SURABAYA lintasjatimnews – Dalam perjalanan hidup, hampir setiap orang pernah merasakan lelah. Lelah menghadapi pekerjaan yang tak kunjung selesai, lelah memikirkan kebutuhan keluarga, lelah menghadapi masalah yang datang silih berganti. Tidak jarang kelelahan itu berubah menjadi keluh kesah, bahkan membuat seseorang hampir berputus asa.
Mengapa kita selalu merasa lelah? Karena hidup memang merupakan medan perjuangan. Allah Swt tidak menjanjikan kehidupan yang bebas dari ujian. Justru melalui ujian itulah kualitas iman, kesabaran, dan keteguhan seorang hamba ditempa.
Allah Swt berfirman “Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 155).
Ayat ini menunjukkan bahwa kesulitan dan kelelahan merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Namun yang menjadi persoalan bukanlah adanya ujian, melainkan bagaimana kita menyikapinya.
Sering kali kita berkeluh kesah karena terlalu fokus pada beratnya masalah dan lupa melihat besarnya pertolongan Allah. Kita menghitung kesulitan satu per satu, tetapi tidak menghitung nikmat yang masih Allah berikan setiap hari. Kita mengingat kegagalan yang baru terjadi, tetapi melupakan ratusan keberhasilan yang pernah Allah anugerahkan.
Lebih dari itu, ada kalanya kita hampir berputus asa karena merasa perjuangan tidak membuahkan hasil. Padahal Allah telah mengingatkan “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).
Putus asa adalah jebakan yang membuat seseorang berhenti melangkah sebelum sampai pada tujuan. Banyak orang gagal bukan karena kurang mampu, tetapi karena menyerah terlalu cepat.
Menariknya, di tengah segala kesibukan dan kelelahan hidup, Allah Swt selalu mengirimkan pesan motivasi kepada kita setiap hari melalui lantunan azan. Ketika muazin menyerukan “Hayya ‘alash shalaah” (Mari menuju salat) dan “Hayya ‘alal falaah” (Mari menuju kemenangan),
sesungguhnya Allah sedang mengingatkan bahwa jalan menuju kemenangan tidaklah jauh.
Kemenangan yang dicari manusia sering kali dianggap berada pada jabatan tinggi, kekayaan melimpah, atau pengakuan banyak orang. Padahal Allah menunjukkan bahwa kemenangan sejati dimulai dari kedekatan seorang hamba kepada-Nya.
Jarak kemenangan itu ternyata sangat dekat. Hanya berkisar antara kening dan sajadah. Ketika seseorang meletakkan keningnya di atas sajadah dengan penuh keikhlasan, di situlah ia sedang mendekat kepada sumber kekuatan yang tidak pernah habis.
Rasulullah Saw bersabda
“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud.” (HR. Muslim).
Sujud bukan hanya gerakan fisik, tetapi juga simbol kepasrahan total kepada Allah. Saat bersujud, seorang hamba menyerahkan segala beban, kegelisahan, ketakutan, dan harapannya kepada Sang Pencipta. Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan menjauh dari sajadah. Ketika hati mulai letih, jangan tinggalkan salat. Ketika masalah terasa menghimpit, jangan putus hubungan dengan Allah.
Ingatlah, tidak ada lelah yang sia-sia di hadapan Allah.
Setiap tetes keringat yang diiringi keikhlasan akan bernilai ibadah. Setiap air mata kesabaran akan menjadi pahala. Setiap langkah menuju kebaikan akan dicatat sebagai amal. Teruslah melangkah menuju ridha Allah. Jangan berhenti hanya karena jalan terasa panjang. Jangan menyerah hanya karena hasil belum tampak. Allah melihat perjuangan yang mungkin tidak dilihat manusia.
Percayalah, jika kita tetap istiqamah dalam ibadah, sabar dalam ujian, dan teguh dalam ketaatan, maka Allah akan mengubah lelah menjadi berkah, mengubah kesulitan menjadi kemudahan, dan mengubah air mata perjuangan menjadi senyuman kemenangan.
Sebab sesungguhnya, kemenangan itu tidak jauh. Ia hanya berjarak antara kening yang bersujud dan sajadah yang menjadi saksi kedekatan kita dengan Allah Swt
Penulis Fathurrahim Syuhadi









