SURABAYA lintasjatimnews – Dalam perjalanan kehidupan, manusia sering kali disibukkan oleh berbagai urusan dunia. Sejak pagi hingga malam, waktu dihabiskan untuk mencari penghidupan, mengejar prestasi, membangun kedudukan, dan meraih berbagai impian yang dianggap sebagai ukuran keberhasilan.
Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar yang diperintahkan dalam Islam. Namun, di tengah kesibukan tersebut, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan: apakah hidup yang kita jalani benar-benar menghadirkan keberkahan? Apakah setiap langkah yang kita tempuh meninggalkan jejak kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain?
Keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dikumpulkan selama hidup, tetapi juga dari nilai manfaat yang ditinggalkan setelah kita tiada. Harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, dan penghargaan yang banyak pada akhirnya akan ditinggalkan. Yang tetap menemani seorang hamba adalah amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu, seorang mukmin hendaknya tidak hanya sibuk membangun kehidupan dunia, tetapi juga membangun bekal untuk kehidupan akhirat.
Keberkahan adalah anugerah yang membuat sesuatu yang sedikit terasa cukup, yang sederhana terasa membahagiakan, dan yang terbatas memberikan manfaat yang luas. Banyak orang memiliki waktu yang sama, tetapi hasilnya berbeda karena keberkahan. Banyak pula yang memperoleh rezeki dalam jumlah yang tidak besar, namun mampu mencukupi kebutuhan, berbagi kepada sesama, dan hidup dengan hati yang tenteram. Itulah salah satu tanda bahwa keberkahan tidak selalu berkaitan dengan jumlah, melainkan dengan kebaikan yang Allah hadirkan di dalamnya.
Demikian pula dengan jejak kehidupan. Setiap manusia sedang menulis kisahnya sendiri melalui sikap, perkataan, dan perbuatannya. Ada yang dikenang karena kebaikannya, ada yang diingat karena ilmunya, dan ada pula yang terus disebut namanya karena akhlaknya yang mulia. Jejak seperti inilah yang seharusnya menjadi tujuan hidup seorang mukmin. Bukan sekadar dikenal banyak orang, tetapi menjadi sebab hadirnya manfaat, kedamaian, dan inspirasi bagi lingkungan di sekitarnya.
Kebaikan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Senyuman yang tulus, menjaga amanah, membantu orang yang sedang kesulitan, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, mendoakan sesama, atau menahan lisan dari perkataan yang menyakiti hati adalah amal-amal sederhana yang memiliki nilai besar di sisi Allah. Ketika dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah, amal tersebut dapat menjadi cahaya yang menerangi kehidupan banyak orang.
Oleh karena itu, marilah kita menjadikan setiap aktivitas sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama. Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita lupa akan tujuan hidup yang sesungguhnya. Kejarlah keberhasilan yang menghadirkan keberkahan, dan tinggalkanlah jejak kebaikan yang akan terus dikenang, bahkan ketika usia telah berakhir. Sebab, kehidupan yang paling berharga bukanlah kehidupan yang dipenuhi pujian manusia, melainkan kehidupan yang diridai Allah dan memberikan manfaat yang terus mengalir bagi sesama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia; dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…” (QS. Al-Qashash [28]: 77)
Penulis Fathurrahim Syuhadi









