Amin Thohari, Dari Awal Tidak Niat Kuliah Dikarenakan Kendala Biaya

Listen to this article

PONOROGO lintasjatimnews – Tidak semua perjalanan menuju kesuksesan dimulai dengan mimpi yang besar. Ada kalanya, perjalanan itu justru berawal dari keterbatasan dan keinginan sederhana untuk membantu keluarga. Demikian pula kisah hidup Amin Thohari, A.Md.Kep., S.Pd., S.Kom., M.Pd., seorang pendidik yang menempa dirinya melalui perjuangan panjang, kegagalan, dan semangat pantang menyerah.

Lahir dan dibesarkan di tengah keluarga petani sederhana, Amin sejak kecil terbiasa melihat kedua orang tuanya bekerja keras di sawah. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya tidak pernah bercita-cita menjadi sarjana. Baginya, setelah lulus sekolah menengah pertama, yang terpenting adalah segera bekerja agar dapat membantu perekonomian keluarga.

Keinginan itu begitu kuat hingga saat duduk di kelas II SMP, ia mulai mempersiapkan diri untuk masuk Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Tanpa ada tugas dari guru, ia menghafalkan nama-nama tulang manusia dari kepala hingga ujung kaki. Ia meyakini bahwa menjadi perawat merupakan jalan tercepat untuk memperoleh pekerjaan setelah lulus sekolah.

Namun, kenyataan berkata lain. Ketika lulus SMP, pendaftaran SPK telah ditutup. Harapannya kemudian beralih ke Sekolah Menengah Farmasi (SMF) di Surabaya. Sayangnya, nasib yang sama kembali terjadi. Setibanya di Surabaya, pendaftaran juga telah berakhir.

Kegagalan tersebut mengubah arah hidupnya. Amin akhirnya melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 3 Ponorogo. Karena cita-cita menjadi tenaga kesehatan belum terwujud, ia mulai menaruh perhatian besar pada dunia pertanian. Pelajaran biologi menjadi mata pelajaran favoritnya. Ia mempelajari berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman, memahami gejala kekurangan nutrisi, hingga teknik budidaya yang baik. Saat itu, ia mulai membayangkan masa depannya sebagai petani yang mampu mengembangkan pertanian secara lebih modern.

Selepas lulus SMA, ayahnya menyampaikan sebuah pesan sederhana yang terus membekas dalam ingatannya, “Sekarang kamu sudah lulus sekolah tinggi, maka terapkan ilmu yang kamu peroleh.”

Berbekal pesan itu, Amin memberanikan diri menanam melon, komoditas yang pada tahun 1993 masih tergolong baru dan belum banyak dikenal masyarakat di daerahnya. Penanaman pertama berhasil dengan hasil panen yang memuaskan. Buahnya besar dan berkualitas. Penanaman kedua pun kembali menuai keberhasilan.

Namun keberhasilan itu tidak berlangsung lama. Saat memasuki musim tanam ketiga, cuaca dan iklim berubah drastis. Tanaman gagal panen dan seluruh modal habis. Peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya.

Ia kemudian merenung. Baginya, kegagalan bukan sekadar kerugian materi, melainkan pertanda bahwa dirinya masih harus terus belajar. Dari sanalah muncul tekad untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Dengan dukungan orang tua, Amin mengikuti UMPTN dan memilih Program Studi Teknologi Pertanian serta Teknologi Benih. Sayangnya, ia kembali gagal karena kesalahan dalam pengisian formulir pendaftaran. Meski kecewa, ia tidak menyerah. Ia kemudian mendaftarkan diri di Akademi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan sebagai Ahli Madya Keperawatan.

Masa kuliah menjadi salah satu periode paling berat dalam hidupnya. Saat menjalani praktik klinik di RSU Dr. Saiful Anwar Malang sekaligus menyusun tugas akhir, ia mengalami kesulitan ekonomi yang sangat berat. Uang saku telah habis sehingga ia pulang ke rumah dengan harapan meminta tambahan biaya kuliah, kos, makan, dan penyelesaian skripsi.

Namun sesampainya di rumah, ia melihat tempat penyimpanan gabah hanya tersisa tiga karung, sementara sawah belum memasuki masa panen. Melihat kondisi itu, ia mengurungkan niat untuk meminta uang kepada kedua orang tuanya. Ia tidak tega menambah beban keluarga.

Amin kembali ke Malang hanya dengan membawa uang Rp 5.000. Ongkos perjalanan menghabiskan Rp 4.650 sehingga ia hanya memiliki sisa Rp 350. Jumlah tersebut bahkan tidak cukup untuk membeli seporsi nasi pecel yang saat itu seharga Rp 450 dan segelas teh Rp150.

Selama kurang lebih tiga bulan, ia bertahan dengan makan hanya sekali sehari. Bahkan, satu porsi makanan sering dibagi menjadi dua agar cukup hingga malam. Ketika mendapat giliran jaga sore atau malam di rumah sakit, ia memilih berpuasa agar rasa lapar lebih mudah ditahan. Kesulitan tersebut justru membentuk karakter tangguh sekaligus jiwa organisasinya selama menjadi mahasiswa.

Setelah lulus, Amin bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Ponorogo. Namun semangat belajarnya tidak pernah berhenti. Setelah sekitar tiga tahun bekerja, ia bercita-cita melanjutkan studi magister administrasi rumah sakit. Karena masih berijazah Diploma III, ia harus terlebih dahulu menyelesaikan pendidikan sarjana. Ia memilih kuliah jarak jauh dan berhasil meraih gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Ekonomi Koperasi pada tahun 2002.

Belum lama setelah lulus, kesempatan baru datang. Pemerintah membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Amin mengikuti seleksi dan dinyatakan lulus pada tahun 2002. Sejak saat itu ia mengabdikan diri sebagai guru di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Ponorogo.

Pengabdiannya di dunia pendidikan berlangsung selama lebih dari dua dekade. Di sela-sela tugasnya sebagai guru, ia terus meningkatkan kompetensi akademiknya dengan menyelesaikan pendidikan Magister Pendidikan Agama Islam. Semangat belajarnya juga membawanya meraih gelar Sarjana Komputer sebagai bekal menghadapi perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan.

Setelah 23 tahun mengabdi sebagai guru, pemerintah kembali memberikan amanah kepadanya sebagai kepala sekolah di salah satu SMP negeri di wilayah pinggiran Kabupaten Ponorogo. Amanah tersebut menjadi puncak perjalanan panjang seorang anak petani yang dahulu tidak pernah membayangkan dapat menempuh pendidikan tinggi.

Bagi Amin Thohari, keberhasilan bukanlah hasil dari jalan yang mulus, melainkan buah dari kesabaran, kerja keras, dan keyakinan bahwa setiap kesulitan selalu membuka jalan baru. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh membatasi cita-cita.

Dengan niat yang baik, usaha yang sungguh-sungguh, dan doa yang tidak pernah putus, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya. Itulah prinsip yang terus ia pegang hingga hari ini dan yang diharapkannya dapat menginspirasi generasi muda untuk tidak pernah menyerah dalam mengejar pendidikan dan menggapai impian.

Penulis Fathurrahim Syuhadi