Kakanwil Kemenag Jatim Resmikan Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali

Listen to this article

BANYUWANGI lintasjatimnews – Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali yang bertempat di Dusun Krajan 1, Desa/Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, secara resmi diresmikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, pada Kamis, 30 Juli 2026.

​Lembaga pendidikan Al-Qur’an gratis yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 600 meter persegi ini didirikan oleh Keluarga Besar Bani Imam Ghozali pada 11 September 2022. Pendirian rumah tahfidz ini bermula dari niat mulia almarhumah Hj. Sayyidah yang ingin mengajak rekan-rekan seumurannya (usia 50 tahun ke atas) untuk belajar mengaji bersama.

​Ketua Yayasan Assayyidah Al-Ghozali, H. Lukman Hakim, menceritakan bahwa ide tersebut berawal dari belum adanya fasilitas belajar mengaji khusus lansia di wilayah tersebut.

​”Keinginan ini lahir karena memang belum pernah ada tempat belajar mengaji untuk orang yang berumur di atas 50 tahun, rata-rata TPQ untuk anak-anak,” jelas H. Lukman Hakim, Kamis (30/7/2026).

​Awalnya, pengajian hanya diikuti oleh sekitar 5 orang tetangga dan teman dekat almarhumah Hj. Sayyidah. Setahun kemudian, setelah almarhumah wafat, pengelolaan dilanjutkan oleh sembilan saudaranya. Saat itu, jumlah santri lansia telah berkembang menjadi puluhan orang dan mulai menerima santri anak-anak.

​Perkembangan Pesat dan Layanan Serba Gratis

​Memasuki tahun keempat berdirinya, Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali kini menampung 96 santri lansia perempuan (berusia mulai dari 50 hingga 70 tahun lebih) yang berasal dari berbagai desa dan kecamatan sekitar. Selain itu, terdapat 154 santri anak-anak.

​Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, terdapat 13 orang tenaga pendidik, terdiri dari:

​6 Ustazah

​1 Ustaz

​6 Asisten Ustazah

​Jadwal & Metode Pembelajaran:

​Santri Anak-Anak: Belajar setiap hari pada sore dan malam hari.

​Santri Lansia: Belajar setiap hari Sabtu pukul 08.00–12.30 WIB dengan pembagian kelompok:

​Kelompok A: Bagi lansia yang sudah bisa membaca Al-Qur’an.

​Kelompok B: Bagi lansia yang mulai bisa membaca Al-Qur’an.

​Kelompok C: Bagi lansia yang belum bisa membaca Al-Qur’an sama sekali.

Pengelola sekaligus Ustazah Rumah Tahfidz, Nuryatul Mardliyah, mengungkapkan bahwa para santri tidak hanya belajar membaca, tetapi juga menghafal Al-Qur’an. Beberapa santri lansia kini telah menghafal beberapa juz, sedangkan santri anak-anak bahkan ada yang sudah menghafal hingga 25 juz.

​Seluruh kebutuhan operasional, mulai dari honor pengajar hingga makan bagi para santri, ditanggung sepenuhnya secara mandiri oleh keluarga besar almarhumah Hj. Sayyida sehingga seluruh santri belajar secara 100% GRATIS.

​Program Integratif: Kesehatan dan Kepedulian Sosial

​Selain pembelajaran Al-Qur’an, Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali juga memberikan perhatian mendalam pada kesehatan dan kehidupan sosial para santri lansia melalui:

​Pemeriksaan Kesehatan Rutin: Pemeriksaan bulanan serta medical check-up berkala setiap 3 bulan sekali.

​Program Prolanis BPJS Kesehatan: Menggelar kegiatan senam Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) hasil kerja sama dengan BPJS Kesehatan.

​Aksi Sosial Keagamaan: Para santri secara kompak menggelar khotmil Al-Qur’an dan takziyah ke rumah duka warga atau keluarga santri yang meninggal dunia tanpa perlu diminta.

​Dukungan Kemenag Jatim dan Kesan Santri

​Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, menegaskan bahwa keberadaan rumah tahfidz ini sejalan dengan prinsip bahwa menuntut ilmu tidak mengenal batas usia.

​”Jadi Rumah Tahfidz ini sudah sesuai sebagai tempat belajar mulai anak-anak hingga lansia. Jangan merasa malu untuk bisa, untuk belajar, untuk paham. Usia berapapun jangan malu belajar. Kehadiran Rumah Tahfidz ini sesungguhnya adalah upaya untuk menjaga ayat-ayat Allah, kalamullah. Cara terbaik menjaga kalamullah adalah dengan memperbanyak hafiz dan hafizah,” tegas Akhmad Sruji Bahtiar.

​Semangat tinggi juga dirasakan oleh para santri. Nafiah Huda (78), salah satu santri lansia generasi pertama, mengaku kini telah lancar membaca Al-Qur’an.

​”Alhamdulillah sekarang sudah semakin lancar. Saya tidak ingin berhenti, ingin terus mengaji sampai akhir hayat,” ungkap Nafiah.

Reporter : Rio