaliknya, ilmu yang disertai adab akan menjadi kekuatan yang membawa kebaikan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Pendidikan sebagai Jalan Membangun Peradaban
Rizki memandang pendidikan tinggi memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Kampus bukan sekadar tempat mendapatkan ijazah, tetapi ruang untuk melatih seseorang agar mampu berpikir kritis, membaca realitas secara objektif, melakukan penelitian, dan menghadirkan gagasan yang dapat memberikan solusi bagi masyarakat.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, seorang pendidik dituntut untuk tidak pernah berhenti belajar.
Teknologi berkembang, informasi bergerak tanpa batas, dan persoalan masyarakat semakin kompleks. Dalam kondisi tersebut, pendidik harus mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat.
“Berhenti belajar berarti berhenti bertumbuh. Seorang pendidik harus memiliki semangat untuk terus membaca, berdiskusi, meneliti, mengevaluasi diri, dan memperbarui wawasan. Sebab kita tidak mungkin mendidik generasi masa depan dengan cara berpikir yang berhenti di masa lalu,” katanya.
Menurutnya, pendidikan yang ideal bukan hanya melahirkan manusia yang mampu menjawab soal-soal akademik, tetapi juga manusia yang mampu menjawab persoalan kehidupan.
Gelar Bukanlah Akhir
Bagi Rizki, gelar bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan. Justru semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin besar pula amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Lc. yang diperoleh dari jenjang sarjana dan M.Pd. dari jenjang magister bukanlah tujuan akhir. Begitu pula perjalanan menuju doktoral bukan semata-mata untuk mendapatkan gelar berikutnya.
Semua itu adalah bagian dari proses untuk menjadi manusia yang lebih matang dalam berpikir, lebih luas dalam memandang persoalan, dan lebih besar dalam memberikan manfaat.
“Gelar hanyalah identitas akademik. Yang lebih penting adalah apa yang kita lakukan setelah mendapatkannya. Jangan sampai semakin tinggi pendidikan seseorang, tetapi semakin jauh ia dari masyarakat. Semoga ilmu justru menjadikan kita semakin rendah hati, semakin mudah membantu, dan semakin besar keinginan untuk memberikan manfaat,” jelasnya.
Ia meyakini bahwa keberhasilan akademik akan memiliki makna lebih besar apabila mampu membuka jalan bagi orang lain.
Ilmu yang dimiliki dapat menjadi penerang bagi mereka yang belum mengetahui. Pengalaman yang diperoleh dapat menjadi motivasi bagi mereka yang sedang berjuang. Dan keberhasilan yang diraih dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Rizki juga mengajak generasi muda untuk tidak takut memiliki cita-cita besar. Menurutnya, keterbatasan keadaan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.
Perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu mudah. Ada perjuangan, pengorbanan, kegagalan, kelelahan, kritik, bahkan keraguan. Namun, semua itu merupakan bagian dari proses pembentukan diri.
“Jangan takut memiliki cita-cita besar. Jangan merasa bahwa keadaan hari ini menentukan masa depan kita selamanya. Selama ada kemauan untuk belajar, berusaha, berdoa, dan terus memperbaiki diri, insyaallah selalu ada jalan untuk melangkah lebih jauh,” pesannya.
Ia berharap perjalanan akademiknya dapat menjadi motivasi bagi siapa pun yang sedang berjuang menuntut ilmu.
“Saya tidak ingin perjalanan pendidikan ini hanya menjadi cerita tentang diri saya. Saya berharap perjalanan ini dapat menjadi motivasi bagi siapa saja yang sedang berjuang menuntut ilmu. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Selama Allah masih memberikan kesempatan, teruslah berjalan, teruslah membaca, teruslah belajar, dan jangan berhenti memberikan manfaat,” tuturnya.
Dari Ilmu Menuju Cahaya Manfaat
Pada akhirnya, perjalanan H. Rizki Abdullah, Lc., M.Pd., Al-Hafizh menuju jenjang doktoral bukan sekadar tentang meraih pendidikan tertinggi. Ia merupakan ikhtiar untuk memperluas cakrawala, mempertajam nalar, memperdalam keilmuan, memperkuat dakwah, dan memperbesar ruang pengabdian.
Dari ruang akademik menuju ruang masyarakat, dari penelitian menuju pengabdian, dari kajian keilmuan menuju dakwah, ia berharap setiap ilmu yang diperoleh dapat menjadi cahaya yang menerangi jalan orang lain.
Sebab, hakikat ilmu bukanlah membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Ilmu yang sejati justru mengajarkan kerendahan hati, memperluas pandangan, memperindah akhlak, dan menumbuhkan kesadaran bahwa semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberikan manfaat.
Menuntut ilmu adalah perjalanan. Mengamalkannya adalah pengabdian. Menyebarkannya adalah dakwah. Dan menjadikannya manfaat bagi sesama adalah kebermaknaan.
Pada akhirnya, manusia mungkin tidak dikenang karena berapa banyak gelar yang tertulis di belakang namanya, tetapi karena berapa banyak hati yang pernah ia terangi, berapa banyak manusia yang pernah ia bantu, dan berapa banyak kebaikan yang lahir dari ilmu yang ia miliki.
Sebab ilmu yang paling indah bukan hanya ilmu yang membuat seseorang semakin tinggi dalam kedudukan, tetapi ilmu yang membuatnya semakin rendah hati, semakin luas manfaatnya, dan semakin terang cahaya yang dapat ia wariskan kepada generasi setelahnya.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









