LAMONGSN LintasJatimNews – Memasuki masa purna tugas tidak berarti berhenti berkarya. Justru, masa pensiun dapat menjadi babak baru kehidupan yang lebih bermakna, sehat, mandiri, dan produktif. Pesan itulah yang mengemuka dalam kegiatan “Gathering Prapensiun” yang diselenggarakan oleh Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Lamongan pada Selasa (9/6/2026) di Hall Dapur Lamongan.
Dalam kesempatan tersebut, seorang dokter dari RSUD Dokter Soegiri Lamongan, Dokter Imama Khalis Nur Arifah menyampaikan materi bertajuk “Pensiun Bahagia: Bugar, Mandiri, Produktif, dan Sejahtera di Usia Senja.” Materi ini memberikan bekal kepada para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang akan memasuki masa pensiun agar mampu menjalani masa lanjut usia dengan kualitas hidup yang baik.
Dalam paparannya dijelaskan bahwa memasuki usia 60 tahun ke atas, seseorang akan mengalami proses penuaan biologis, psikologis, dan sosial yang ditandai dengan menurunnya berbagai fungsi tubuh. Namun demikian, menjadi tua adalah sesuatu yang pasti, sedangkan menjadi lansia yang berkualitas, sehat, dan produktif merupakan pilihan yang dapat diupayakan, jelasnya.
Lebih lanjut, Dokter Imama menguraikan berbagai perubahan fisiologis yang umum dialami lansia, mulai dari berkurangnya fungsi gigi dan rongga mulut, menurunnya kemampuan sistem pencernaan, gangguan fleksibilitas paru-paru, pengerasan pembuluh darah, berkurangnya massa tulang, hingga penurunan fungsi penglihatan dan pendengaran. Perubahan tersebut perlu dipahami sejak dini agar dapat diantisipasi melalui pola hidup sehat.
Selain perubahan fisik, peserta juga diingatkan tentang pentingnya menjaga kesehatan mental. Lansia rentan mengalami depresi yang ditandai dengan hilangnya semangat hidup, menurunnya aktivitas, gangguan tidur, kehilangan nafsu makan, hingga perasaan pesimis yang berkepanjangan. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat memicu berbagai penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes melitus, stroke, jantung koroner, hingga demensia, papar Dokter Imama
Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, pemateri menekankan pentingnya menjaga tiga pilar utama kebugaran lansia, yakni kesehatan fisik, kesehatan mental, dan koneksi sosial. Ketiga aspek tersebut harus berjalan beriringan agar seseorang tetap mandiri dan memiliki kualitas hidup yang baik di masa pensiun.
Melalui pendekatan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), peserta diajak untuk membiasakan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari melalui jalan kaki, senam, yoga, peregangan, berenang, maupun berkebun. Selain itu, lansia juga dianjurkan memperbanyak konsumsi sayur dan buah, mencukupi kebutuhan protein dan air putih, serta membatasi konsumsi gula dan lemak.
Pemateri juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala. Pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, lingkar perut, serta pemeriksaan laboratorium dianjurkan dilakukan sedikitnya setiap enam bulan sekali sebagai langkah deteksi dini berbagai penyakit.
Dalam sesi tersebut diperkenalkan pula konsep “BAHAGIA” sebagai panduan hidup sehat bagi calon pensiunan. Akronim tersebut meliputi: Berat badan berlebih dihindari, Agar tetap beraktivitas positif, Hindari faktor risiko penyakit, Aturlah makan dengan seimbang, Gerak badan teratur, Iman dan takwa ditingkatkan, serta Awasi kesehatan dengan pemeriksaan rutin.
Tidak hanya menyoroti aspek kesehatan, materi juga mengajak peserta untuk tetap produktif setelah memasuki masa purna tugas. Salah satu peluang yang diperkenalkan adalah budidaya ternak rumahan sebagai aktivitas yang dapat menjaga kebugaran fisik sekaligus menambah pendapatan keluarga.
Menurut pemateri, usaha peternakan skala rumah tangga seperti ayam petelur, ayam pedaging, burung puyuh, kambing, maupun domba dapat menjadi pilihan yang menjanjikan apabila dikelola dengan baik. Selain memanfaatkan waktu luang, kegiatan tersebut juga dapat menjaga kesehatan mental karena memberikan aktivitas yang terarah dan produktif.
Pada akhir sesi, peserta diajak untuk memandang masa pensiun sebagai momentum emas untuk menikmati kehidupan yang lebih berkualitas. Dengan menjaga kesehatan, memperkuat spiritualitas, membangun relasi sosial yang positif, dan tetap berkarya sesuai kemampuan, para pensiunan diharapkan mampu menjadi lansia yang bugar, mandiri, bahagia, dan sejahtera.
“Pensiun bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan awal dari babak kehidupan baru yang dapat dijalani dengan sehat, bermakna, dan penuh kebahagiaan,” menjadi pesan utama yang mengakhiri paparan dalam Gathering Prapensiun tersebut.
Kontributor: M.Said









