SURABAYA lintasjatimnews – Dunia yang kita tempati saat ini bukanlah tempat tinggal yang abadi. Kehidupan di dunia hanyalah persinggahan sementara sebelum manusia kembali menghadap Allah Swt.
Oleh karena itu, setiap perjalanan hidup yang kita lalui sesungguhnya merupakan rangkaian ujian yang telah Allah tetapkan dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Tidak ada satu pun manusia yang terbebas dari ujian, karena melalui ujian itulah kualitas keimanan dan ketakwaan seseorang akan terlihat.
Ujian yang Allah berikan tidak selalu berupa kesedihan, kesulitan, kehilangan, atau penderitaan. Sebaliknya, kenikmatan, kesehatan, kekayaan, jabatan, ilmu, dan keberhasilan juga merupakan bentuk ujian yang tidak kalah beratnya.
Sering kali seseorang mampu bersabar ketika mengalami kesulitan, tetapi belum tentu mampu bersyukur ketika memperoleh kelapangan hidup. Padahal, keduanya sama-sama menjadi sarana bagi Allah untuk menguji hamba-Nya.
Allah ingin mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diterima dan siapa yang justru kufur terhadap karunia-Nya.
Demikian pula, Allah ingin melihat siapa yang tetap bersabar ketika menghadapi musibah serta siapa yang mudah menyerah, mengeluh, bahkan berputus asa ketika cobaan datang menghampiri.
Rasa syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, melainkan diwujudkan melalui ketaatan kepada Allah dan pemanfaatan setiap nikmat untuk hal-hal yang bermanfaat.
Orang yang bersyukur akan menyadari bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan Allah sehingga ia tidak menjadi sombong ataupun lalai. Sebaliknya, kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan tetap berikhtiar dengan hati yang tenang, yakin bahwa setiap kesulitan pasti mengandung hikmah dan akan diikuti kemudahan.
Sebagai orang yang beriman, Allah memerintahkan kita untuk senantiasa bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesempitan. Kedua sikap mulia ini harus disertai dengan tawakal, yaitu menyerahkan sepenuhnya hasil segala usaha kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Tawakal akan menghadirkan ketenangan hati karena seorang mukmin percaya bahwa segala ketentuan Allah adalah yang terbaik, meskipun terkadang tidak sesuai dengan keinginan manusia.
Kehidupan akan terasa lebih ringan ketika kita memandang setiap peristiwa sebagai bagian dari pendidikan Allah kepada hamba-Nya. Musibah mengajarkan keteguhan, sedangkan nikmat mengajarkan kerendahan hati.
Dengan demikian, setiap keadaan menjadi kesempatan untuk semakin dekat kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan memperbaiki kualitas diri.
Marilah kita menjalani kehidupan ini dengan hati yang penuh syukur, kesabaran, dan tawakal. Jangan mudah berputus asa ketika ujian datang, dan jangan pula terlena ketika nikmat melimpah. Ingatlah bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan kehidupan yang kekal adalah akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu bersyukur atas setiap nikmat, bersabar dalam setiap ujian, serta istiqamah di jalan-Nya hingga akhir kehidupan. Amin.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









