Meraih Akhirat Tanpa Melupakan Dunia

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – “Carilah keberkahan dan pahala untuk di akhirat, namun tetap berusaha meraih kebaikan di dunia. Berbuatlah baik sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan jauhilah segala kerusakan di muka bumi.”

Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan. Seorang muslim tidak diperintahkan untuk hanya mengejar kehidupan dunia hingga melupakan akhirat, dan tidak pula dianjurkan meninggalkan urusan dunia dengan alasan beribadah semata. Keduanya harus berjalan beriringan sehingga tercipta kehidupan yang harmonis, penuh manfaat, dan diridhai Allah Swt.

Prinsip keseimbangan ini tercermin dalam firman Allah Swt dalam Surah Al-Qashash ayat 77 “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”

Ayat ini mengajarkan bahwa segala nikmat yang diberikan Allah, baik berupa ilmu, harta, kesehatan, jabatan, maupun kesempatan hidup, hendaknya digunakan sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan akhirat. Namun demikian, manusia juga diperbolehkan menikmati kehidupan dunia secara wajar dan bertanggung jawab.

Seorang petani yang bekerja dengan jujur, guru yang mengajar dengan ikhlas, pedagang yang amanah, atau pemimpin yang adil, semuanya sedang mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat. Islam tidak memisahkan antara ibadah ritual dan aktivitas sosial. Keduanya dapat menjadi jalan menuju ridha Allah.

Dalam ayat yang sama, Allah juga memerintahkan “Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”

Kebaikan Allah kepada manusia tidak terhitung jumlahnya. Udara yang kita hirup, kesehatan, keluarga, rezeki, dan kesempatan hidup merupakan bukti kasih sayang-Nya. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut untuk membalas nikmat tersebut dengan berbuat baik kepada sesama.

Kebaikan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti membantu orang yang membutuhkan, menghormati orang tua, menyantuni anak yatim, menjaga silaturahmi, memberikan ilmu yang bermanfaat, serta menjaga kejujuran dalam setiap urusan. Semakin banyak kebaikan yang ditebar, semakin besar pula manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.

Selain memerintahkan berbuat baik, Allah juga melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi. Kerusakan tidak hanya berupa perusakan lingkungan, tetapi juga mencakup perilaku yang merugikan orang lain, seperti korupsi, fitnah, kebohongan, permusuhan, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai bentuk kemaksiatan.

Seorang muslim yang baik harus menjadi bagian dari solusi, bukan sumber masalah. Ia hadir untuk membawa kedamaian, menjaga persatuan, melestarikan lingkungan, dan menciptakan kemaslahatan bagi kehidupan bersama.

Orang yang berhasil adalah mereka yang mampu menjadikan dunia sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai tujuan utama kehidupannya. Dengan demikian, ia memperoleh kebahagiaan di dunia sekaligus keselamatan di akhirat.

Kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Karena itu, setiap muslim hendaknya menjadikan seluruh potensi dan nikmat yang dimiliki sebagai jalan untuk meraih ridha Allah. Carilah keberkahan dan pahala untuk akhirat, namun jangan melupakan tanggung jawab dan kebaikan di dunia. Berbuat baiklah kepada sesama sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita, serta jauhilah segala bentuk kerusakan di muka bumi.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar. Aamiin.

Penulis Fathurrahim Syuhadi