Prof. Dr. M. Nurul Humaidi : Syukuri Kemerdekaan dengan Menguatkan Iman dan Menggapai Kebahagiaan Dunia-Akhirat

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. M. Nurul Humaidi, mengisi Pengajian Muhammadiyah Cabang Laren yang digelar di Desa Centini, Kecamatan Laren, Ahad (2/8/2026). Pengajian yang dihadiri lebih dari seribu jamaah tersebut berlangsung penuh khidmat dan menjadi ajang mempererat ukhuwah Islamiyah.

Mengawali tausiyahnya, Prof. Nurul Humaidi mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Swt atas segala nikmat yang telah dianugerahkan. Menurutnya, rasa syukur merupakan kunci bertambahnya nikmat sekaligus menjadi fondasi kebahagiaan hidup.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas hubungan harmonis antara warga Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) di Kecamatan Laren, khususnya di desa Centini. Semangat saling membantu dalam berbagai kegiatan keagamaan maupun kemasyarakatan dinilai sebagai contoh nyata persaudaraan Islam yang perlu terus dipelihara.

“Kepala desanya adalah ketua Ranting Nahdlotul Ulama, sedangkan ketua BPD nya adalah ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Desa Centini. Ini contoh bagus,” ujar dosen UMM ini

Mengaitkan dengan bulan Agustus sebagai momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang itu mengingatkan bahwa kemerdekaan merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri.

“Kemerdekaan yang kita rasakan hari ini adalah hasil perjuangan para pendahulu bangsa. Sudah sepantasnya kita mengisinya dengan amal saleh, memperkuat persatuan, dan meningkatkan kualitas keimanan,” ujarnya.

Nurul Humaidi juga menyinggung peran Ki Bagus Hadikusumo tokoh Muhammadiyah yang ikut merumuskan dasar negara RI. Kini namanya diabadikan menjadi nama masjid Universitas Muhammadiyah Lamongan.

Dalam kajiannya, Prof. Nurul Humaidi mengutip kandungan Surah Al-Baqarah yang menjelaskan bahwa ada manusia yang hanya memohon kenikmatan dunia dalam doanya, tetapi melupakan kehidupan akhirat. Padahal, seorang mukmin diajarkan untuk senantiasa memohon kebaikan di dunia sekaligus kebaikan di akhirat.

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak hanya mengejar kesuksesan materi saja, tapi melupakan akhirat. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, ia menyinggung istilah “STMJ” atau Shalat Terus, Maksiat Jalan Terus sebagai sindiran bagi orang yang rajin beribadah, tetapi belum mampu meninggalkan perbuatan maksiat.

Menurutnya, tanda-tanda kebahagiaan dunia bukan semata-mata diukur dari melimpahnya harta. Rezeki yang halal dan berkah memang merupakan nikmat, tetapi harus disertai hati yang tenang, keluarga yang saleh, kesehatan, kemudahan dalam beribadah, serta kemampuan memanfaatkan setiap karunia Allah untuk kemaslahatan umat.

Sebaliknya, seseorang yang hanya mengejar kenikmatan dunia tanpa memperhatikan kehidupan akhirat akan kehilangan keberkahan hidup. Karena itu, doa yang diajarkan Al-Qur’an, “Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar”, hendaknya menjadi doa yang senantiasa dipanjatkan setiap Muslim.

Pengajian ditutup dengan doa bersama agar Allah Swt memberikan keberkahan bagi bangsa Indonesia, menjaga persatuan umat, serta menganugerahkan kebahagiaan yang hakiki, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Reporter Fathurrahim Syuhadi